DUEL: Matheus Blade terus ditempel ketat Uilliam Baros dalam laga Persib vs Arema. Skor akhir tanpa gol di laga pekan ke-29 Super League. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Arema FC sukses menorehkan tinta emas dalam perjalanan mereka di musim ini, dengan menjadi tim pertama yang mematahkan rekor kemenangan beruntun (win streak) Persib Bandung di kandang sendiri.
Dalam laga panas pekan ke-29 Super League 2025-2026, di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Jumat (24/4/2026) malam, Singo Edan memaksa skor imbang tanpa gol. Tidak hanya soal taktik, laga ini menjadi panggung bersejarah bagi indahnya perdamaian ribuan Aremania yang duduk satu tribune dengan suporter tuan rumah, Bobotoh dan Viking.
Meski laga berakhir tanpa gol, tensi pertandingan benar-benar menguras emosi. Pelatih Arema FC, Marcos Santos, mengaku sempat geregetan melihat jalannya laga. Pasalnya, sebuah peluang emas di menit ke-86 nyaris membuat publik Bandung terdiam.
Melalui skema serangan balik cepat, Gustavo França melepaskan umpan silang akurat yang mengarah tepat ke arah Salim Tuharea. Namun, tembakan terukur Salim berhasil ditepis secara heroik oleh kiper masa depan Persib, Fitrah Maulana.
“Kami tahu betapa sulitnya mencuri poin di GBLA. Kami mampu meredam pemain-pemain kunci Persib hampir sepanjang laga. Sebetulnya, kami memiliki satu peluang emas di akhir babak kedua untuk memenangkan pertandingan, namun sayangnya belum menjadi gol,” ungkap Marcos Santos dalam sesi konferensi pers usai laga.
Disiplin Taktik Meredam Agresi Maung Bandung
Statistik pertandingan menunjukkan dominasi mutlak tuan rumah yang tampil agresif sejak peluit pertama. Persib tercatat melepaskan 29 tembakan, di mana 12 di antaranya mengarah tepat ke gawang (on target).
Namun, tembok pertahanan berlapis yang dibangun Marcos Santos terbukti sangat kokoh. Penampilan cemerlang Lucas Frigeri di bawah mistar gawang juga menjadi faktor kunci kegagalan Persib mengamankan poin penuh.
Marcos memuji dedikasi para pemainnya yang mau bekerja keras mempelajari skema permainan lawan sepanjang pekan latihan. “Kami mampu mendedikasikan diri, mempelajari Persib dengan sangat detail, dan menyusun rencana permainan yang disiplin. Itulah yang kami latih setiap hari dan dijalankan dengan luar biasa oleh para pemain saat pertandingan,” imbuh pelatih asal Brasil ini.
Senada dengan sang pelatih, striker asal Brasil, Joel Vinicius, mengaku sangat bangga dengan pencapaian timnya. Vinicius yang tampil sebagai starter selama 62 menit menyadari bahwa membawa pulang satu poin dari Bandung bukanlah perkara mudah. Sejarah musim ini mencatat, 14 tim tamu sebelumnya selalu pulang dengan “tangan hampa” dari markas Maung Bandung.
“Saya bangga dengan sikap disiplin dan dedikasi rekan-rekan. Kami tahu betapa angkernya bermain di sini. Syukurlah, Arema menjadi tim pertama yang menodai rekor kemenangan beruntun mereka di kandang sendiri musim ini,” tutur pemilik nomor punggung 9 tersebut.

SATU TRIBUNE: Aremania dan Bobotoh plus Viking, bisa duduk bersama tanpa sekat dan penuh dengan persaudaraan. (Foto: Istimewa)
Pesan Damai dari Tribune GBLA untuk Dunia
Di balik duel fisik yang keras di lapangan hijau, pemandangan di tribune Stadion GBLA justru menghadirkan suasana sejuk yang mengharukan. Ribuan Aremania tampak bersanding mesra dengan Bobotoh dan Viking tanpa ada gesekan sedikit pun.
Mereka saling sahut menyahut memberikan dukungan melalui chant dan koreografi kreatif. Salah satu yang mencuri perhatian adalah bentangan spanduk bergambar Singa dan Macan yang berangkulan sebagai simbol persaudaraan.
Marcos Santos mengaku takjub melihat fenomena tersebut. Sebagai pelatih yang lama berkarier di Brasil, ia menyebut atmosfer kedamaian dua kelompok suporter besar ini adalah sesuatu yang langka di kancah sepak bola dunia.
“Sangat menyenangkan melihat hal itu. Saya pikir, Indonesia baru saja memberi contoh bagi dunia internasional. Di negara saya, Brasil, hampir mustahil melihat kemesraan suporter lawan di satu tribune. Mendapat apresiasi dari pendukung lawan adalah penghargaan tertinggi dalam sepak bola,” puji Marcos.
Dedikasi untuk Aremania: Semangat Singo Edan Kembali
Bagi Marcos, rasa hormat yang ditunjukkan Bobotoh kepada Arema di akhir laga merupakan cerminan dari perjuangan “berdarah-darah” anak asuhnya. Meskipun gagal mencetak gol, para pemain Arema dianggap telah menghidupkan kembali “jiwa petarung” yang menjadi identitas Singo Edan selama ini.
“Para pemain adalah pejuang sejati. Mereka menghidupkan kembali semangat juang di lapangan. Meski tidak menang, saya yakin Aremania bangga karena melihat tim yang kuat dan penuh dedikasi. Dukungan satu tribune ini adalah hasil dari para pemain yang memberikan segalanya, sehingga suporter pun memberikan apresiasi yang luar biasa,” pungkasnya.
Hasil imbang ini tidak hanya mengamankan posisi Arema di papan klasemen, tetapi juga membuktikan bahwa kematangan taktik dan kedewasaan suporter dapat berjalan beriringan guna membangun ekosistem sepak bola Indonesia yang lebih bermartabat. (Ra Indrata)




