LARIS: Inilah varian produk Medium MPV global terbaru, BYD M6 DM (Dual Mode), yang sudah 'mejeng' di Haka Auto Suprapto Kota Malang. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
MALANG POST – Jaringan diler resmi BYD Haka Suprapto Malang, kebanjiran puluhan surat pemesanan kendaraan (SPK) untuk produk Medium MPV global terbaru, BYD M6 DM (Dual Mode), meski harga resmi untuk area lokal masih berstatus estimasi. Internal Trainer BYD Haka Suprapto, Hamdan Afif, mengungkapkan pada Senin (8/6/2026) bahwa lonjakan minat konsumen Malang Raya ini dipicu oleh radikalnya teknologi Plug-in Hybrid generasi kelima (5.0) berkekuatan “DM GASS” yang dibanderol sangat kompetitif mulai Rp 310 juta hingga Rp 390 juta.
Pasar mobil keluarga di Indonesia, khususnya di Malang Raya, sedang bersiap menghadapi gempa tektonik baru. Sang pemimpin pasar konvensional harus mulai pasang kuda-kuda. Harus mulai waspada.
Sebab, produsen otomotif raksasa asal Tiongkok, BYD, tidak sedang main-main.
Setelah sukses besar meluncurkan produk global teranyarnya di Jakarta pertengahan Mei lalu, efek domino langsung menggelinding ke daerah.
Tepatnya di diler resmi BYD Haka Suprapto, Kota Malang. Di bawah bendera Haka Group.
Ada barang baru yang mereka bawa. Barang yang membalikkan logika berpikir kita selama ini. Namanya: BYD M6 DM.
Selama ini, kita sudah mengenal mobil hybrid konvensional. Mobil dua mesin. Tapi pada sistem lama itu, mesin bensin tetap menjadi panglima utama penggerak roda.

ANDALAN: Grafik pesanan M6 DM di Haka Auto Suprapto, terus naik. Tampak sales counter Haka Auto, saat memberikan informasi terkait keandalan MPV terbaru kepada pelanggan. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
Motor listriknya? Cuma pembantu. Hanya sesekali ikut mendorong kalau mobil kehabisan napas.
BYD membalik logika lama itu 180 derajat. Habis.
Mereka memakai filosofi baru: electric-first. Di perut mobil BYD M6 DM ini, motor listrik adalah panglima tertingginya. Dialah penggerak utama roda depan.
Lalu, apa fungsi mesin bensin 4-silinder berkapasitas 1.498 cc yang tertanam di bawah kapnya? Tugasnya “hanya” menjadi buruh penyedia daya.
Mesin bensin itu bekerja sebagai pabrik generator mini untuk memproduksi listrik ke baterai. Atau, sesekali saja membantu mendorong roda saat mobil dipacu dalam kecepatan super tinggi di jalan tol.
Melalui transmisi Dedicated Hybrid Transmission (DHT), bauran ini menghasilkan tenaga gabungan sebesar 160 hp dan torsi 210 Nm. Dahsyat.
Efek di lapangan? Luar biasa. Kabin menjadi sangat senyap. Akselerasi instan tanpa jeda khas mobil listrik murni (BEV). Dan ini yang paling disukai emak-emak: tingkat keiritan bahan bakarnya bikin dahi berkerut tidak percaya.
BYD menjuluki karakter mobil ini dengan jargon “DM GASS”. Akronim dari: Gesit, Andal, Senyap, dan Super Irit.
Mari kita hitung efisiensi energinya. Ini bagian yang paling menyenangkan bagi dompet.
BYD mengklaim, dalam pengujian tertentu, konsumsi bahan bakar MPV bongsor ini mampu menembus angka gila: 65 kilometer untuk setiap satu liternya!
Bayangkan. Sebuah mobil keluarga yang panjang, lebar, dan berat, tingkat konsumsi BBM-nya justru jauh lebih irit ketimbang mayoritas sepeda motor skutik cc kecil yang berseliweran di celah kemacetan Jalan Raden Intan atau dinas harian di Malang.
Bagaimana kalau tangki bensinnya diisi penuh dan baterai listriknya di-cas sampai penuh? Jarak jelajah gabungannya diklaim mampu menyentuh angka fantastis: 1.300 kilometer.
Jarak itu setara dengan Anda menyetir dari Jakarta menuju Surabaya, lalu putar balik lagi ke Jakarta. Dan sisa energinya masih cukup untuk jalan-jalan keliling Malang Raya. Semua itu dilakukan tanpa perlu mampir ke SPBU satu kali pun!
Ajaib? Tidak. Itulah teknologi Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) generasi kelima. Mobil ini menjadi musuh bersama SPBU sekaligus SPKLU.
