Misbahuddin Azzuhri Saat Memberikan Pengenalan TUGUNIAGA di Depan UMKM di Malang. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Di tengah pesatnya pertumbuhan jumlah UMKM di Jatim dan di Kota Malang, tantangan peningkatan kualitas sumber daya manusia masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Banyak pelaku usaha yang telah mampu bertahan dan berkembang secara ekonomi. Namun belum didukung oleh kemampuan manajerial, literasi digital, serta sistem pembelajaran usaha yang berkelanjutan.
Menjawab tantangan tersebut, tim pengabdian Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) yang dipimpin oleh Misbahuddin Azzuhri, S.E., M.M., Ph.D., CPHR., CSP menelurkan gagasan.
Yaitu, menginisiasi program TUGUNIAGA (Tugu Niaga Berdaya) sebagai model penguatan kapasitas SDM UMKM berbasis komunitas bersama Perumda Tunas Malang.
Program pengabdian ini merupakan bentuk kolaborasi strategis antara FEB UB dan Perumda Tunas Malang dalam membangun ekosistem pemberdayaan UMKM.
Tidak hanya berorientasi pada peningkatan keterampilan usaha. Tetapi juga mendorong terbentuknya komunitas belajar.
Hingga mampu menjadi ruang berbagi pengalaman, inovasi, dan kolaborasi antar pelaku usaha.
Melalui program TUGUNIAGA, tim pengabdian mengembangkan pendekatan pemberdayaan berbasis komunitas yang menempatkan pelaku UMKM sebagai subjek utama dalam proses pembelajaran dan pengembangan usaha.
Pendekatan ini memungkinkan para pelaku usaha saling berbagi pengalaman, berdiskusi mengenai tantangan yang dihadapi, serta membangun jejaring kolaboratif yang dapat mendukung pertumbuhan usaha masing-masing.
Pada tahap awal, kegiatan difokuskan pada pemetaan kebutuhan dan potensi UMKM binaan Perumda Tunas Malang melalui survei, observasi lapangan, dan forum diskusi kelompok.
Hasil pemetaan tersebut menjadi dasar dalam penyusunan program pelatihan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan nyata para pelaku usaha.
“Kami berharap terbentuk komunitas belajar UMKM yang aktif dan mandiri, meningkatnya kemampuan manajerial serta digitalisasi usaha para peserta.”
‘Tidak kalah penting adalah terciptanya model pemberdayaan UMKM yang dapat direplikasi oleh Perumda Tunas Malang maupun daerah lain.”
“Dengan demikian dampak program tidak hanya dirasakan selama kegiatan berlangsung, tetapi juga dapat berkelanjutan dalam jangka panjang,” kata Misbahuddin.
Selanjutnya, peserta akan mendapatkan pelatihan manajemen usaha dasar yang mencakup penyusunan struktur kerja sederhana, pembagian peran dalam usaha, penguatan komunikasi tim, serta penyusunan prosedur operasional yang lebih efektif.
Kegiatan ini dirancang untuk membantu UMKM membangun fondasi organisasi usaha yang lebih profesional dan berkelanjutan.
Selain penguatan aspek manajerial, program TUGUNIAGA juga menitikberatkan pada peningkatan literasi digital.
Para peserta akan memperoleh pelatihan penggunaan aplikasi pembukuan digital, pemanfaatan media sosial sebagai sarana pemasaran, pengelolaan katalog produk digital, hingga pemanfaatan berbagai platform teknologi yang dapat membantu meningkatkan efisiensi operasional usaha.
Keunikan program ini terletak pada pembentukan komunitas belajar UMKM yang akan menjadi wadah pertukaran pengetahuan dan pengalaman antar pelaku usaha.
Melalui model pembelajaran sejawat (peer learning), UMKM yang telah memiliki pengalaman dan praktik usaha yang baik akan didorong menjadi mentor bagi UMKM lainnya.
Perumda Tunas Malang menyambut baik pelaksanaan program ini karena dinilai sejalan dengan upaya perusahaan dalam memperkuat kapasitas pelaku UMKM di Kota Malang.
Melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan komunitas usaha, diharapkan lahir model pemberdayaan yang mampu menjawab tantangan UMKM secara lebih komprehensif.
Tidak hanya melibatkan dosen, program ini juga memberikan ruang bagi mahasiswa FEB UB untuk terlibat secara langsung sebagai fasilitator lapangan, pendamping teknis, dokumentator kegiatan, serta tim monitoring dan evaluasi.
Dalam jangka panjang, TUGUNIAGA diharapkan mampu melahirkan komunitas-komunitas UMKM yang mandiri, memperkuat peran Perumda Tunas Malang sebagai pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta menciptakan model pengembangan UMKM berbasis komunitas yang dapat direplikasi di berbagai daerah lainnya. (*/M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




