MALANG POST – Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang (UM), Prof. Imam Mukhlis, bersama pakar edukasi finansial, Amang Rifai, meminta masyarakat Indonesia, khususnya di Malang Raya, untuk tetap tenang dan tidak melakukan penarikan investasi secara massal (panic selling) di tengah tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kini menembus angka Rp17.600. Pernyataan kolektif tersebut disampaikan langsung dalam program talkshow Idjen Talk di Radio City Guide 911 FM, Senin pagi (18/5/2026), sebagai respons atas gejolak eksternal akibat ketidakstabilan geopolitik global yang terus menekan mata uang negara-negara berkembang sejak awal tahun.
Dolar kembali perkasa. Rupiah tertekan. Itu realitasnya hari ini.
Mari kita tengok angkanya. Pergerakan kurs sejak 1 Januari 2026 hingga pertengahan Mei ini memang bikin dahi berkerut. Di awal tahun, rupiah masih anteng di kisaran Rp16.600 per dolar AS. Hari ini? Angkanya sudah merangkak naik ke level Rp17.600. Ada selisih seribu rupiah.
Bagi orang awam, angka ini menyeramkan. Tapi bagi Prof. Imam Mukhlis, situasi ini harus dibaca dengan kepala dingin.
“Penyebab utamanya murni faktor eksternal. Kondisi global belum stabil. Nanti, ketika tensi geopolitik dunia mulai mereda dan stabil, kurs dolar terhadap Indonesia pasti akan membaik dengan sendirinya,” ujar Prof. Imam saat mengudara, Senin (18/5/2026).
Modal Kuat Indonesia: Inflasi Hanya 0,13 Persen
Ada alasan mengapa kita tidak boleh pasrah, apalagi panik. Indonesia punya banteng pertahanan ekonomi yang kuat di dalam negeri.
Prof. Imam membuka data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS). Hasilnya mengejutkan di tengah badai global: inflasi dari bulan ke bulan (month-to-month) Indonesia masih sangat jinak, berada di angka 0,13 persen.
Ini angka yang sangat seksi di mata internasional. Logikanya, daya beli domestik kita sebenarnya masih sehat. Kondisi inflasi yang terkendali ini seharusnya menjadi magnet kuat untuk menarik investor asing tetap menanamkan modalnya di tanah air.
Bagi emak-emak di pasar atau rumah tangga, pelemahan kurs ini belum berdampak langsung pada harga beras, minyak, atau kebutuhan dapur harian. “Masyarakat tenang dulu. Ini berpengaruh besar pada kegiatan impor barang baku, bukan kebutuhan harian lokal,” tambahnya.
Jangan Tarik Investasi, Masih Banyak Sektor Stabil
Gayung bersambut. Di studio yang sama, Financial Educator Amang Rifai memperkuat analisis tersebut. Pelemahan mata uang bukan monopoli Indonesia. Hampir seluruh negara di dunia merasakannya akibat perang dagang dan konflik geopolitik yang tak kunjung usai.
Bahkan, jika mau jujur melihat ke tetangga kanan-kiri, banyak negara lain yang nasib mata uangnya jauh lebih tragis dan babak belur ketimbang rupiah.
Amang mengendus ada bahaya lain jika masyarakat merespons pergerakan dolar ini dengan kepanikan psikologis. Bahaya itu bernama rush money—mengambil semua dana investasi secara serentak karena takut rugi.
“Masyarakat tidak perlu panik sampai harus mencairkan semua portofolio investasinya. Jangan. Di tengah situasi seperti ini, masih banyak sektor investasi domestik yang terbukti tetap kokoh dan stabil,” jelas Amang Rifai.
Pertahanan Mulai dari Meja Makan
Lantas, apa yang bisa dilakukan rakyat kecil? Amang menawarkan solusi mikro yang taktis. Menjaga inflasi bangsa tidak harus selalu menunggu kebijakan menteri keuangan. Kita bisa memulainya dari meja makan kita sendiri. Dari tingkatan keluarga.
Caranya: bijak menggunakan uang. Tahan dulu pengeluaran konsumtif yang tidak mendesak. Kelola arus kas domestik dengan ketat.
Langkah terbaik saat ini adalah memberikan ruang kepercayaan kepada pemerintah dan Bank Indonesia yang sedang merumuskan bauran kebijakan moneter terbaik di belakang meja.
Badai dolar pasti berlalu. Sejarah mencatat, ekonomi Indonesia berkali-kali diuji oleh krisis global dan selalu berhasil keluar sebagai pemenang. Kuncinya cuma dua: pemerintah yang taktis menembakkan stimulus, dan rakyat yang tenang menjaga kestabilan dompet keluarga. (Wulan Indriyani/Ra Indrata)




