MALANG POST – Persikoba Kota Batu gagal mengamankan poin penuh setelah ditahan imbang 0-0, oleh Persigar Garut dalam laga perdana Babak 32 Besar Liga 4 Piala Presiden 2026 Putaran Nasional di Stadion Brantas, Kota Batu, pada Rabu (10/6/2026) sore. Hasil kacamata ini terjadi akibat buruknya koordinasi lini tengah dan adanya faktor mental gugup para pemain tuan rumah, sehingga membuat peta persaingan di Grup W kini masih sama kuat.
Main di kandang sendiri. Di hadapan publik sendiri. Harusnya menang.
Tapi itulah sepak bola. Teori di atas kertas sering kali meleset di atas rumput.
Persikoba Kota Batu harus puas berbagi angka. Skornya kacamata: 0-0. Lawannya: Persigar Garut. Laga perdana Babak 32 Besar Liga 4 Piala Presiden 2026 Putaran Nasional ini ternyata berjalan di luar skenario.
Untung grup ini adil. Pada pertandingan sebelumnya, Persepam Pamekasan dan Persemay Maybrat juga bermain imbang. Skornya sama: 0-0.
Maka, konstelasi Grup W masih terbuka lebar. Empat tim sama-sama mengoleksi satu poin. Belum ada yang berkuasa.
Padahal, Laskar Elang Putih turun dengan komposisi terbaik. Sejak peluit pertama berbunyi, anak asuh Arif Suyono justru tampil terlalu hati-hati. Terkesan ragu. Sebaliknya, Persigar Garut yang ditangani Asep Angga langsung mengambil inisiatif. Mereka menekan lebih dulu.
Tempo permainan sebenarnya tinggi. Tapi miskin peluang bersih. Pertahanan kedua tim sama-sama kokoh. Sampai turun minum, papan skor tidak berubah. Masih kosong-kosong.

HASIL IMBANG: Pertandingan pertama babak 32 besar antara Persikoba Kota Batu melawan Persigar Garut berakhir imbang tanpa gol. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Memasuki babak kedua, Persikoba mencoba bangkit. Intensitas serangan dinaikkan. Tapi, entah mengapa, justru koordinasi permainan mereka yang longgar.
Malah Persigar yang lebih sering mengancam. Tim dari Jawa Barat itu berulang kali menembus barisan belakang tuan rumah. Peluang emas tercipta beruntun.
Untung Persikoba punya Fahad. Penjaga gawang ini tampil tangguh. Berkali-kali dia menyelamatkan gawang dari kebobolan. Disiplin lini belakang juga patut diacungi jempol. Kalau tidak, ceritanya akan lain.
Sepanjang paruh kedua, praktis Persikoba digempur. Mereka dipaksa bertahan total. Sulit mengembangkan permainan. Beruntung, sampai wasit Putra Zulfahmi meniup peluit panjang, gawang tuan rumah aman. Satu poin berhasil diselamatkan.
Pelatih Persikoba, Arif Suyono, jujur mengakui jalannya laga di luar prediksinya. Mantan penyerang Timnas Indonesia itu bersyukur timnya tidak kalah.
“Saya bersyukur dengan hasil hari ini. Pertandingan jauh dari perkiraan saya. Sejak babak pertama sampai babak kedua kami banyak tertekan,” ujar Arif usai pertandingan.
Sebagai mantan pemain top, Arif tahu betul penyakit timnya. Masalahnya ada di sektor tengah. Mesin permainan tidak jalan.
“Lapangan tengah menjadi masalah kami. Biasanya kontrol bola dan permainan berjalan normal. Tapi hari ini pemain seperti terburu-buru,” katanya. Bola mudah hilang. Alur serangan putus di tengah jalan.
Bukan hanya teknik. Arif juga menyoroti mental. Ini yang bikin dia heran.
Persikoba ini bukan tim kemarin sore. Mereka sudah melewati fase regional. Sudah bertarung di Babak 64 Besar Nasional. Sekarang sudah menembus 32 Besar. Jam terbang harusnya sudah ada.
Tapi, penyakit lama itu muncul lagi: gugup. Demam panggung.
“Mungkin karena ini laga pertama. Tapi saya lihat pemain masih seperti nervous. Ini yang akan menjadi catatan evaluasi kami,” tegas pelatih yang akrab disapa Genesa itu.
Arif tidak mau buang waktu. Evaluasi individu segera dilakukan. Penyegaran komposisi pemain menjadi harga mati untuk menghadapi laga kedua melawan Persepam Pamekasan. Beberapa nama baru disiapkan masuk starting eleven. Perlu energi segar.
Waktu yang tersedia sangat mepet. “Recovery dua hari ini akan kami maksimalkan. Ada beberapa pemain yang kemungkinan kami rombak dengan pemain yang lebih fresh,” tambahnya.
Arif mengingatkan anak asuhnya. Babak 32 Besar ini kejam. Jauh lebih ketat dari fase sebelumnya. Yang lolos ke sini adalah tim-tim terbaik yang sudah tersaring ketat dari Babak 64 Besar Nasional. Tidak ada tim lemah.
Dia pun sudah mengintip kekuatan calon lawan. Arif sempat mencermati laga antara Persepam dan Persimay. Kesimpulannya: berbahaya.
“Saya melihat Persepam dan Persimay sama-sama bagus dan agresif. Itu akan menjadi perhatian kami untuk pertandingan berikutnya,” pungkas Arif.
Ujian sesungguhnya baru saja dimulai. Di laga kedua nanti, tidak boleh lagi ada kata gugup. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