Konsumen dibebaskan dari penyakit cemas kehabisan baterai (charging anxiety).
Pengguna bisa mengisi bensin di SPBU layaknya mobil biasa, tapi juga punya kemewahan untuk mengecas dayanya menggunakan colokan listrik di rumah.
Saat baterai terisi penuh, mobil bisa dipaksa berjalan 100 persen menggunakan EV Mode (mode listrik murni). Jarak tempuhnya bisa mencapai 100 kilometer lebih sebelum mesin bensinnya mulai berisik menyala. Bensin tidak berkurang setetes pun selama rute harian itu.
Otak komputer di dalam BYD M6 DM ini menyediakan tiga pilihan mode berkendara yang bisa berpindah secara otomatis demi efisiensi: EV Mode (murni baterai), HEV Series (mesin bensin jadi generator), dan HEV Parallel (mode perang, mesin dan listrik bahu-membahu gerakkan roda).
Dampak teknologi masuk akal ini langsung terasa di lantai diler BYD Haka Suprapto Malang. Grafik pemesanan langsung bergerak naik.
Internal Trainer BYD Haka Suprapto, Hamdan Afif, tampak semringah. Senyumnya lebar saat ditemui Senin (8/6/2026) hari ini.
Meskipun saat ini harga untuk OTR Malang sebenarnya masih dalam tahap estimasi resmi, konsumen Malang ternyata sangat adaptif. Mereka tidak mau kehilangan momentum.
Sudah ada puluhan daftar pemesan atau SPK yang masuk mengantre di diler Jalan Supriadi tersebut.
“Kami melihat antusiasme konsumen sangat besar. Teknologi Dual Mode 5.0 memberikan efisiensi luar biasa, pengalaman berkendara khas kendaraan listrik, namun tetap praktis untuk penggunaan jarak jauh. Ini solusi baru bagi keluarga modern,” ujar Hamdan Afif.
Apalagi, BYD M6 DM ini masuk ke segmen gurih: Medium MPV keluarga. Pilihannya banyak, ada 5 varian utama yang disiapkan: Classic Standard (7 kursi), Classic Dynamic (7 kursi), Cross Advanced (7 kursi), Cross Superior (7 kursi), hingga yang paling mewah Cross Captain Seat (6 kursi dengan konfigurasi baris kedua terpisah).
Rentang harganya? Ini yang bikin runtuh iman pemilik mobil konvensional. Ditawarkan sangat kompetitif, berkisar antara Rp 310 Juta hingga Rp 390 Juta saja tergantung varian.
Angka ini menjadi magnet raksasa bagi konsumen di Malang Raya yang ingin mencicipi teknologi elektrifikasi tapi masih takut nekat bepergian jauh karena minimnya infrastruktur charging station di jalur luar kota.
Sebagai seorang Internal Trainer di diler yang bernaung di bawah Haka Group itu, tugas Afif memang tidak ringan.
Dia adalah poros utama yang memastikan seluruh staf penjualan (sales) maupun tim teknis (aftersales) paham luar dalam soal teknologi Blade Battery milik BYD yang terkenal aman itu.
Tantangan terbesarnya, kata Afif, adalah urusan isi kepala. Mengubah mindset.
“Mengalihkan kebiasaan masyarakat dari kendaraan konvensional berbasis BBM ke kendaraan listrik berbasis baterai memerlukan proses edukasi yang runtut. Kami harus menjelaskan dengan bahasa yang sederhana namun ilmiah,” cerita Afif.
Dulu, saat BYD pertama kali mengenalkan lini listrik murninya—seperti BYD Dolphin yang lincah untuk kota, BYD Atto 3 untuk SUV keluarga, dan sedan premium BYD Seal—masyarakat Malang sempat skeptis. Banyak yang ragu soal ketahanan baterai.
Tapi setelah diler rajin menggelar edukasi masif dan memberikan kesempatan test drive langsung, keraguan itu luntur. Warga Malang sadar, mobil listrik itu murah biaya operasionalnya.
Kini, dengan hadirnya varian M6 DM sebagai pelengkap strategis, lini jualan BYD Haka Suprapto makin kokoh. Konsumen yang belum berani pindah total ke listrik murni, kini punya jembatan darurat bernama Dual Mode.
Target Haka Group ke depan sudah jelas. Mereka ingin menjadi pionir sekaligus rujukan utama masyarakat Malang dalam bertransisi menuju mobilitas ramah lingkungan.
Pelayanan purnajual (aftersales) terus diperluas demi kenyamanan pengguna di Jawa Timur.
Pasar otomotif Malang sedang bergeser. Dan BYD M6 DM tampaknya sukses menjadi mesin pendorong utamanya dari diler Suprapto. (Ra Indrata)




