MALANG POST – Para peternak sapi perah di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu kini bisa bernapas lega, setelah harga jual susu sapi segar di tingkat peternak, resmi merangkak naik dari Rp7.600 menjadi Rp8.000 per liter sejak dua bulan terakhir. Kenaikan harga sebesar Rp400 per liter yang bersumber dari insentif industri pengolahan susu (IPS) ini, diumumkan langsung oleh Ketua Koperasi Margo Makmur Mandiri, Muhammad Munir, pada Minggu (7/6/2026), di tengah stabilnya produksi harian dusun yang mencapai 10 ribu liter dari populasi 2.500 ekor sapi.
Ini kisah tentang sebuah dusun di lereng gunung yang sangat unik di Kota Batu. Namanya: Dusun Brau. Masuk wilayah Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji.
Mengapa unik?
Di dusun ini, jumlah manusianya kalah telak oleh jumlah sapi. Penduduk lokalnya cuma ada sekitar 700 jiwa. Tapi jangan tanya jumlah sapi perahnya: ada 2.500 ekor!
Berarti, satu warga bisa memegang kendali atas tiga sampai empat ekor sapi. Luar biasa. Maka jangan heran kalau Dusun Brau, sejak dulu menjadi salah satu kantong utama penghasil susu segar di Kota Batu.
Kabar baiknya: ada angin segar berembus dari lereng gunung itu. Sejak dua bulan terakhir, para peternak di sana mulai bisa tersenyum. Senyum yang agak lebar.
Penyebabnya jelas: harga susu sapi segar naik. Dulu, per liter hanya dihargai Rp7.600. Sekarang melonjak menjadi Rp8.000 per liter.

NAIK HARGA: Harga susu sapi dari peternak mengalami kenaikan sebesar Rp400, membuat peternak sumringah. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Naik Rp400. Kelihatannya kecil? Jangan salah hitung. Bagi peternak, tambahan Rp400 per liter itu sangat berarti. Angka itu bisa menjadi penyelamat di tengah melambungnya biaya pakan dan perawatan ternak yang terus menyesuaikan diri beberapa tahun terakhir.
Dari mana asal tambahan uang itu?
Rupanya itu uang insentif. Diberikan oleh Industri Pengolahan Susu (IPS) skala nasional. Uang itu mengalir lewat koperasi lokal di sana: Koperasi Margo Makmur Mandiri.
Ketua koperasinya bernama Muhammad Munir. Orangnya lurus. Munir tidak mau menahan uang itu di laci koperasi. Semua tambahan harga dari pabrik langsung diteruskan ke kantong peternak anggota.
“Memang harusnya seperti itu. Kita ingin bikin peternak itu bisa senyum,” ujar Munir, Minggu (7/6/2026) kemarin.
Hebatnya lagi, di saat harga jual membaik, produksi susu di Dusun Brau tidak memble. Tetap stabil. Saban hari, ribuan puting sapi di sana diperas dan menghasilkan sekitar 10 ribu liter susu segar yang murni dan berkualitas.
Ke mana larinya susu sebanyak itu?
Mayoritas langsung diserap oleh raksasa industri pengolahan susu nasional. Sebanyak 90 persen produksi susu peternak Brau dikirim langsung ke PT Greenfields. Jaminan pasar yang sangat aman.
Tapi peternak Brau tidak mau sekadar jadi buruh pemerah susu. Mereka punya otak bisnis yang cerdas. Mereka mulai melirik dunia hilirisasi.

Sisa 10 persen produksi susu yang tidak dikirim ke Greenfields diolah sendiri oleh warga melalui koperasi. Hasilnya luar biasa. Susu segar itu disulap menjadi produk olahan bernilai tambah tinggi: susu pasteurisasi hingga keju mozzarella.
Tengok saja bisnis keju mereka. Dalam satu minggu, koperasi membutuhkan sekitar 2.000 liter susu segar. Dari jumlah itu, mereka berhasil memproduksi kurang lebih 280 kilogram keju mozzarella yang kenyal dan gurih itu.
Pasarnya? Ini yang bikin angkat topi.
Keju mozzarella buatan wong ndeso dari Dusun Brau ini ternyata sudah tidak level lagi jago kandang di Malang Raya. Permintaannya meledak. “Khusus keju mozzarella dari Dusun Brau ini pemasarannya sudah tembus pasar Jawa-Bali,” kata Munir dengan nada bangga.
Ini sebuah lompatan paradigma ekonomi yang cantik di tingkat desa. Peternak sapi di Kota Batu terbukti tidak lagi bertumpu pada penjualan bahan baku mentah yang harganya sering dipermainkan. Mereka sudah mulai bergerak menuju industrialisasi skala kampung.
Kenaikan harga susu dari pabrik yang dibarengi dengan cerdasnya hilirisasi produk olahan keju jelas menjadi resep paten. Dusun Brau bukan lagi sekadar kampung yang padat populasi sapi, melainkan sudah menjelma jadi kampung susu andalan yang mandiri.
Dari Brau kita belajar: jika peternak dibikin tersenyum, ekonomi desa akan ikut tertawa. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




