JAWARA U-12: Tim putri SDN Lowokwaru 3, meraih trofi juara KU 12 MilkLife Soccer Challenge Malang Seri 2 2025-2026, setelah di final mengalahkan SDN 3 Pandanlandung. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
MALANG POST – Tim sepak bola putri SDN Lowokwaru 3 Kota Malang dan SDN Tulungrejo 02 Bumiaji, sukses menasbihkan diri sebagai penguasa baru lapangan hijau setelah berhasil merengkuh gelar juara dalam ajang bergengsi “MilkLife Soccer Challenge Malang Seri 2 2025-2026” di Stadion Gajayana, Malang, Minggu (24/5/2026) sore. Dalam partai final yang berlangsung sengit tersebut, tim KU 12 SDN Lowokwaru 3, tampil digdaya dengan mencukur SDN 3 Pandanlandung 3-0 berkat torehan hat-trick fantastis Adelice Maureen. Sedangkan di kategori KU 10, kejutan besar dihadirkan oleh anak-anak dataran tinggi SDN Tulungrejo 02, yang sukses mengandaskan perlawanan ketat SDN Tunjungsekar 3 dengan skor akhir 3-1.
Stadion Gajayana saksinya. Sebanyak 2.161 siswi sekolah dasar dari 122 SD dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) se-Malang Raya berkumpul. Mereka datang bukan untuk menonton, melainkan bertarung berebut takhta tertinggi turnamen, yang digagas oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation dan MilkLife ini.
Jangan bayangkan laga anak-anak ini berjalan membosankan. Sebaliknya, atmosfer final sore kemarin justru menyajikan drama taktis yang luar biasa riuh.
Mari kita tengok dulu final Kategori Usia (KU) 12.
Begitu peluit sepak mula dibunyikan wasit, para penggawa putri SDN Lowokwaru 3 langsung menghentak. Mereka memperagakan permainan menekan yang agresif. Hasilnya instan. Pertandingan baru berjalan empat menit, jaring gawang SDN 3 Pandanlandung sudah bergetar dua kali.
Aktor utamanya? Siapa lagi kalau bukan Adelice Maureen Hanum Faisal.
Striker haus gol itu mencetak gol kilat pada menit ke-2 dan ke-4. SDN 3 Pandanlandung sebenarnya bukan tanpa perlawanan. Mereka sempat mendapat momentum emas melalui hadiah penalti yang dieksekusi oleh Aisyah Alya Putri.
Namun, kiper SDN Lowokwaru 3, Aisyah Fadzila Samha, tampil bak pahlawan. Dia membaca arah bola dengan jeli dan menggagalkan penalti tersebut. Skor 2-0 bertahan hingga turun minum.
Jelang laga bubar, dominasi Adelice benar-benar tak terbendung. Dia kembali mencatatkan namanya di papan skor, melengkapi catatan hat-trick, sekaligus mengunci kemenangan mutlak 3-0.
Tambahan tiga gol di final ini memantapkan posisi Adelice sebagai Top Scorer turnamen dengan koleksi 36 gol. Luar biasa.
“Lumayan capek karena harus bisa mengatur waktu antara latihan dan istirahat supaya tetap fit. Tapi saya sangat senang perjuangan ini terbayar lunas. Kemenangan ini untuk orang tua yang selalu mendukung saya,” ujar Adelice sembari menyeka keringatnya.
Pelatih SDN Lowokwaru 3, Hazmi Wardi, S.Pd., tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Instruksi taktisnya dijalankan dengan sempurna oleh anak-anak asuhnya yang bercita-cita menjadi pemain profesional.
“Alhamdulillah berjalan baik. Terima kasih atas sumbangsih gol dari Adelice. Mudah-mudahan ke depan turnamen MilkLife Soccer Challenge bisa bergulir lagi di Kota Malang karena kompetisi seperti ini penting agar pembinaan tidak terputus,” kata Hazmi.

JAWARA U-10: Tim putri SDN Tulungrejo 02, sukses menjadi juara KU 10 MilkLife Soccer Challenge Malang Seri 2 2025-2026, setelah di final mengalahkan Tunjungsekar 3. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
Tidak kalah seru, kisah heroik juga lahir di final kategori KU 10.
SDN Tulungrejo 02 membuktikan bahwa kerja keras mengalahkan segalanya. Pada Seri 1 lalu, langkah mereka terhenti prematur di babak delapan besar.
Tapi sore kemarin, ceritanya digubah total menjadi dongeng indah. Mereka menekuk tim tangguh SDN Tunjungsekar 3 dengan skor telak 3-1.
Gol kemenangan anak-anak Tulungrejo dicetak oleh Azzahra Nur Fitria pada menit ke-11, disusul sepasang gol dari Kholifah Nur Avilia pada menit ke-17 dan 27. SDN Tunjungsekar 3 hanya sempat memperkecil kedudukan lewat Jingga Meutia pada menit ke-13.
Apa rahasia kebangkitan anak-anak Tulungrejo?
Pelatih SDN Tulungrejo 02, Tri Cahyo Suseno, membuka kartu taktiknya. Baginya, ini bukan sekadar urusan membenahi teknik dasar atau situasi bola mati (set piece). Ini soal mengelola isi kepala anak-anak usia sembilan hingga sepuluh tahun.
“Fisik anak-anak kami untungnya sudah bagus karena kami tinggal di dataran tinggi (Batu). Jadi, persiapan khusus kemarin lebih ke menata mental dan menjaga mood anak-anak agar tetap gembira saat masuk lapangan. Hasilnya maksimal,” ungkap Tri Cahyo bersyukur.
Turnamen sore itu resmi ditutup dengan penyerahan piagam penghargaan dan piala tetap. Sebanyak 116 tim di kategori KU 12 dan 82 tim di kategori KU 10 telah memberikan segalanya di atas rumput Gajayana.
Rona bahagia terpancar dari wajah-wajah srikandi cilik Malang Raya. Dari kaki-kaki kecil yang lincah menendang bola di Gajayana inilah, masa depan cerah sepak bola putri Indonesia sedang disemai dengan penuh harapan dan tawa. (Ra Indrata)




