THE BEST: Dua Wisudawati TA 2025 - 2026, MAN 1 Kota Malang, Ananda Ana Syafinatun Sholehah dan Salsa Thoyyiba, yang diterima di University of Western Australia dan Universitas Utara Malaysia. (Foto: Iwan Kaconk/Malang Post)
MALANG POST – Dua siswi berprestasi kelas XII-J Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Malang, Ana Syafinatun Sholehah dan Salsa Thoyyiba, sukses mengukir tinta emas, dengan resmi diterima di universitas terkemuka luar negeri, melalui jalur beasiswa prestasi dalam prosesi Tasyakuran Purnawiyata Tahun Ajaran 2025/2026 di Kota Malang, Senin (25/5/2026). Keberhasilan Ana yang menembus University of Western Australia pada jurusan Hubungan Internasional, serta Salsa di Universitas Utara Malaysia pada jurusan International Business Management ini, melengkapi dominasi ratusan lulusan madrasah tersebut yang lolos massal ke berbagai perguruan tinggi negeri (PTN) favorit di Indonesia.
Siapa bilang anak madrasah hanya jago urusan fikih dan mengaji?
Tengoklah panggung wisuda di MAN 1 Kota Malang pagi tadi. Suasananya riuh, penuh air mata haru dan rona bangga. Sebanyak 362 siswa resmi dilepas.
Dan bintang utamanya, Anda sudah tahu: Ana Syafinatun Sholehah dan Salsa Thoyyiba.
Dua gadis belia berkerudung itu mendadak jadi buah bibir. Bukan karena mereka paling vokal di kelas. Tapi karena lompatan karier akademiknya, yang membuat mata banyak orang terbelalak: mereka melompati batas negara. Kuliah ke luar negeri. Lewat jalur prestasi, plus beasiswa penuh.
Bagaimana anak setingkat SMA dari sekolah berbasis agama di Malang, bisa menaklukkan ketatnya seleksi ketat jagat internasional?
Ana Syafinatun, dengan piala kelulusan di tangannya, membuka rahasia itu usai prosesi wisuda. Jawabannya di luar dugaan. Dia tidak mengagung-agungkan kejeniusan otak.
“Sukses ini bukan melulu soal kepintaran murni. Orang pintar bisa saja gagal kalau modalnya cuma cerdas tapi malas.”
“Kuncinya ada pada ketekunan. Kalau kita kurang tekun dan menganggap remeh proses, di situlah awal keterpurukan masa depan,” tutur Ana filosofis, Senin (25/5/2026).
Tentu, lolos seleksi berkas dan wawancara di Australia baru babak awal. Tantangan sesungguhnya adalah kultur.

UCAPAN SELAMAT: Kepala MAN 1 Kota Malang, Dr. H. Sutirjo, S.Pd., M.Pd, bersama dewan guru menerima ucapan salam perpisahan purnawiyata wisuda 2026 dari kelas XII. Berlangsung di Gedung Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang, Senin (25/05/2026). (Foto: Iwan Kaconk/Malang Post)
Ana sadar betul, beberapa bulan lagi dia harus mandiri secara siber dan sosial di negeri kanguru. Bahasa berbeda, cuaca berbeda, makanan berbeda. Mental harus baja.
Salsa Thoyyiba, sang kolega yang bersiap terbang ke Malaysia, mengangguk setuju.
Dia blak-blakan mengaku bahwa mereka berdua bukanlah tipe siswa yang “cerdas amat” sejak lahir. Mereka hanya anak-anak yang tidak tahu cara menyerah saat mengejar impian.
“Kami akan maksimalkan kesempatan emas ini. Ini pintu masuk menuju mimpi yang lebih besar. Kami ingin membawa nama baik orang tua, madrasah, dan membuktikan bahwa anak luar madrasah dari Malang bisa tampil kompetitif di kancah dunia,” tegas Salsa mantap.
Keberhasilan ganda ini bukan kecelakaan sejarah. Ini adalah hasil dari desain kurikulum yang matang.
Kepala MAN 1 Kota Malang, Dr. H. Sutirjo, S.Pd., M.Pd., membedah filosofi pendidikan di lembaganya. Menakhodai ratusan anak zaman sekarang, tidak bisa hanya dicekoki target nilai matematika atau fisika yang tinggi. Sisi spiritualitas justru menjadi jangkar utamanya.
“Fokus kami tidak hanya memburu prestasi akademik yang kaku. Kami menekankan kekuatan moral berakhlakul karimah dan wawasan Qur’ani. Bakat anak-anak ini kami layani secara inklusif,” jelas Sutirjo.

FORMASI LENGKAP: Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, Dr. H. Akhmad Sruji Bachtiar, M.Pd.I., diapit Kepala Kemenag Kota Malang dan Kepala MAN 1 setempat, serta beberapa Kepala Madrasah lainnya, usai prosesi Tasyakuran Purnawiyata atau Wisuda 2026. (Foto: Iwan Kaconk/Malang Post)
Hasil dari tangan dingin para guru itu terlihat nyata pada data kelulusan tahun ini. Dari 362 anak yang diwisuda, sekian puluh persennya langsung mengamankan kursi di PTN ternama.
Ada lima anak menyabet Golden Ticket, 51 siswa jebol jalur SNBP 2026. Mereka menyebar di UIN, Universitas Brawijaya (UB), Universitas Airlangga (Unair), Universitas Negeri Malang (UM), hingga Poltekkes.
Grafik prestasi MAN 1 memang sedang naik daun. Sepanjang periode 2023-2026, madrasah ini sudah mengoleksi hampir 1.000 piala di tingkat lokal hingga internasional. Khusus tahun ajaran 2025/2026 saja, ada 170 trofi baru yang masuk lemari sekolah.
“Kami mohon doa restu masyarakat Malang. Semoga anak didik kami yang masih di kelas XI dan XII bisa tertular virus ketekunan kakak kelasnya ini,” tambah Sutirjo.
Apresiasi tinggi pun datang dari Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, Dr. H. Akhmad Sruji Bachtiar, M.Pd.I. Datang langsung memotret perkembangan MAN 1, Bachtiar menyebut madrasah ini sudah menunjukkan tren peningkatan mutu yang masif. Kuncinya ada pada kolaborasi solid antara guru, kepala sekolah, dan komite madrasah.
Bachtiar bahkan memberi tantangan terbuka: MAN 1 Kota Malang harus berani memepet dan menyamai reputasi saudara tuanya, MAN 2 Kota Malang, yang sudah lama dikenal sebagai raksasa olimpiade nasional.
Layar masa depan kini telah terkembang bagi Ana dan Salsa. Dua srikandi muda Malang ini membuktikan, dari balik tembok madrasah yang sunyi dari hiruk-pikuk komersial, bisa lahir generasi bermental global.
Mereka tidak perlu menjadi yang paling jenius sejak lahir, karena di dunia nyata yang penuh persaingan, ketekunan ibadah dan kerja keras selalu punya cara tersendiri untuk mengalahkan kepintaran yang malas. Selamat terbang menuju cita-cita! (Iwan Kaconk/Ra Indrata)




