MULAI PETUALANGAN: Bupati Sanusi saat mengibarkan bendera start, sebagai penanda dimulainya Offroad dan bakti sosial, dari Pendopo Agung Kabupaten Malang. (Foto: Prokopim Sekda Kab. Malang)
MALANG POST – Bupati Malang, HM. Sanusi, memimpin langsung aksi trabas medan ekstrem sejauh 45 kilometer menggunakan kendaraan offroad 4×4 dari Pendopo Agung Kabupaten Malang menuju Pondok Pesantren Al-Aziz, Desa Amandanom, Kecamatan Dampit, Sabtu (6/6/2026) siang. Kegiatan yang dikemas bersama bakti sosial ini, sengaja digelar untuk mengeksplorasi sekaligus mempromosikan potensi wisata alam minat khusus di wilayah Malang Selatan.
Acaranya siang sampai petang. Hari Sabtu kemarin. Tempatnya di Desa Amandanom, Kecamatan Dampit. Judulnya mentereng: Offroad dan Bakti Sosial.
Inisiatornya luar biasa. Sebuah lembaga keagamaan: Pondok Pesantren Al-Aziz.
Bupati Malang, HM Sanusi, tidak mau hanya duduk diam di balik meja. Dia datang. Dia ikut menyumbang. Bahkan, dia ikut naik mobil berpenggerak 4×4. Sanusi menjajal langsung setir dan mesin di medan yang berat.
Bupati tidak sendirian. Gerbong pemerintahannya ikut bergerak. Terlihat Wakil Ketua III DPRD Kabupaten Malang Sudarman, dan Sekretaris Daerah Budiar Anwar. Termasuk seluruh kepala perangkat daerah dan para camat se-Kabupaten Malang. Komplit.
Sebelum bendera start dikibarkan, Sanusi menyerahkan donasi. Ini bentuk konkret dukungan untuk baksos Pesantren Al-Aziz.

MENANTANG: Inilah sebagian lajur offroad yang dilalui peserta dalam even Offroad dan Bakti Sosial, sepanjang 45 kilometer. (Foto: Prokopim Sekda Kab. Malang)
Sinergi ini rupanya menular ke dunia usaha. PT Bagong Dekaka Makmur ikut turun tangan. Bank Jatim tidak mau ketinggalan. Mereka memberikan bantuan sosial untuk masyarakat.
Sebuah kolaborasi yang cantik: pemerintah, pesantren, swasta, dan perbankan. Gotong royong gaya baru.
Sanusi angkat topi. Dia memberikan apresiasi tinggi kepada Pondok Pesantren Al-Aziz. Jarang ada pesantren yang menginisiasi kegiatan se-dinamis ini. Memadukan aksi sosial, kebersamaan, sekaligus promosi daerah.
“Kegiatan bakti sosial seperti ini merupakan wujud kepedulian dan semangat gotong royong yang harus terus kita jaga,” ujar Sanusi. Dia memuji keberanian pesantren mempromosikan wisata alam lewat hobi otomotif.
Begitu dilepas dari Pendopo Agung Kabupaten Malang, raungan mesin 4×4 langsung memecah keheningan. Rombongan bergerak menuju pesantren di Amandanom. Jalurnya? Jangan ditanya.
Total jaraknya 45 kilometer. Rutenya membelah tiga kecamatan sekaligus: Dampit, Wajak, dan Tirtoyudo.
Medannya komplit. Ada panorama pedesaan yang asri. Ada kawasan hutan jati dengan lintasan berkelok tajam. Ada pula hamparan kebun tebu yang luas menghijau.
Tapi yang paling menantang tentu saja urusan teknis lapangan: tanjakan ekstrem, turunan curam, dan jalur berbatu yang tidak ramah pada ban biasa. Kemampuan kendaraan dan ketangkasan pengemudi benar-benar diuji habis-habisan di sini.
Bagi Pemkab Malang, ini bukan sekadar urusan hobi otomotif atau gaya-gayaan. Ini taktik promosi. Pemerintah daerah ingin jalur-jalur ekstrem yang mereka lewati bisa dilirik pecinta petualangan. Menjadi destinasi wisata minat khusus.
Ujung-ujungnya jelas: ekonomi warga lokal harus ikut terangkat.
Maka, kolaborasi model begini tidak boleh berhenti di sini. Sanusi menegaskan, kerja sama antara pemerintah, pesantren, komunitas, dan dunia usaha harus terus dipertegas.
“Melalui bakti sosial ini, kita ingin menumbuhkan kepedulian terhadap sesama sekaligus memperkenalkan kekayaan alam Kabupaten Malang,” pungkas Sanusi sebelum mengakhiri obrolan. (PKP/Ra Indrata)




