MALANG POST – Dosen Universitas Brawijaya bersama mahasiswa MMD, menggelar pelatihan bagi 36 ibu dan kader Posyandu di Desa Gombengsari dan Kelir, Banyuwangi, Sabtu–Minggu (25–26/7/2026), guna memperkuat kesehatan jiwa dan fisik keluarga petani serta mendukung program SDGs Desa.
Kelurahan Gombengsari dan Desa Kelir di Banyuwangi merupakan wilayah yang didominasi oleh sektor perkebunan dan pertanian. Mayoritas warganya menggantungkan hidup pada komoditas kopi dan hasil bumi lainnya.
Dalam denyut keseharian masyarakat tersebut, peran ibu terasa amat dominan. Mereka tidak hanya menjadi tulang punggung ekonomi tambahan, tetapi juga garda terdepan dalam pengasuhan anak.
Peran ganda yang diemban para ibu ini menyimpan potensi tekanan psikologis yang tidak bisa dianggap remeh.
Hal inilah yang mendorong Ns. Muhammad Sunarto, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.J., bersama timnya—Ns. Setyoadi, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.Kom., dan Dr. Ns. Dina Dewi Sartika Lestari Ismail, M.Kep.—menginisiasi pelatihan kader guna memperkuat ketahanan dan produktivitas keluarga, dengan memadukan aspek kesehatan jiwa dan fisik ibu serta anak.
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu–Minggu (25–26/7/2026) ini turut menggandeng Kelompok 39 dan 40 Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya yang bertugas di dua wilayah tersebut.

“Tekanan ekonomi yang beririsan dengan beban domestik yang tinggi dapat memicu stres dalam pengasuhan. Bila dibiarkan, dampaknya akan merembet pada kualitas kesehatan fisik dan mental anak,” papar Sunarto.
Realitas di lapangan menunjukkan minimnya akses terhadap edukasi kesehatan jiwa. Mulai dari gangguan tidur pada ibu, keterbatasan kemampuan dalam menghadapi kegawatdaruratan anak, hingga rendahnya deteksi dini masalah emosional pada buah hati, menjadi alasan kuat dihadirkannya program ini.
Pelatihan yang diikuti oleh 36 ibu rumah tangga dan kader Posyandu ini tidak hanya berhenti pada pemaparan teori. Sunarto dan tim menghadirkan metode yang variatif, mulai dari komunikasi dua arah yang interaktif, studi kasus, hingga demonstrasi teknik relaksasi yang dapat dipraktikkan secara mandiri oleh peserta.
“Ada lima pilar materi yang kami integrasikan untuk membangun ekosistem keluarga yang sehat,” terangnya.

Kelima pilar tersebut mencakup deteksi dini masalah kesehatan jiwa anak menggunakan instrumen sederhana, pola pengasuhan positif yang bebas dari kekerasan untuk membangun disiplin, pengelolaan stres dan kualitas tidur bagi ibu, pertolongan pertama pada anak untuk keluhan kesehatan yang umum terjadi di rumah, serta penguatan ketahanan keluarga berbasis komunitas agar ilmu yang didapat terus hidup dan bermanfaat.
Dalam skala yang lebih luas, program ini merupakan wujud kontribusi Universitas Brawijaya dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) Desa.
Khususnya pada poin 3 (Desa Sehat dan Sejahtera), poin 4 (Pendidikan Desa Berkualitas), poin 5 (Keterlibatan Perempuan Desa), dan poin 10 (Desa Tanpa Kesenjangan).
Lebih dari itu, inisiatif ini sejalan dengan arah kebijakan Asta Cita pemerintah dalam memperkuat pembangunan sumber daya manusia, yang dimulai dari unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga. (M. Abd. Rachman Rozzi/Januar Triwahyudi)




