PAWANG SINGO: General Manager Arema FC, Muhammad Yusrinal Fitriandi. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Manajemen Arema FC, secara resmi menegaskan komitmen moralnya untuk tidak lepas tangan, membantu mencarikan klub baru bagi para mantan pemainnya yang terdepak dari skuad menjelang bergulirnya kompetisi Super League 2026/2027. Kebijakan proteksi karier pesepak bola profesional ini ditegaskan langsung oleh General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, menyusul rampungnya evaluasi tim yang resmi melepas empat talenta asli Malang, termasuk striker senior Dedik Setiawan dan bek muda Achmad Figo.
Sepak bola profesional itu bisnis yang dingin. Kadang kejam. Kontrak habis, evaluasi minus, lalu nama Anda dicoret dari daftar skuad. Habis manis sepah dibuang. Begitulah lumrahnya.
Tapi Arema FC ingin memilih jalan yang berbeda. Lebih humanis.
Manajemen Singo Edan menegaskan tidak akan cuci tangan begitu saja kepada para pemain yang dilepas pada bursa transfer musim ini. Klub berkomitmen penuh membantu mantan penggawanya mendapatkan pelabuhan baru.
“Kami pasti akan membantu mereka untuk menemukan klub baru apabila mereka mengalami kesulitan,” ujar General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, beberapa waktu lalu.
Pria yang akrab disapa Inal itu paham betul. Berburu klub baru di tengah bursa transfer yang singkat itu rumitnya minta ampun. Khususnya bagi daun muda. Mereka butuh jaringan luas. Banyak dari pemain muda ini yang belum akrab dengan keliaran jasa agen atau pihak ketiga.
Maka, Arema bertindak sebagai jembatan. Memberikan surat rekomendasi. Membuka jalur komunikasi jika ada klub lain yang membutuhkan kriteria pemain eks Singo Edan.

Kepedulian ini bukan barang baru di Malang. Sudah berjalan beberapa musim terakhir. Contohnya sukses: Hamzah Titofani dan Achmad Figo. Saat tenaganya belum terpakai di Arema, mereka dijembatani hingga bisa merumput di Liga 2. Bahkan Figo sempat mencicipi jam terbang bersama PSS Sleman.
Kini, Arema memang sedang berbenah total demi target tinggi musim depan. Evaluasi besar digulirkan. Korban dinamika taktik pun berjatuhan.
Sampai kemarin sore, tercatat ada empat putra daerah asli Malang yang resmi tidak melanjutkan kerja sama. Daftarnya mengejutkan: Dedik Setiawan, Achmad Figo, Shulton Fajar, dan Bayu Aji.
Banyak Aremania yang sempat cemas. Mengapa talenta lokal justru dibuang?
Inal buru-buru menenangkan. Baginya, roda regenerasi di bumi Arema tidak akan pernah macet. Setiap musim, pasokan darah muda dari Akademi Arema selalu mengalir. Ada yang promosi, ada yang magang di tim senior. Contoh terbarunya: penyerang belia Dimas Aryaguna.
Bagi pria asal Bogor ini, Malang adalah kawah candradimuka sepak bola nasional. Kiblatnya produsen pemain potensial. Sifatnya mandiri dan rutin menelurkan bakat baru setiap tahun. Sumbernya melimpah. Bukan cuma dari Kota Malang, tapi menyebar dari Kabupaten Malang, Kota Batu, hingga kompetisi internal Askab dan Askot PSSI setempat.
“Ada banyak talenta lokal, jadi kami tidak terlalu khawatir dalam proses mencarinya,” tegas Inal santai.
Namun, Inal mengunci satu prinsip: Arema tidak ingin sekadar mengoleksi pemain karena status asli Malang. Kualitas individu dan pembuktian di atas lapangan tetap menjadi menu penilaian utama.
Manajemen memilih tidak mau terburu-buru berburu suksesor Dedik cs. Tim pelatih masih menghitung komposisi taktis yang pas.
Menjadi bagian dari Arema FC memang adalah mimpi tertinggi bagi hampir seluruh anak kecil yang menendang bola di Malang Raya. Gelandang jangkar Arema, Jayus Hariono, mengakui kebanggaan magis itu.
“Pastinya jadi kebanggaan tersendiri bisa bermain di sini,” tutur Jayus. Apalagi dalam perjalanan kariernya, Jayus sudah sukses mengawinkan dua trofi juara Piala Presiden, yakni edisi 2019 dan 2022. Sebuah pembuktian bahwa talenta lokal bisa jadi raja di rumah sendiri.
Bursa transfer masih bergulir liar. Empat nama lokal sudah angkat koper, namun jaminan manajemen untuk mengawal karier mereka membuktikan bahwa Singo Edan tetap menjaga marwah persaudaraan. Kita tunggu saja, siapa singa muda asli Malang berikutnya yang akan mengaum di Stadion Kanjuruhan musim depan. (Ra Indrata)




