Anggota Dewan Komisaris OJK, Adi Budiarso, menyampaikan sambutan dalam peluncuran program ERP dan Inklusi Keuangan Sektor Peternak Sapi Perah di KAN Jabung. (Foto: Eka Nurcahyo/Malang Post)
MALANG POST – Pandemi penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang ternak sapi perah pada tahun 2022, benar-benar membuat terpuruk Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung di Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Tidak hanya populasi sapi perah yang merosot tajam, tetapi produksi susu dan anggotanya menurun drastis.
Menurut Presiden Direktur (Presdir) KAN Jabung, Eva Marlianti, tahun 2022 dampak dari wabah PMK itu, produksi susu sapi perah di Jabung menurun dari 75 ton per hari menjadi 35 ton per hari. Populasi sapi yang semula 11.500 ekor, tinggal 7.500 ekor.
“Sapi-sapi yang berproduksi sebelumnya 7.500 ekor, saat itu tinggal 5.000 ekor. Anggota kami juga demikian. Sebelumnya 50 persen anggota kami anggota kecil, menjadi 80 persen anggota kecil. Kami perkirakan statistik kami saat itu mengalami kemunduran seperti tahun 2016,” jelas Eva.
Namun Eva bersyukur, KAN Jabung perlahan bangkit, seiring pengembangan berbagai inovasi yang berkolaborasi dengan para investor dan lembaga pembiayaan serta dukungan dari pemerintah, baik pusat, Jatim dan Kabupaten Malang.
“Seperti dalam peluncuran program ERP (Enterprise Resource Planning) dan Inklusi Keuangan) saat ini, semuanya hadir. Orkestrasi kalau kami simpulkan dari OJK bilang, dan kami terapkan dalam skala kecil di sini. Dan alhamdulillah, dukungan itu berkembang,” ungkapnya.
Bahkan sejak beberapa tahun ini, KAN Jabung melakukan perubahan strategi untuk mensupport para anggota. Kalau sebelumnya salah satunya melalui pembiayaan, namun beberapa tahun ini melakukan perubahan model pembiayaan. Anggota yang mempunyai kapasitas diberi pembiayaan lewat internal, yaitu BPRS.
Sedang anggota berkapasitas kecil yang terdampak PMK, KAN menerapkan program yang pernah dilakukan sekitar 30 tahun lalu. Yaitu, sistem gaduh. Sharing-nya ada yang berupa produksi susu, 20 persen investor dan 80 persen peternak. Juga ada sistem, yaitu investor dapat 2 ekor sapi setara saat gaduh dalam kurun 4 tahun.

Anggota Dewan Komisaris OJK, Adi Budiarso, memberi keterangan pers. Dia didampingi Sekdaprov Jatim, Plh Kepala OJK Jatim dan Kepala OJK Malang serta Presdir KAN Jabung.
Terkait digitalisasi bagi peternak sapi perah, termasuk penerapan program ERP, menurut Eva, semua anggota KAN Jabung sebanyak 2.300 sudah masuk di program ERP.
Hadir dalam peluncuran program ERP dan Inklusi Keuangan Sektor Peternak Sapi Perah di KAN Jabung, Kamis (11/6/2026) adalah Dubes Swiss untuk Indonesia, Olivier Zehnder, dan Leontinus Alpha Edison, Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM), Simrin Singh adalah Direktur Kantor Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) untuk Indonesia dan Timor-Leste.
Juga Adi Budiarso, KepaIa Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto, merangkap anggota dewan Komisaris OJK, Sekdaprov Jatim, Adhy Karyono, Bupati Malang, HM Sanusi, Plh Kepala OJK Jatim, Horas V.M. Tarihoran, serta Kepala OJK Malang, Farid Faletehan. Para manajer/ketua KUD Susu, GKSI, industri jasa keuangan (perbankan) dan perwakilan peternak sapi perah juga diundang.
Sekdaprov Jatim, Adhy Karyono, menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Jatim sangat bagus, yaitu 5,96 persen. Adhy juga bercerita bahwa Jatim sebagai lambung pangan. Padi, jagung, dan tebu, Jatim berkontribusi dalam swasembada nasional.
Demikian juga sapi. Termasuk sapi perah. Sebanyak 60 persen berada di Jatim. Dan 85 persen produksi susu nasional berasal dari Jatim. Ini di luar impor. Dan Malang adalah sentra produksinya.
“Kami tidak ingin produksi susu terganggu. Seperti wabah PMK benar-benar menjadi prioritas kami. Bahkan sampai saat ini pun, untuk mengatasi PMK masih kami anggarkan. Intinya kami ingin menyejahterakan petani, peternak,” ungkap Adhy.
Sementara Adi Budiarso, mengatakan bahwa kredit UMKM saat ini menjadi perhatian OJK. Dan ini akan terus ditingkatkan. Kini OJK telah memberikan izin kepada 8 pemeringkat kredit alternatif dan 17 agregasi jasa keuangan.
Terkait penyaluran kredit untuk sapi perah di Jatim kini sudah mencapai Rp 1,2 T. Atau 25 persen dari kredit untuk sektor pertanian.
Farid Faletehan Kepala OJK Malang menyampaikan bahwa program ERP ini merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat akses pembiayaan dan memperluas inklusi keuangan bagi pelaku UMKM di Indonesia melalui pendekatan ekosistem rantai nilai dan transformasi digital.
Lewat program ini, seluruh data pelaku UMKM, petani dan peternak yang mengajukan kredit pembiayaan, akan dapat diketahui. Sehingga pihak lembaga pemberi kredit, akan mengetahui berapa besar kredit yang akan disetujui. (Eka Nurcahyo)




