MALANG POST — Jangan sepelekan radang tenggorokan pada anak. Jika dibiarkan berulang tanpa diobati sampai tuntas, penyakit sehari-hari itu bisa berubah menjadi monster, yang merusak katup jantung. Menyadari ancaman laten tersebut, Kota Batu resmi menjadi daerah pertama di Jawa Timur, yang menggeber program skrining Penyakit Jantung Rematik (PJR) massal bagi anak usia sekolah, yang diawali dengan memeriksa 300 siswa sekolah dasar secara gratis pada Senin (1/6/2026).
Program ini bukan program kaleng-kaleng. Skala internasional. Digagas langsung oleh Yayasan Jantung Indonesia (YJI) yang gandengan tangan dengan World Heart Federation.
Sasarannya sengaja dikunci: siswa kelas 5 dan 6 SD. Mengapa harus Kota Batu yang jadi lokasi perdana di Jatim? Mengapa bukan Surabaya atau Malang Kota?
Jawabannya jujur. Sedikit memprihatinkan. Batu ternyata menjadi salah satu daerah penyumbang pasien jantung anak tertinggi di wilayah Malang Raya.
“Batu menjadi salah satu daerah penyumbang pasien YJI Malang Raya yang cukup banyak. Karena itu, program ini kami mulai dari sini sebelum diperluas ke daerah lain,” ujar Pengurus YJI Malang Raya, Hanik Didik Gatot Subroto.
Logika medisnya dibongkar oleh Ketua Bidang Medis YJI, dr. BRM Ario Soeryo Kuncoro, Sp.JP(K). Anak usia kelas 5 dan 6 SD berada di fase paling rentan. Paling gampang menunjukkan gejala awal PJR.
Banyak orang tua yang tidak paham. Penyakit jantung rematik ini licik. Dia tidak langsung datang sebagai penyakit jantung.

CEK PJR: Tim YJI bersama world heart federation saat melakukan skrining PJR kepada ratusan pelajar SD di Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Awalnya hanya infeksi radang tenggorokan biasa. Karena dianggap remeh, infeksi itu berkembang menjadi demam rematik. Sifat demam ini pelan tapi mematikan: menggerogoti katup jantung anak sedikit demi sedikit.
“Tujuan kami adalah menemukan gejala sejak masih ringan, sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat,” jelas dr. Ario.
Lalu, apa lampu kuning yang harus diwaspadai orang tua?
“Gejala awalnya bisa berupa nyeri sendi yang berpindah-pindah tempat, disertai pembengkakan pada beberapa bagian sendi anak,” paparnya.
Jika dibiarkan tanpa pengobatan standar, bakteri jahat itu akan merusak katup jantung secara permanen. Anak-anak kita terancam mengalami kecacatan jantung saat mereka dewasa kelak. Menakutkan.
Untungnya, dari pemeriksaan maraton terhadap 300 siswa kemarin, tim medis belum menemukan satu pun kasus positif PJR. Bersih. Namun, YJI sudah menyiapkan barikade data. Sistem pencatatan dan rujukan langsung dibuat agar jika suatu saat ditemukan kasus baru, si anak bisa langsung diselamatkan ke meja medis.
Langkah preventif ini langsung mendapat dua jempol dari Plt Wali Kota Batu, Heli Suyanto. Heli kagum melihat alat yang dibawa tim medis. Praktis. Canggih.
“Kami melihat teknologi pemeriksaan yang digunakan cukup praktis dan berpotensi diterapkan lebih luas hingga tingkat fasilitas kesehatan dasar,” puji Heli.
Mendukung penuh hal itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat, ikut pasang badan. Bagi Alfi, percuma otak anak dijejali matematika atau sains jika fisiknya ringkih. Kesehatan siswa adalah fondasi utama pendidikan. Sekolah harus menjadi benteng pertahanan dari serangan bakteri.
“Usia SD merupakan masa yang sangat rentan terhadap serangan bakteri yang dapat memicu gangguan pada katup jantung. Karena itu, langkah preventif di sekolah menjadi sangat penting,” tegas Alfi.
Target YJI tidak berhenti di angka 300 anak. Dua tahun ke depan, mereka membidik 2.000 anak di Malang Raya harus masuk mesin skrining.
Urusan jantung adalah urusan masa depan bangsa. Langkah awal sudah diambil di Kota Batu. Kini tinggal giliran para orang tua di rumah: jangan lagi anggap enteng anak yang mengeluh radang tenggorokan dan nyeri sendi. (Ananto Wibowo/Malang Post)




