MALANG POST – Jajaran Kepolisian Resor (Polres) Malang menggelar rapat koordinasi (rakor) eksternal skala besar, guna mematangkan strategi pengamanan laga pamungkas pekan ke-34 kompetisi Super League 2025/2026, antara Arema FC menjamu PSIM Yogyakarta, Selasa (19/5/2026). Langkah taktis yang dilangsungkan di ruang rapat utama Polres Malang ini, melibatkan seribu lebih personel gabungan TNI-Polri, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang, panitia pelaksana (panpel), hingga jajaran steward demi menjamin keamanan total di seluruh zona Stadion Kanjuruhan, Kepanjen.
Sepak bola di Malang bukan sekadar olahraga. Ini adalah denyut nadi. Ini adalah emosi yang meluap-luap.
Jumat sore (22/5/2026) adalah puncaknya. Laga terakhir musim ini. Arema FC akan menutup lembaran kompetisi dengan menjamu Laskar Mataram dari Yogyakarta.
Laga penutup selalu punya magnet tersendiri. Potensi penonton melimpah sangat besar. Maka, urusan keamanan tidak boleh ditaruh di bawah meja. Remeh-temeh potensi kerawanan harus dihitung sejak dini.
Kapolres Malang, AKBP Muhammad Taat Resdi, tidak mau ada celah sekecil apa pun di Kanjuruhan. Ia langsung memimpin rakor itu. Mengumpulkan semua elemen pengaman dalam satu meja birokrasi.
“Pertandingan terakhir Arema FC sekaligus penutup kompetisi liga diharapkan bisa berjalan dengan baik, lancar, dan kondusif. Seluruh unsur pengamanan harus memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing,” ujar AKBP Muhammad Taat Resdi, Selasa (19/5/2026).
Garis Tegas di Pintu Skrining
AKBP Taat tahu betul psikologi massa penonton sepak bola. Emosi di tribun itu cair—mudah sekali tersulut jika ada pemicunya.

Kapolres Malang, AKBP Muhammad Taat Resdi. (Foto: Humas Polres Malang)
Maka, dalam rakor tersebut, peta kerawanan dibedah telanjang. Titik-titik krusial di luar maupun di dalam stadion diberi tanda merah.
Pencegahan dimulai dari pintu masuk. Polisi memasang pagar betis yang kaku. Lebih dari 1.000 personel gabungan—terdiri dari kekuatan Polda Jatim, Polres Malang, prajurit TNI, hingga petugas dinas teknis Pemkab Malang—akan disebar memutari stadion.
Pemeriksaan tubuh (body checking) suporter di pintu gerbang luar akan diperketat. Berlapis. Tidak ada dispensasi.
Aturannya jelas: barang-barang yang berpotensi merusak jalannya laga, dilarang keras melompati pagar stadion. Petugas akan memburu flare (cerawat), botol minuman keras, senjata tajam, hingga korek api gas.
Sebab, satu saja flare menyala di tribun, denda ratusan juta dari operator liga, siap menanti manajemen Arema. Belum lagi risiko kepulan asap tebal yang bisa mengganggu kesehatan dan jalannya pertandingan.
“Petugas pengamanan tetap melaksanakan pengecekan secara detail terhadap suporter yang akan memasuki stadion. Kami juga mengimbau agar tidak membawa flare, minuman keras, senjata tajam, maupun barang terlarang lainnya,” tegas perwira melati dua tersebut.
Mengurai Simpul Macet Jalur Kepanjen
Urusan Kanjuruhan bukan hanya soal apa yang terjadi di atas rumput hijau, atau di dalam tribun beton. Jalanan di luar stadion juga berpotensi menjadi labirin kemacetan yang menyiksa warga.
Sore hari di hari Jumat adalah waktu yang sibuk. Jam pulang kerja buruh pabrik dan pegawai kantor bergesekan langsung dengan jam kedatangan ribuan suporter Aremania dari berbagai penjuru daerah.
Antisipasi rekayasa lalu lintas sudah disiapkan oleh Satlantas Polres Malang. Beberapa simpul jalan menuju kompleks Stadion Kanjuruhan, akan dialihkan atau diperketat arusnya.
Tujuannya satu: agar kendaraan penonton dan pengguna jalan umum tidak menumpuk di satu titik sehingga menciptakan bottleneck total di Kepanjen.
Rakor eksternal sudah selesai diketuk palu. Cetak biru pengamanan sudah dipegang oleh masing-masing komandan kompi di lapangan.
Menjaga pertandingan sepak bola di Malang agar berjalan aman, tertib, dan nyaman memang menguras energi yang luar biasa besar.
Namun, dengan sinergi yang matang antara aparat keamanan, panpel, dan kedewasaan suporter dalam mematuhi aturan, laga pamungkas esok sore seharusnya bisa menjadi pesta penutup musim yang indah dan damai di bumi Arema. (HmsResma/Ra Indrata)




