MALANG POST – Manajemen Arema FC, secara resmi mengumumkan pengakhiran kerja sama kontrak dengan bek kanan lokal berlabel eks Timnas Indonesia, Rifad Marasabessy (26), Kamis (28/5/2026). Keputusan pelepasan pemain asal Tulehu, setelah mengabdi selama tiga musim penuh rintangan tersebut, diumumkan langsung melalui akun media sosial klub. Menyusul langkah eksodus serupa yang sebelumnya diambil oleh penjaga gawang asing asal Brasil, Lucas Frigeri (36), pasca-berakhirnya kompetisi Super League musim 2025/2026.
Kamar ganti Arema FC benar-benar sedang dibersihkan. Manajemen tampaknya sedang memegang sapu tebal. Merombak barisan pertahanan secara radikal untuk musim depan.
Belum reda obrolan Aremania di warung kopi soal teka-teki pelabuhan baru Lucas Frigeri, Kamis kemarin manajemen Singo Edan kembali mengetok palu keputusannya. Kali ini korbannya adalah Rifad Marasabessy. Pemain asal Tulehu, Maluku, yang dikenal bertipikal petarung di sisi sayap kanan.
Rifad bukan orang baru. Dia datang ke Malang pada tahun 2023. Tepat di masa-masa paling kelam dalam sejarah klub: semusim setelah Tragedi Kanjuruhan yang memilukan itu.
Saat pemain lain emoh merapat karena tekanan psikologis yang raksasa, Rifad bersedia memakai jersi biru barat. Dia bertaruh peluh, merayap dari satu laga ke laga lain, hingga akhirnya sukses menyelamatkan Arema FC dari lubang jarum degradasi di Liga 1 2023/2024.
Namun, Anda sudah tahu hukum sepak bola profesional: sejarah yang manis sering kali harus tunduk pada statistik menit bermain di atas lapangan.
Rapor Rifad selama tiga musim sebenarnya lumayan: mengemas 35 pertandingan dalam 1.725 menit. Tapi, grafik penampilannya belakangan ini terus melorot tajam.
Musim ini, pemilik jersi nomor punggung 12 itu seolah kehilangan karpet merahnya. Dia hanya diberi kesempatan bermain selama 433 menit saja dalam delapan laga. Kalah bersaing.
Maka, begitu durasi kontraknya habis di akhir Mei ini, manajemen memilih opsi untuk tidak menyodorkan lembaran kertas baru. Jalur perpisahan diambil dengan cara kekeluargaan.
“Rutam Nuwus Rifad Marasabessy. Tiga musim yang penuh rintangan berhasil kita lewati bersama. Kontrak kerja sama resmi berakhir, semoga sukses di tempat baru,” tulis rilis resmi akun @aremafcofficial.
Rifad pun membalasnya dengan jabat tangan virtual yang santun melalui akun pribadinya. “Terima kasih Arema untuk tiga musim yang penuh kenangan dan perjuangan. Sampai ketemu di bakudapa (bertemu lagi). Semoga ke depan Arema makin sukses dan tambah menyala,” tulis pemain berusia 26 tahun itu ramah.
Kepergian Rifad ini seolah melengkapi efek domino dari pengumuman hengkangnya sang pahlawan Piala Presiden 2024, Lucas Frigeri.
Bedanya, jika Rifad dilepas karena faktor teknis menit bermain, kasus Frigeri murni karena sang kiper ingin mencari tantangan baru di pengujung usia emasnya.
Kiper berusia 36 tahun itu adalah benteng kokoh yang mengawal mistar gawang Arema sebanyak 59 kali dalam dua musim terakhir.
Aremania tentu tidak akan lupa bagaimana magisnya Frigeri saat menahan gempuran Persib Bandung pada 24 April lalu. Berondongan peluru serangan Maung Bandung mentah di sarung tangannya, memaksa laga berakhir kacamata 0-0 dan mencuri satu poin krusial dari tanah Pasundan.
“Kami mengucapkan terima kasih atas dedikasi, kerja keras, dan kontribusi besar yang telah diberikan Lucas Frigeri. Dia bagian penting sejarah kami,” tutur General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, memberi apresiasi tinggi.
Lantas, ke mana Frigeri akan berlabuh? Banyak yang menduga kiper gaek ini akan gantung sarung tangan alias pensiun di Brasil.
Tapi dugaan itu salah. Bagi penjaga gawang, usia 36 tahun itu justru sedang matang-matangnya. Frigeri sendiri yang membongkar rahasia masa depannya kepada jurnalis WEAREMANIA.
“Ya, saya akan tetap bermain musim depan. Dan saya tetap bermain di Indonesia,” tegas eks kiper Madura United tersebut.
Artinya, sebuah drama besar sedang dirancang oleh garis takdir musim depan. Lucas Frigeri akan kembali ke Stadion Kanjuruhan, Kepanjen. Tapi bukan sebagai pelindung gawang Arema, melainkan sebagai musuh yang harus dihadang.
Dia akan berdiri di bawah mistar gawang klub rival, menghadapi determinasi mantan rekan setimnya, sekaligus merasakan langsung bagaimana rasanya diteror oleh gemuruh koor Aremania dari atas tribune.
“Kemungkinan itu selalu ada,” pungkas Frigeri misterius.
Siasat cuci gudang yang dilakukan Yusrinal Fitriandi di bursa transfer musim panas 2026 ini menunjukkan bahwa manajemen Arema FC, sedang tidak ingin bernostalgia dengan masa lalu. Pemotongan anggaran dan penyegaran lini menjadi harga mati.
Rifad telah pamit ke arah timur, Frigeri bersiap mengokang senjata bersama klub barunya di tanah air, dan Arema FC kini harus bergerak cepat berburu aktor pengganti di pasar transfer sebelum peluit latihan perdana ditiup.
Roda kompetisi terus berputar, dan di Malang, lambang singa di dada selalu lebih besar ketimbang nama di punggung pemain. Kita tunggu siapa pengisi loker lowong ini! (*/Ra Indrata)




