MALANG RAYA – Kepala Kepolisian Resor (Polres) Malang, AKBP Muhammad Taat Resdi, memimpin langsung aksi kemanusiaan dengan menyalurkan total 22 ekor sapi dan 73 ekor kambing kurban, dalam rangka memperingati Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah di Mapolres Malang, Kepanjen, Rabu (27/5/2026) pagi. Guna menjamin efektivitas distribusi, higienitas produk, serta standar kesehatan daging, pihak kepolisian mengambil langkah taktis, dengan mengalihkan proses eksekusi penyembelihan 13 ekor sapi berukuran jumbo ke Rumah Potong Hewan (RPH) Kepanjen. Sebelum dibagikan secara berkala kepada ratusan masyarakat rentan, pondok pesantren, dan yayasan sosial di wilayah Bumi Kanjuruhan.
Mengelola puluhan hewan kurban di lingkungan institusi besar itu ada seninya. Kalau salah siasat, halaman markas komando bisa berubah jadi area kumuh. Bau. Antrean warga pun rawan semrawut.
Di sinilah logika manajemen modern Kapolres Malang, AKBP Muhammad Taat Resdi, bekerja. Pria dengan melati dua di pundak ini tidak mau proses ritual tahunan ini berjalan amatir.
Rabu pagi tadi, usai melepas sajadah selepas Salat Id di lapangan apel, Taat Resdi langsung bergerak ke halaman belakang. Di depannya, berjejer puluhan hewan ternak. Ada 22 ekor sapi berbadan kekar dan 73 ekor kambing pilihan.
Ini adalah tumpukan investasi sosial yang dikumpulkan dari keikhlasan para personel Polres Malang.
Namun, Taat Resdi membuat keputusan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dia tidak mengizinkan halaman mako dikotori oleh darah belasan sapi. Sebanyak 13 ekor sapi monster langsung diperintahkan untuk dinaikkan ke atas truk.
Tujuannya jelas: dikirim ke RPH Kepanjen. Biar dijagal di sana.
“Iduladha adalah momentum emas untuk memperkuat kepedulian dan kebersamaan vertikal dengan rakyat. Hewan kurban ini kami salurkan agar manfaat gizinya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan di berbagai pelosok Kabupaten Malang,” ujar AKBP Muhammad Taat Resdi taktis, Rabu (27/5/2026).

Alasan memindahkan meja jagal ke RPH Kepanjen itu sangat saintifik. Taat ingin memastikan proses pemotongan memenuhi standar animal welfare (kesejahteraan hewan), higienis, dan steril dari penyakit berbahaya. Orang RPH tentu lebih ahli dan memiliki peralatan mekanis yang komplit.
“Sengaja dipotong di RPH Kepanjen supaya pengelolaan dagingnya lebih efektif, bersih, dan proses distribusinya bisa kita pacu lebih cepat sampai ke tangan warga,” imbuh Kapolres.
Alur pergerakan logistik daging ini pun tertata rapi. Pergerakannya dibongkar oleh Kasihumas Polres Malang, AKP Bambang Subinajar.
Bambang menjelaskan, begitu urusan jagal di RPH Kepanjen beres, gelondongan daging sapi itu tidak langsung dibagi di pinggir jalan. Potongan daging dibawa kembali masuk ke Mako Polres Malang.
Di sana, sudah ada pasukan personel yang bersiap dengan timbangan digital dan kantong ramah lingkungan. Daging dipotong kecil-kecil, ditimbang dengan presisi tanpa dikurangi satu ons pun, lalu dikemas rapi.
“Setelah ditimbang dan dikemas di Polres, baru kita distribusikan secara bertahap. Sasarannya adalah warga kurang mampu di sekitar polres, takmir musala, masjid pinggiran, hingga beberapa pondok pesantren yang membutuhkan,” urai Bambang Subinajar.
Bagaimana dengan sisa 9 ekor sapi dan 73 ekor kambing lainnya?
Logistik hidup itu rupanya dikirim utuh sejak subuh. Disebar merata ke berbagai yayasan yatim piatu, sekolah, organisasi keagamaan, dan lembaga sosial yang tersebar di wilayah hukum Kabupaten Malang yang areanya sangat luas ini. Langkah ini diambil agar lokalisasi berkah Iduladha tidak menumpuk di pusat kota Kepanjen saja.
Anda sudah tahu: indeks kepercayaan publik terhadap polisi itu dibangun dari hal-hal humanis seperti ini. Bukan dari banyakknya jumlah pelanggar jalan raya yang ditilang di lampu merah.
Semangat Iduladha di Polres Malang tahun ini berhasil mengawinkan antara kesalehan ritual keagamaan dengan ketepatan ilmu manajemen logistik pangan.
Melalui talian kerja sama dengan RPH Kepanjen, korps baju cokelat ini sukses membuktikan bahwa mereka bisa tampil garang dalam memburu pelaku kejahatan, namun sangat rapi dan higienis saat membagikan daging kurban untuk perut rakyat kecil.
Sapi-sapi itu kini sudah menjelma menjadi berkah di atas piring makan warga miskin, mengikat erat hubungan batin antara masyarakat dan pelindungnya. (HmsResma/Ra Indrata)




