KURSI AMAN: Pelatih Arema FC asal Brasil, Marcos Santos, berpeluang besar untuk tetap bertahan membesut Singo Edan. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Kursi pelatih Arema FC itu terkenal sangat panas. Seperti membara. Siapa pun yang duduk di sana harus siap-siap ‘terbakar’ oleh tuntutan tinggi Aremania. Bayangkan saja: dalam tiga tahun terakhir, enam pelatih sudah diganti di tengah jalan. Tragis.
Namun, kutukan itu tampaknya mulai luntur di tangan Marcos Vinicius dos Santos Goncalves.
Hingga evaluasi pasca-kompetisi Super League 2025/2026 berakhir pada awal Juni 2026 ini, pelatih asal Brasil tersebut mendapatkan sinyal kuat dari manajemen untuk bertahan lebih lama di Malang. Marcos berpeluang besar memperpanjang masa baktinya untuk musim depan.
Keputusan resmi memang masih menunggu ketuk palu rapat dewan direksi. Tapi pintu untuk Marcos sudah terbuka sangat lebar.
General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, blak-blakan soal alasan mengapa pelatih berusia 47 tahun itu layak dipertahankan.
“Pertimbangannya, baru pelatih ini yang bisa bertahan sampai akhir musim,” jelas Yusrinal.
Pria yang akrab disapa Inal itu memuji tangan dingin Marcos. Dia dinilai jeli mencari pemain baru, pandai mengayomi ruang ganti, dan yang paling penting: tidak ada isu negatif atau friksi di internal tim. Marcos sudah khatam betul bagaimana karakter sepak bola Indonesia.
Padahal, musim kemarin bukanlah musim yang ramah untuk Arema. Badai datang bertubi-tubi.
Performa tim sempat naik turun tidak karuan. Ditambah lagi hantaman badai cedera panjang yang memaksa pilar utama seperti Achmad Maulana, Luiz Gustavo, hingga Pablo Oliveira harus masuk ruang perawatan.
Belum lagi pukulan psikologis yang sangat berat. Arema harus kehilangan asisten pelatih sekaligus legenda hidup mereka, Kuncoro, yang meninggal dunia di tengah kompetisi.
Dalam situasi compang-camping begitu, Arema di bawah Marcos Santos tetap mampu tegak berdiri. Mereka menutup kompetisi di posisi ke-9 klasemen akhir dengan raihan 48 poin.
Memang, target awal masuk 5 besar gagal total. Marcos mengakui itu sebagai sebuah kegagalan. Tapi finis di papan tengah dengan tumpukan masalah seperti itu adalah sebuah keajaiban kecil.
Janji Manis dari Brasil
Sorotan terbesar untuk Marcos sebenarnya bukan cuma soal taktik di lapangan. Ini soal loyalitas. Soal hati.
Di tengah musim yang berdarah-darah itu, Marcos mengaku sempat punya kesempatan emas untuk angkat kaki. Meninggalkan Malang. Tapi dia memilih menolak tawaran klub lain. Dia memilih setia menemani Singo Edan yang sedang terombang-ambing diterjang badai.
“Untuk saya, sebuah kebanggaan musim ini mulai dan selesai di Arema FC,” ucap Marcos seperti dikutip dari laman ileague.id.
Bagi Marcos, Arema bukan sekadar klub tempatnya mencari nafkah. Arema adalah keluarga yang menyatu dengan urat nadi Kota Malang. “Di Brasil, Arema itu seperti Corinthians atau Palmeiras. Klub yang harus selalu bertarung di atas,” imbuhnya.
Kini, kompetisi sudah selesai. Marcos memilih pulang kampung ke Brasil. Berlibur sambil menunggu surat kontrak baru dari manajemen datang ke rumahnya.
Sebelum terbang, Marcos sempat menitipkan janji manis. Jika dewan direksi kembali memercayai dirinya, dia yakin Super League musim 2026-2027 akan menjadi momentum kebangkitan total Arema FC.
Dia ingin melunasi utang tugasnya yang belum tuntas. Marcos ingin manajemen dan tim pelatih segera duduk bersama. Mengevaluasi apa yang salah dan apa yang sudah benar.
“Saya percaya di pengujung musim ini kami berhasil mengembalikan semangat di Stadion Kanjuruhan. Indah melihat Aremania kembali hadir di stadion,” pungkasnya.
Marcos sudah menyerahkan seluruh hatinya di Malang. Sekarang, bola panas ada di tangan jajaran direksi Arema FC. Apakah mereka akan mempertahankan stabilitas yang baru saja tumbuh, atau kembali hobi gonta-ganti pelatih seperti musim-musim lalu?
Aremania tentu berharap akal sehat yang menang. (Ra Indrata)




