MALANG POST — Musim kompetisi kasta tertinggi sepak bola tanah air, Super League 2025/2026, telah resmi berakhir. Bagi Arema FC, perjalanan sepanjang 34 pertandingan musim ini menyisakan hamparan data yang sangat menarik untuk dibedah. Skuad Singo Edan di bawah asuhan Marcos Santos, akhirnya harus puas finis di peringkat ke-9 klasemen akhir dengan raihan 48 poin, sebuah posisi papan tengah yang lahir dari performa naik-turun bak roller coaster akibat fluktuasi konsistensi permainan yang terjadi sejak putaran pertama hingga putaran kedua resmi dituntaskan.
Mari kita bedah anatomi angkanya. Terbuka. Jujur.
Dari 34 pertempuran di lapangan hijau, rapor menang-kalahnya tipis sekali. Arema berhasil memenangkan 13 laga, 9 kali berakhir imbang, dan 12 kali dipaksa menelan pil pahit kekalahan. Jika dipersentasekan, rasio kemenangan Singo Edan berada di angka 38,2 persen. Rasio imbang 26,5 persen, dan rasio kekalahan menyentuh 35,3 persen.
Untungnya, lini serang Arema musim ini terbilang aduhai. Produktif. Sebanyak 53 gol berhasil dilesakkan ke gawang lawan. Sementara gawang Arema sendiri kebobolan 47 kali. Artinya, Arema masih mengantongi surplus selisih gol sebanyak +6.
Musim ini, Aremania sempat dimanjakan oleh empat pesta gol dengan margin besar. Yaitu saat menggilas PSBS Biak 5-2 di laga tandang, memukul balik PSBS 4-1 di kandang, serta mencukur Semen Padang dan PSM Makassar masing-masing dengan skor telak 3-0.
Namun, ada satu luka dalam yang sulit dilupakan. Tragedi kandang. Yakni saat Arema dibantai rival abadi mereka, Persebaya Surabaya, dengan skor mencolok 0-4 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, pada putaran kedua lalu. Sakitnya membekas.
Bicara soal kandang, Stadion Kanjuruhan di Kabupaten Malang ternyata belum sepenuhnya angker bagi tim tamu. Rapor kandang Arema biasa saja. Tidak istimewa.

Dari 17 kali menjamu lawan di Kanjuruhan, Ahmad Alfarizi dan kawan-kawan hanya mampu mengais 26 poin. Mereka menang 8 kali, imbang 2 kali, tapi keok di depan publik sendiri sebanyak 7 kali!
Rasio kekalahan di kandang merayap naik di angka 41,2 persen. Nyaris mengimbangi rasio kemenangan kandang yang hanya 47,1 persen.
Artinya apa? Di depan mata Aremania, Singo Edan telah kehilangan 25 poin berharga yang menguap begitu saja. Laga kandang musim ini hanya berkontribusi sebesar 51 persen dari total poin keseluruhan. Padahal, urusan mencetak gol di Kanjuruhan tidak jelek. Sebanyak 30 dari 53 gol Arema (atau sekitar 56 persen) lahir di rumah sendiri, dengan rata-rata 1,7 gol per laga.
Petakanya ada di lini belakang saat main di rumah. Gawang Arema jebol 25 kali di Kanjuruhan. Rasio kebobolan kandangnya bikin dahi berkerut: 1,47 gol per pertandingan. Rumah sendiri kok gampang bocor.
Sekarang mari kita bedah statistik kolektif permainannya. Ini yang bikin geleng-geleng kepala.
Arema musim ini sebenarnya sangat aktif membangun serangan. Tercatat ada 10.702 aliran umpan (passing) yang dilepaskan sepanjang musim. Visinya ada. Aliran bola ini menghasilkan 248 kreasi peluang, 70 umpan silang (crossing), serta 109 dribel sukses.
Bagaimana dengan efektivitas di depan gawang? Dari total 330 percobaan tembakan yang dilepaskan para striker, sebanyak 157 tembakan tepat sasaran (on target) dan 173 lainnya melenceng ke awang-awang. Akurasi tembakannya berada di angka 47,6 persen. Namun, efektivitas konversi peluang menjadi gol hanya 31,2 persen.
Inilah pekerjaan rumah terbesar untuk musim depan: penyelesaian akhir (finishing). Arema butuh pembunuh berdarah dingin di kotak penalti.
Beruntung, di musim yang berat ini, Arema mendapatkan berkah 7 gol dari titik putih penalti, plus tabungan 4 gol cuma-cuma dari bunuh diri lini pertahanan lawan. Kreativitas mencetak gol juga disokong oleh 35 umpan matang (assist) antarpemain.
Di sektor pertahanan, kerja keras para pemain bawah patut diberi apresiasi tinggi. Angkanya impresif. Mereka melakukan 514 kali tekel bersih, 797 intersep memotong bola, 519 sapuan bersih (clearance), dan 126 blok krusial.
Ketika bola hilang, para penggawa Arema juga ulet. Mereka mencatatkan 452 kali perebutan kembali bola (ball recovery). Di bawah mistar gawang, kiper Arema harus jatuh bangun melakukan 118 penyelamatan heroik agar gawang Singo Edan tidak menjadi lumbung gol yang lebih parah.
Namun, ada satu catatan merah yang sangat mencolok: masalah kedisiplinan. Skuad Arema musim ini terlalu emosional. Agresif yang menjurus kasar.
Tercatat Arema melakukan 412 kali pelanggaran yang berbuah 341 tendangan bebas untuk tim lawan. Tingginya tensi permainan ini dibayar mahal dengan hujan kartu dari saku wasit. Koleksinya mengerikan: 85 kartu kuning, 2 kartu kuning kedua (merah tidak langsung), dan 9 kartu merah langsung sepanjang musim!
Bermain dengan 10 orang sebanyak sembilan kali dalam satu musim jelas merusak skema taktik pelatih mana pun di dunia.
Secara garis besar, statistik Super League 2025/2026 membuktikan bahwa Arema FC punya modal dasar yang menjanjikan. Keseimbangan menyerang dan bertahan sudah ada di tangan Marcos Santos. Fondasi golnya kuat, lini pertahanannya kokoh bekerja keras.
Kini, manajemen tinggal membuang ego indisipliner pemain, menambal kebocoran di Stadion Kanjuruhan, dan mengasah ketajaman lini depan. Jika tiga borok itu bisa disembuhkan sebelum musim baru bergulir, papan atas bukan lagi sekadar mimpi di siang bolong bagi publik Malang Raya. (Ra Indrata)




