MALANG POST – Teka-teki mengenai masa depan legiun asing di sektor pertahanan Arema FC, akhirnya terjawab setelah penjaga gawang utama asal Brasil, Lucas Frigeri, secara resmi menyatakan pamit dan meninggalkan skuad Singo Edan melalui unggahan di akun media sosial pribadinya. Kepergian kiper berusia 36 tahun yang sukses mempersembahkan gelar juara Piala Presiden 2024 ini, menjadi sinyal awal perombakan total komposisi pemain asing, yang dilakukan oleh manajemen Arema untuk menyongsong kompetisi kasta tertinggi Super League musim 2026/2027.
Satu lagi cerita indah di bawah mistar gawang Arema FC resmi berakhir. Berakhir dengan jabat tangan yang hangat.
Kiper asal Brasil, Lucas Frigeri, memutuskan angkat koper. Dia pamit. Unggahan di Instagram pribadinya, @lucasfrigeri01, menjadi surat perpisahan yang mengharukan bagi publik sepak bola Malang Raya.
“Hari ini adalah hari untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Arema FC, klub besar dan keluarga luar biasa yang telah saya pelajari untuk saya cintai dan hormati,” tulis Frigeri, Minggu (24/5/2026) sore kemarin.
Dua musim bukan waktu yang sebentar untuk ukuran pemain asing di Indonesia. Frigeri didatangkan dari Madura United pada awal musim 2024/2025 dengan status bebas transfer. Sejak hari pertama mendarat, dia langsung menjadi pilar penting.
Anda tentu belum lupa: trofi Piala Presiden 2024 bisa dibawa pulang ke Malang, salah satunya karena ketangguhan jemari Frigeri di babak adu penalti.

Secara statistik keseluruhan, kontribusinya luar biasa. Dia mengawal gawang Arema dalam 62 pertandingan di semua ajang. Khusus di kompetisi liga, dia mencatatkan 4.676 menit bermain dari 54 laga. Sisanya dia habiskan di turnamen pramusim.
Namun, roda nasib di sepak bola itu berputar sangat cepat. Hukum alamnya kejam: yang tua harus siap digusur yang muda.
Musim 2025/2026 yang baru saja usai menjadi periode yang berat bagi Frigeri. Kedatangan kiper lokal berlabel Timnas, Adi Satryo, mengubah segalanya. Menit bermain pria Brasil ini merosot tajam. Dia hanya kebagian porsi tampil 21 kali dengan total 1.706 menit.
Mengapa begitu? Karena tim pelatih mulai melakukan regenerasi taktis.
Menariknya, meski sering duduk di bangku cadangan, kualitas Frigeri tidak luntur. Tengok saja rasionya. Angka kebobolannya justru membaik, dari 1,48 gol per laga di musim pertama menjadi 1,38 gol per laga di musim ini.
Bahkan, Frigeri tetap tercatat sebagai kiper dengan jumlah penyelamatan (saves) terbanyak di Arema musim ini. Total 71 kali dia menggagalkan peluang emas lawan. Dia mengungguli Adi Satryo yang mengemas 44 penyelamatan.
Ingatan Aremania pasti masih segar pada laga kontra Persib Bandung bulan lalu. Hari itu, Frigeri tampil kesurupan. Sebanyak 12 tembakan roket yang dilepaskan pemain Persib murni mentah di tangannya. Gawang Arema suci dari kebobolan.
Bagi Aremania, Frigeri punya tempat khusus. Ada hubungan batin yang unik.
Saat performanya sempat drop di beberapa laga, suporter sempat menyentilnya dengan julukan “Kakek”. Maklum, usianya sudah kepala tiga.
Tapi dasar Frigeri orangnya humoris dan berhati besar. Dia tidak marah. Kritik itu justru dia terima sebagai bentuk kasih sayang yang jenaka.
“Terima kasih untuk semuanya, Malang. Kalian akan selalu ada di hati saya. Dengan penuh kasih, Kakek Lucas Frigeri,” tulisnya menutup pesan perpisahan.
Lantas, ke mana Kakek Frigeri akan melangkah setelah dari Malang?
Banyak yang mengira dia akan pulang kampung ke Brasil untuk pensiun. Dugaan itu tampaknya keliru. Tenaganya ternyata masih laku keras di Indonesia.
Berdasarkan laporan akun pemantau transfer terpercaya, @fabrizioasia_, saat ini sudah ada tiga klub kasta tertinggi Liga 1 yang sedang mengintai dan mengantre tanda tangannya.
Sang kiper sendiri dikabarkan masih bernafsu melanjutkan kariernya di Indonesia untuk musim depan.
Satu slot pemain asing Arema FC kini resmi kosong. Manajemen Singo Edan yang dipimpin Yusrinal Fitriandi kini harus memutar otak mencari suksesor sepadan.
Menemukan kiper tangguh itu mudah, tapi menemukan sosok asing yang memiliki jiwa pengayom dan sedekat “Kakek” Frigeri dengan Aremania, itulah pekerjaan rumah yang sesungguhnya. Selamat jalan, Kakek Lucas! (Ra Indrata)




