Dosen dan peneliti sosiologi gender UM, Dr. Anggaunitakiranantika, S.Sos., M.Sosio., (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Peran perempuan dalam industri Indonesia terus menguat seiring terbukanya akses pendidikan, teknologi dan kesempatan kerja. Dari sektor manufaktur, ekonomi kreatif, hingga usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), perempuan kini tidak hanya hadir sebagai pelaku, tetapi juga sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan pada Februari 2024 mencapai 55,41 persen. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya dan menunjukkan semakin banyak perempuan yang terlibat dalam aktivitas ekonomi, baik sebagai pekerja profesional, pelaku usaha, maupun penggerak sektor kreatif.
Dosen dan peneliti sosiologi gender UM, Dr. Anggaunitakiranantika, S.Sos., M.Sosio., menilai peningkatan ini berkaitan erat dengan modernisasi serta tumbuhnya kesadaran perempuan untuk mandiri secara ekonomi.
“Dengan adanya modernisasi, keterlibatan dan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja jumlahnya naik. Perempuan melihat bahwa tidak hanya laki-laki yang membutuhkan uang.”
“Perempuan juga mulai menyadari bahwa memiliki penghasilan dari hasil kerja sendiri memberikan kemandirian dan kesempatan untuk mengembangkan karier,” ujarnya kepada Tim Humas UM, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, manfaat dari meningkatnya partisipasi perempuan sangat besar, terutama bagi perekonomian keluarga dan pembangunan nasional. Ketika perempuan memiliki ruang yang setara di dunia kerja, daya beli masyarakat meningkat, inovasi bertambah, dan industri menjadi lebih inklusif.
Peran perempuan dalam industri juga bukan hal baru. Sejak masa kolonial, perempuan telah terlibat dalam sektor manufaktur, mulai dari tekstil, pengolahan tembakau, hingga industri padat karya lainnya.
Hingga kini, kontribusi itu terus berlanjut. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjukkan sekitar 64,5 persen pelaku UMKM di Indonesia adalah perempuan. Fakta ini menegaskan bahwa perempuan menjadi salah satu penopang utama ekonomi kerakyatan.
Memasuki era Revolusi Industri 4.0, peluang perempuan semakin luas. Perkembangan teknologi digital membuka ruang bagi perempuan untuk masuk ke sektor berbasis pengetahuan, termasuk bidang STEM (science, technology, engineering, and mathematics). Perempuan kini semakin banyak berperan sebagai peneliti, insinyur, pengembang teknologi, hingga inovator.
Dr. Angga menegaskan bahwa pendidikan menjadi kunci utama untuk memperbesar partisipasi perempuan di sektor industri.
“Dengan adanya pendidikan yang semakin berkualitas dan akses yang semakin baik untuk perempuan, maka akan semakin memungkinkan perempuan memiliki partisipasi yang lebih besar di dalam sektor industri, baik secara nasional maupun global,” jelasnya.
Meski demikian, tantangan masih ada. Perempuan masih menghadapi kesenjangan upah, keterbatasan representasi dalam posisi kepemimpinan, serta stereotip yang membatasi pilihan karier. Karena itu, menurut Dr. Angga, perubahan tidak cukup hanya melalui kebijakan formal, tetapi juga harus dibarengi perubahan cara pandang masyarakat.
“Yang harus diperhatikan dari level paling bawah adalah, sudahkah perempuan diberi haknya? Hak dalam pendidikan, kesehatan, dan kesempatan yang sama. Karena dari pemenuhan hak inilah ketidakadilan dan ketimpangan bisa dikurangi,” tegasnya.
Ia menambahkan, setiap individu memiliki hak yang sama untuk mengembangkan bakat dan minat tanpa dibatasi oleh konstruksi sosial. Industri Indonesia yang ideal, kata dia, adalah industri yang memberi kesempatan setara berdasarkan kompetensi, bukan jenis kelamin.
Pandangan itu sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-5 tentang kesetaraan gender dan tujuan ke-8 tentang pekerjaan layak serta pertumbuhan ekonomi. Keterlibatan perempuan di sektor industri tidak hanya memperkuat daya saing nasional, tetapi juga mendorong pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Dr. Angga juga berpesan kepada generasi muda, terutama mahasiswa, agar terus meningkatkan kapasitas diri dan berani mengambil ruang dalam sektor strategis.
“Tetap belajar, tetap bergerak, dan jangan berhenti untuk berusaha. Karena kalau kita tidak melakukan pembuktian, masyarakat itu akan terus menjadi stagnan. Padahal tidak ada masyarakat yang benar-benar diam, semuanya terus berubah,” pesannya.
Kemajuan industri Indonesia, pada akhirnya, tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan investasi, tetapi juga oleh sejauh mana semua sumber daya manusia, termasuk perempuan, memperoleh kesempatan yang adil untuk berkembang. Dengan membuka ruang yang setara, industri nasional dapat tumbuh lebih kuat, lebih inovatif, dan lebih berdaya saing. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




