MALANG POST – Menyambut momentum peringatan Hari Bhayangkara ke-80, Kepolisian Resor Kota (Polresta) Malang Kota, resmi menggelar kompetisi seni dinding bertajuk Lomba Mural “Suara Kita” di Lantai 4 Gedung Malang Creative Center (MCC), Senin (25/5/2026). Ajang kreatif yang dibuka langsung oleh Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol. Putu Kholis Aryana, ini menjadi wadah taktis bagi 47 komunitas seniman lokal, termasuk penyandang disabilitas, untuk menyalurkan ekspresi kritis mereka secara legal. Sekaligus menjadi strategi preemtif kepolisian dalam menekan angka aksi vandalisme yang kerap merusak keindahan fasilitas publik di Bumi Arema.
Anak muda dan tembok sepi itu ibarat bensin dan percikan api. Gampang menyala.
Kalau dibiarkan tanpa wadah, tangan-tangan kreatif itu sering kali melompat pagar di tengah malam. Hasilnya Anda sudah tahu: coretan liar di fasilitas umum. Vandalisme. Tembok kota yang harusnya bersih berubah jadi kumuh akibat luapan emosi yang salah tempat.
Menghadapi seniman jalanan tidak bisa pakai pentungan. Pendekatannya harus diubah. Harus humanis.
Logika itulah yang dipakai oleh Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol. Putu Kholis Aryana. Daripada pasukannya sibuk kejar-kejaran dengan pembawa kaleng cat semprot di kegelapan malam, lebih baik mereka diberi panggung terhormat. Temboknya disediakan. Resmi. Di gedung semegah Malang Creative Center pula.
Senin pagi tadi, suasana di lantai 4 MCC mendadak riuh oleh aroma tiner dan cat warna-warni. Sebanyak 47 peserta yang lolos kurasi ketat sejak pertengahan Mei lalu sudah siap di depan kanvas dinding masing-masing. Begitu gong dipukul oleh Kapolresta, kompetisi resmi dimulai.

Mereka diberi waktu mepet. Hanya empat jam. Sejak pukul 10.00 hingga 14.00 WIB, para seniman harus memeras keringat demi mengubah dinding kosong menjadi media komunikasi visual yang hidup.
“Melalui lomba mural ini, kami ingin menghadirkan ruang ekspresi kreatif yang edukatif. Bahkan, kami membuka diri untuk kritikan yang membangun. Seni mural adalah media komunikasi visual yang efektif untuk menyampaikan pesan sosial kepada masyarakat,” ujar Kombes Pol. Putu Kholis Aryana, Senin (25/5/2026).
Polisi zaman sekarang memang harus berani dikritik. Di situlah letak kedewasaan institusi. Tema “Suara Kita” sengaja dipilih agar para seniman bisa memotret realitas sosial dengan jujur lewat goresan kuas mereka.
Jurus merangkul seniman jalanan ini dipertegas oleh Kasatreskrim Polresta Malang Kota, AKP Rakhmat Adji Prabowo. Baginya, urusan kriminalitas jalanan seperti vandalisme hulu masalahnya adalah ruang eksistensi yang mampet.
“Vandalisme sering muncul karena pelampiasan emosi atau sekadar mencari eksistensi dengan mencoret tembok tanpa izin. Jelas itu merugikan lingkungan dan melanggar hukum. Tapi lewat wadah resmi seperti ini, karya mereka menjadi legal, terarah, dan bernilai estetika tinggi,” jelas AKP Rakhmat.
Hebatnya lagi, kompetisi ini tidak diskriminatif. Para penyandang disabilitas ikut diberi ruang, sejajar dengan komunitas seni mural lainnya. Setiap karya yang dihasilkan tidak hanya adu cantik urusan artistik, tapi juga membawa pesan moral yang kuat untuk menjaga ketertiban kota.
Membangun stabilitas kamtibmas di Kota Malang tidak melulu soal patroli sirine dan penegakan hukum di ruang sidang. Pendekatan partisipatif seperti ini jauh lebih menancap ke sanubari generasi muda.
Ketika polisi berani menyediakan tembok dan membiarkan dirinya dikritik lewat seni, di situlah kedekatan sejati sedang dibangun. Lewat empat jam goresan cat di MCC, Polresta Malang Kota membuktikan bahwa suara kritis masyarakat tidak perlu disemprot hitam oleh aparat, melainkan layak diberi ruang warna-warni agar bernilai seni tinggi. (HmsResta/Ra Indrata)




