Peserta AITF Sedang Mengikuti Workshop. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) 2026 hasil kolaborasi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dengan Universitas Brawijaya (UB) menunjukkan progres signifikan di Batch 2 tahun 2026.
Para peserta saat ini mengikuti Workshop 3 yang berlangsung selama dua hari, awal pekan ini di Auditorium Algoritma, Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UB untuk menyelesaikan dua studi kasus strategis nasional.
Workshop diikuti puluhan mahasiswa peserta AITF yang selama beberapa bulan terakhir mengembangkan berbagai proyek kecerdasan artifisial melalui kolaborasi antara UB, Komdigi, KemenSos, serta Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Ketua Pelaksana AITF 2026 di UB, Sabriansyah Rizqika Akbar, Senin (8/6/2026) menjelaskan bahwa fokus utama workshop ini adalah pengembangan solusi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk dua sektor penting.
- Use Case Sekolah Rakyat – Membuat fitur berbasis AI untuk memudahkan proses pembelajaran.
- Pemetaan Kemiskinan– Mengembangkan sistem pemetaan kemiskinan berbasis AI.
“Workshop 3 menjadi fase krusial karena peserta mulai memasuki tahap penyempurnaan solusi menjelang Demo Day dan di targetkan rampung pada akhir bulan, tepatnya 29–30 Juni 2026.
Saat ini progres pengerjaan telah mencapai 75 persen.
“Selama dua hari ini, kami berusaha mengejar ketertinggalan atau menyelesaikan hal-hal yang belum rampung,” ujarnya.
“Diharapkan progres ini bisa selesai. Sekaligus, pada tanggal tersebut akan digelar Workshop 4 untuk menyelesaikan semuanya secara keseluruhan, bersamaan dengan Graduation Day,” jelasnya.

Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital BPSDM Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Said Mirza Pahlevi. (Foto: Istimewa)
Disatu sisi, Untuk produk yang telah dirilis pada Batch 1 tahun lalu, Sabriansyah menyebut salah satu pencapaiannya adalah model AI untuk mengantisipasi judi online. Model tersebut telah diluncurkan di platform Hugging Face sebagai repositori model AI berbasis cloud.
“Model untuk antisipasi judi online itu sudah bisa digunakan. Kami sedang menunggu kabar baik karena proses implementasi di lingkungan Komdigi sedang berlangsung,” ungkapnya.
Meski demikian, model masih memerlukan uji coba tambahan sebelum digunakan secara langsung. “Kami perlu melihat scalability dan reliability dari hasil keluaran AI yang dihasilkan,” tegasnya.
Sabriansyah juga menjelaskan bahwa pihaknya mempelajari karakteristik domain-domain acak yang sering digunakan situs judi online.
“Kami mencoba melihat pattern di domain-domain ini. Kami mempelajari karakteristik website atau aplikasi yang memiliki pola khas judi online, lalu berusaha memfilternya,” paparnya.
Wakil Dekan Bidang Akademik FILKOM UB tersebut juga menegaskan bahwa program AITF tidak sekadar memanfaatkan model AI yang sudah ada, tetapi juga membangun kemandirian di level nasional.
“Kami ingin berdikari. Agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada model yang ada saat ini. Kami membuat model yang spesifik untuk menyelesaikan permasalahan tertentu,”.
Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital BPSDM Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Said Mirza Pahlevi, menyampaikan kegiatan tersebut merupakan tahapan lanjutan dari pelaksanaan AITF Batch sekaligus menjadi momentum penting untuk memastikan setiap tim mampu menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, AITF bukan sekadar program pengembangan kemampuan teknologi, tetapi juga wadah untuk melahirkan solusi yang dapat digunakan pemerintah dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik.
“Workshop ini merupakan workshop ketiga untuk Batch 2 AITF di Universitas Brawijaya dan menjadi workshop pertama pada tahun 2026. Kami berharap melalui program ini lahir berbagai inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat melalui pemanfaatan kecerdasan buatan,” ujarnya.
Mirza menegaskan dalam pelaksanaan AITF tahun ini terdapat sejumlah studi kasus yang menjadi perhatian pemerintah. Salah satu yang paling penting adalah pengembangan solusi untuk mendukung implementasi program Sekolah Rakyat serta sistem bantuan sosial yang lebih tepat sasaran.
Ia mengatakan kedua use case tersebut saat ini sangat dinantikan karena memiliki dampak langsung terhadap masyarakat. Oleh karena itu, hasil pengembangan para peserta akan menjadi bahan evaluasi penting bagi berbagai kementerian terkait.
“Program AITF dari Komdigi maupun universitas bertujuan menjembatani lahirnya inovasi untuk pelayanan kepada masyarakat. Khusus di Universitas Brawijaya, peserta sedang menyelesaikan use case yang sangat penting terkait Sekolah Rakyat dan bantuan sosial. Kedua use case ini sangat ditunggu hasilnya,” katanya.
Mirza mengatakan hasil pekerjaan mahasiswa akan dipresentasikan dalam agenda Demo Day yang dijadwalkan berlangsung pada 29–30 Juni 2026.
Kegiatan tersebut direncanakan dihadiri oleh sejumlah menteri dan pemangku kepentingan nasional. Bahkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga akan dilibatkan dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, Demo Day akan menjadi ajang pembuktian kualitas solusi yang dikembangkan mahasiswa selama mengikuti AITF. Oleh sebab itu, seluruh peserta didorong untuk memanfaatkan waktu yang tersisa untuk menyempurnakan sistem yang sedang dibangun.
Ia menambahkan bahwa solusi yang dihasilkan berpotensi menjadi fondasi awal pengembangan sistem digital untuk mendukung program Sekolah Rakyat maupun penyaluran bantuan sosial di tingkat nasional.
Apabila berhasil, inovasi tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut pada program AITF berikutnya dan diperkenalkan kepada kementerian terkait sebagai solusi yang siap diimplementasikan. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




