DARI KIRI: Rektor Universitas Brawijaya, Prof Widodo, bersama Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Saiful Hidayat, saat memberikan keterangan kepada wartawan di Gedung Rektorat UB. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
MALANG POST — Zaman sudah berubah total. Pola hidup bergeser. Tantangan masa depan kian kompleks. Anak muda sekarang tidak bisa lagi santai, tanpa perencanaan hari tua yang matang, jika tidak ingin menjadi beban sosial bagi anak-cucunya kelak. Kesadaran ekstrem inilah yang melatari Universitas Brawijaya (UB) dan BPJS Ketenagakerjaan, resmi menandatangani naskah kerja sama strategis terkait penguatan riset industri. Serta perlindungan jaminan sosial bagi civitas akademika di Gedung Rektorat UB, Jumat (29/5/2026).
Penandatanganan siang itu bukan sekadar seremonial di atas kertas. Bukan jabat tangan formalitas lalu bubar. Ada visi besar di baliknya: sinergi untuk tumbuh bersama.
Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., berbicara blak-blakan usai acara. Perguruan tinggi, kata dia, harus digandengkan langsung dengan dunia industri.
“Kita berharap ada riset-riset yang use case-nya langsung dengan industri, khususnya dengan BPJS Ketenagakerjaan,” ujar Prof. Widodo.
Dengan metode ini, keilmuan kampus tidak akan mandek di perpustakaan. Hasil riset bisa langsung diaplikasikan oleh mitra industri. Konkret.
Manfaat keduanya jelas menyasar mahasiswa. UB butuh pelabuhan yang aman bagi anak didiknya saat menempuh magang industri maupun Praktik Kerja Lapangan (PKL).
Lebih dari itu, urusan keselamatan juga dijamin. Mahasiswa UB yang berkegiatan di luar kampus, kelak akan dipayungi oleh jaminan sosial.
Saat ditanya wartawan tentang pentingnya literasi jaminan sosial sejak bangku kuliah, Prof. Widodo menjawabnya dengan sangat antusias. Sangat penting!
Menurutnya, alam kita sudah tidak seperti dulu saat penduduk masih sedikit. Dulu, orang tua tidak punya ketergantungan tinggi pada anak muda karena beban hidup belum rumit. Sekarang? Kalau keuangan dan pensiun tidak direncanakan selagi muda, bersiaplah menjadi beban anak cucu di hari tua.
“Merencana masa depan dan merencanakan hari tua itu harus dimulai dari sekarang, selagi masih muda,” tegasnya.

MINIATUR: Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, saat menunjukkan maket kawasan kampus Universitas Brawijaya, kepada Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
Setali tiga uang. Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Dr. Saiful Hidayat, M.T., memandang UB adalah mitra yang sangat strategis. Kampus di Malang ini dinilainya sebagai gudang ilmu.
BPJS Ketenagakerjaan menaruh minat besar pada hasil riset UB. Terutama riset yang berkaitan dengan ekonomi makro, ekonomi mikro, aktuaria, hingga teknologi mutakhir. Seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan keamanan siber (cyber security). Semua kebutuhan operasional bisnis BPJS ada jawabannya di UB.
Saiful juga menitipkan misi besar kepada mahasiswa UB, yang akan menempuh Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Ketika turun ke desa, mahasiswa diminta ikut menjadi agen literasi. Mereka harus mengetuk pintu rumah para petani dan nelayan, untuk mengedukasi pentingnya perlindungan tenaga kerja.
Risiko hidup di era modern ini besar. Saiful menyebut ada lima perlindungan krusial yang wajib dipahami masyarakat: jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan hari tua, jaminan pensiun, hingga jaminan kehilangan pekerjaan.
“Perubahan teknologi dan budaya sosial, membuat risiko terjadinya lima hal tadi sangat besar. Literasi itu harus dibangun dari sekarang,” jelas Saiful.
Sebagai langkah awal, BPJS Ketenagakerjaan akan mengover seluruh karyawan non-ASN di lingkungan UB. Mulai dari staf alih daya (outsourcing) hingga karyawan kontrak. Begitu pula dengan mahasiswa yang sedang magang dan KKN.
Momen hari itu mengunci satu MoU (Nota Kesepahaman) dan lima PKS (Perjanjian Kerja Sama) sekaligus.
Saiful berharap, UB bisa menjadi role model nasional bagi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) lainnya dalam menjalankan amanat Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN).
Menggabungkan kekuatan riset kampus dengan kekuatan finansial jaminan sosial. Sebuah perkawinan industri dan akademisi yang klop, yang diharapkan bisa langsung mengirimkan rasa aman ke rumah-rumah pekerja di Indonesia. (Ra Indrata)




