MALANG POST – Ancaman kekeringan nyata mulai mengintai wilayah Malang Raya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa puncak musim kemarau tahun 2026 diprakirakan bakal menerjang kawasan ini pada Agustus hingga September mendatang.
Situasi ini diperparah oleh proyeksi menguatnya fenomena El Nino pada penghujung tahun, di mana peluang peningkatan curah hujan diprediksi baru akan berembus masuk pada November.
Sengkarut ancaman krisis air bersih, fenomena suhu dingin ekstrem (bediding), hingga potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dibedah tuntas dalam program talk show Idjen Talk di Radio City Guide 911 FM pada Sabtu (25/7/2026) hari ini.
Koordinator Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Ahmad Luthfi, memaparkan bahwa penurunan curah hujan yang terjadi sejak Mei akan mencapai titik terendahnya dua bulan ke depan. Kabupaten Malang menjadi wilayah yang paling rentan karena sangat menggantungkan nasib pada air hujan.
“Kondisi kemarau ditandai langit cerah dan minim awan. Efeknya, radiasi matahari lepas maksimal pada malam hari, memicu fenomena bediding atau penurunan suhu udara secara drastis hingga di bawah 20 derajat Celsius di perkotaan, bahkan menembus di bawah 10 derajat Celsius di kawasan pegunungan seperti Bromo. Waspadai juga potensi angin kencang hingga akhir Juli,” wanti Luthfi.
BPBD Buka Opsi Dropping Air dan Antisipasi Karhutla
Merespons paparan BMKG, pemerintah daerah memastikan benteng pertahanan krisis air siap siaga. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Malang, Purwoto, menyebut dampak kemarau sejauh ini relatif lebih terkendali dibanding tahun lalu.
Hingga akhir Juli, permintaan bantuan dropping air bersih baru masuk dari satu titik di Kecamatan Sumbermanjing Wetan akibat menyusutnya debit sumur warga.
“Indikator kekeringan kritis adalah saat sumur warga dan sumber mata air surut total. Jika ada desa yang terdampak, silakan ajukan permohonan. Tim BPBD akan langsung melakukan asesmen dan mengiring armada tangki air bersih ke lokasi,” tegas Purwoto.
Selain Sumbermanjing Wetan, BPBD memetakan enam wilayah rawan krisis air bersih yang terus dipantau intensif: Gedangan, Pagak, Donomulyo, Kalipare, dan Bantur. Penanganan jangka panjang disiasati melalui perluasan jaringan pipa Perumda Tirta Kanjuruhan.
Tak hanya urusan dahaga warga, BPBD memprioritaskan pasokan air baku sektor pertanian serta siaga penuh membendung Karhutla. Masyarakat dilarang keras membakar sampah atau membuat titik api sembarangan di lahan kering dan kawasan hutan agar bencana tidak meluas. (Yolanda Oktaviani/Ra Indrata)




