DUET: General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi dan Julian Guevara, dalam sebuah kesempatan. Keduanya diprediksi akan tetap bekerjasama di Arema FC untuk musim depan. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Manajemen Arema FC sedang giat-giatnya bersolek. Mereka sadar, mengelola klub sepak bola modern tidak bisa lagi memakai cara-cara konvensional. Harus profesional. Total. Langkah pembenahan tata kelola ini resmi digulirkan pada awal Juni 2026 sebagai komitmen jangka panjang mengembalikan Singo Edan ke jajaran elite sepak bola nasional.
General Manager Arema FC, Muhammad Yusrinal Fitriandi, membuka cetak biru itu.
Menghadapi musim 2026/2027, manajemen menetapkan empat pilar strategis. Empat kaki yang harus sama-sama kuat.
Pilar pertama: membangun komposisi tim yang tangguh di Super League. Ini masa transisi yang berat. Masa pemulihan yang melelahkan pascatragedi Kanjuruhan 2022 lalu.
Pilar kedua—dan ini yang paling sakral: memperbaiki hubungan dengan Aremania. Hubungan ini sempat hambar. Sempat dingin.
“Pendekatan yang konsisten mulai membuahkan hasil. Dukungan langsung suporter kini kembali menghidupkan Stadion Kanjuruhan,” ujar pria yang akrab disapa Inal ini, seperti dilansir RRI Malang.
Lalu pilar ketiga: memperkuat jaringan dengan media. Dan pilar keempat yang tidak kalah penting: menggenjot valuasi klub lewat ekspansi bisnis. Arema harus mandiri secara finansial.
Untuk mengeksekusi pilar keempat ini, manajemen tidak mau setengah-setengah. Mereka membuat gebrakan baru. Arema FC resmi menunjuk seorang Chief Business Officer (CBO) baru.
Siapa dia? Inal masih mengunci rapat namanya. “Dalam waktu dekat akan segera kami perkenalkan secara resmi kepada publik,” tambahnya misterius.
Calon Jenderal Baru dari Kolombia
Di saat kereta bisnis Arema sedang dirancang ulang, kejutan lain muncul dari ruang ganti pemain. Ini soal masa depan staf kepelatihan Singo Edan untuk musim depan.
Arema dipastikan menambah analis pertandingan khusus. Tapi bukan itu berita besarnya. Berita besarnya adalah: munculnya nama Julian Guevara dalam bursa calon staf pelatih baru.
Ya, Anda tidak salah baca. Julian Guevara. Gelandang jangkar Arema yang baru berusia 33 tahun itu.
Bulan lalu, pemain asal Kolombia ini diam-diam membuat pencapaian luar biasa. Dia resmi mengantongi lisensi kepelatihan Conmebol Pro. Tertinggi di Amerika Selatan. Sebelumnya, dia sudah menuntaskan lisensi Conmebol A dan B melalui program percepatan dari Federasi Sepak Bola Kolombia.
Dengan ijazah Pro di kantongnya, Guevara sebenarnya sudah sah-sah saja jika ingin menjadi nakhoda klub kasta kedua. Tapi di Arema, dia disiapkan untuk magang. Masuk jajaran staf pelatih.
Inal tidak menampik kabar itu. Guevara rupanya sadar umur. Dia sedang menyiapkan sekoci sebelum hari pensiunnya tiba.
“Dia bahkan sudah mulai rajin belajar bahasa Indonesia. Biar komunikasinya mudah,” bisik Inal.
Meski begitu, Inal emoh berkomentar terlalu jauh. Fokus utamanya saat ini tetap menyusun kerangka skuad yang kompetitif untuk musim depan.
Bagaimana tanggapan Guevara? Gaya bicaranya sudah mirip filsuf sepak bola.
“Tentu saja saya mau menjadi asisten pelatih,” aku mantan penggawa Jaguares de Cordoba itu.
Bagi pemilik nomor punggung enam ini, kontribusi untuk Arema tidak harus selalu dengan cara berkeringat di atas lapangan hijau. Menata taktik dari balik layar dan membakar semangat pemain dari pinggir lapangan jauh lebih menantang.
Namun, Guevara sadar diri. Dia masih harus menunggu keputusan final dari manajemen dan Bos Inal. Lagipula, di dalam dadanya, hasrat untuk mengenakan jersi biru dan bertarung sebagai pemain belum sepenuhnya padam.
Arema FC musim depan tampaknya akan sangat menarik. Manajemennya sedang berburu cuan secara profesional, sementara di pinggir lapangan, seorang calon jenderal taktik baru asal Kolombia sedang mengeja bahasa Indonesia. (Ra Indrata)




