PEREKONOMIAN: Deputi Kepala Perwakilan BI Malang, Abidin Abdul Haris, didampingi Chief Executive Officer AstraPay, Rina Apriana, saat berbincang dengan jurnalis di Malang. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
MALANG POST – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang mencatat lonjakan luar biasa pada sektor keuangan digital, di mana volume transaksi digital di wilayah Malang Raya, Pasuruan dan Probolinggo, menembus angka 99 juta transaksi dengan nilai perputaran uang mencapai Rp7,7 triliun sepanjang Januari hingga April 2026. Data mencengangkan ini dibeberkan langsung oleh Deputi Kepala Perwakilan BI Malang, Abidin Abdul Haris, di sela perayaan Hari Ulang Tahun ke-6 AstraPay di Malang, Sabtu (6/6/2026) siang, guna mendorong jutaan UMKM lokal segera melakukan migrasi total ke ekosistem pembayaran digital seperti QRIS.
Zaman dulu, kalau dompet ketinggalan di rumah, kita bisa panik setengah mati. Sekarang? Santai saja. Asalkan gawai alias smartphone masih melingkar di genggaman tangan.
Ke mana-mana tinggal pindai. Tinggal klik. Bayar. Beres.
Masyarakat kita sudah candu digital. Sudah betul-betul melek teknologi. Saban hari, kalau mata belum menatap layar ponsel, rasanya ada yang kurang dalam hidup.
Fenomena ini bukan sekadar tebakan visual. Datanya sahih. Riil. Keluar langsung dari kantong data Bank Indonesia.
Tengok saja angka nasional ini. Sepanjang Januari hingga April 2026, volume transaksi digital se-Indonesia sudah menyentuh angka 7,8 triliun transaksi. Nilainya? Bikin geleng-geleng kepala: Rp700 triliun!
Angka volume itu melompat tiga digit. Naik 114 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Sungguh masif.
Bagaimana dengan Malang?
Ini yang menarik. Deputi Kepala Perwakilan BI Malang, Abidin Abdul Haris, membuka datanya akhir pekan lalu. Tepatnya saat menghadiri ulang tahun ke-6 AstraPay di Malang, Sabtu (6/6/2026).
Di hadapan Chief Executive Officer AstraPay, Rina Apriana dan para pelaku usaha, Abidin tersenyum. Sektor regionalnya—yang mencakup tujuh wilayah kerja: Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu, Kabupaten-Kota Pasuruan, serta Kabupaten-Kota Probolinggo—ternyata bergerak lebih gila lagi.
Bayangkan. Dalam empat bulan pertama tahun ini, terjadi 99 juta transaksi digital di wilayah kerja BI Malang. Nilai uang yang berputar di sana mencapai Rp7,7 triliun.
Skala kota memang terlihat kecil dibanding nasional. Tapi lihat laju pertumbuhannya. Volume transaksi digital di Malang Raya dan sekitarnya itu meroket hingga 170-an persen.
Sedangkan nilai transaksinya melonjak 121 persen. Bahkan jika ditarik khusus untuk nilai transaksi murni di Kota Malang dari tahun ke tahun, kenaikannya mencapai 97 persen.
Maka, wajar jika BI Malang girang ketika industri seperti AstraPay ikut merangsek ke Malang. Apalagi platform ini sudah terintegrasi total dengan mekanisme QRIS. Klop.
Bagi BI Malang, kehadiran dompet digital bukan cuma soal merayakan ulang tahun atau memotong tumpeng. Ada misi besar di sana: menyelamatkan dan membesarkan UMKM.
Mari kita lihat peta makronya. Secara nasional, jumlah unit usaha UMKM kita itu raksasa. Lebih dari 59 juta unit usaha. Mereka ini pahlawan riil ekonomi kita. Mampu menyerap 97 persen tenaga kerja nasional. Kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional di atas 60 persen.
Di wilayah kerja BI Malang sendiri, tercatat ada lebih dari 900 unit usaha UMKM yang masuk radar pembinaan. Potensinya raksasa.
Digitalisasi dan UMKM itu seperti dua sisi mata uang. Tidak bisa lagi dipisahkan. Titik.
Tapi jalurnya tidak boleh instan. BI Malang tidak mau UMKM sekadar bisa gaya-gayaan memakai QRIS untuk menerima duit pembayaran. “Bukan hanya masalah transaksi lebih cepat, mudah, murah, aman, dan andal,” kata Abidin Abdul Haris.
Ada efek domino yang jauh lebih esensial: penataan finansial.
Selama ini, penyakit kronis UMKM adalah pembukuan yang awut-awutan. Uang belanja dapur dan uang modal dagang sering campur aduk. Nah, dengan sistem digital, semua transaksi tercatat otomatis. Rapi. Valid.
Kalau pencatatan keuangannya sudah rapi, bank akan tersenyum. Lembaga keuangan akan sangat mudah melakukan analisis risiko. Dampaknya? Akses pembiayaan dan modal usaha akan terbuka lebar bagi UMKM. Mereka bisa naik kelas.
Tentu, jalannya tidak selalu mulus. Ada tantangan besar yang mengintai di balik layar ponsel: risiko digital. Mulai dari penipuan, kejahatan siber, hingga salah transfer.
Maka dari itu, BI Malang kini rajin menggelar program pendampingan. Mulai dari konsep onboarding UMKM ke platform digital, hingga suntikan edukasi yang tiada henti.
Literasi digital masyarakat harus dipaksa naik. Biar tahu cara menggunakan layanan digital dengan baik, benar, dan aman. Agar mitigasi risiko berjalan sejak dari pikiran konsumen.
Ujung dari semua kerja keras ini adalah ekonomi yang inklusif. Ekonomi yang merata, yang berkelanjutan, yang bisa dirasakan sampai ke warung-warung kecil di pelosok Malang.
Kolaborasi antara regulator, industri seperti AstraPay, pelaku usaha, dan media massa harus terus dipertebal. Sinergi gotong royong ini modal utamanya. (Ra Indrata)




