MALANG POST – Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menggelar kegiatan akademik inspiratif melalui agenda bedah buku “Dialog Model Baru dengan Al-Qur’an: Tren Gen-Z Berinteraksi dengan Kitab Suci”. Kegiatan ini dilaksanakan Rabu, 22 April 2025 diikuti ratusan mahasiswa dan mahasiswi prodi ILHA dan IAT menghadirkan penulis buku, Prof. Dr. Phil. H. Mohammad Nur Kholis Setiawan, M.A., sebagai narasumber utama.
Prof. Nur Kholis dikenal sebagai akademisi, intelektual Muslim, birokrat, serta Guru Besar Tafsir Al-Qur’an di UIN SAIZU Purwokerto. Ia juga telah menulis sejumlah buku di bidang ilmu Al-Qur’an dan tafsir, di antaranya Pemikiran Progresif dalam Kajian Al-Qur’an, Orientalisme Al-Qur’an, Al-Qur’an Kitab Sastra Terbesar, dan Rekonstruksi Studi Ulumul Qur’an.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Rektorat Lantai V ini dihadiri oleh jajaran pimpinan kampus, di antaranya Wakil Rektor I Drs. H. Basri, M.A., Ph.D., Wakil Rektor III Prof. Dr. H. Triyo Supriyatno, M.Ag., serta pimpinan Fakultas Syariah. Turut hadir Dekan Fakultas Syariah Prof. Dr. Hj. Umi Sumbulah, M.A., para wakil dekan, ketua dan sekretaris program studi, dosen, serta ratusan mahasiswa fakultas syariah dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) dan Ilmu Hadis (ILHA).
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Syariah, Prof. Umi Sumbulah, menyampaikan bahwa tema buku yang diangkat sangat relevan dengan kompetensi mahasiswa, khususnya di bidang IAT dan ILHA. Ia menilai buku tersebut mampu menghadirkan perspektif baru dalam memahami Al-Qur’an di era digital.
“Judul buku ini sangat sesuai dengan kompetensi mahasiswa IAT dan ILHA. Ini bisa menjadi sumber inspirasi sekaligus motivasi dalam memperdalam interaksi dengan Al-Qur’an, terlebih di tengah perkembangan teknologi digital saat ini,” ujarnya.
Ia juga berharap kegiatan ini dapat mendorong dosen untuk semakin produktif dalam menulis dan menghasilkan karya akademik yang berdampak luas, sebagaimana dicontohkan oleh Prof. Nur Kholis yang konsisten mengembangkan kajian keilmuan, termasuk di bidang tasawuf.

Sementara itu, Wakil Rektor I bidang akademik, Drs. H. Basri, Ph.D., yang secara resmi membuka acara, menegaskan pentingnya menghadirkan figur akademisi inspiratif di tengah mahasiswa. Ia menyebut Prof. Nur Kholis sebagai sosok dengan rekam jejak akademik yang kuat, termasuk dalam penulisan karya ilmiah berbahasa Inggris.
“Beliau adalah sosok akademisi yang patut menjadi teladan. Karya-karyanya menunjukkan dedikasi tinggi dalam dunia keilmuan. Kami berharap kegiatan ini mampu menginspirasi mahasiswa untuk terus mengembangkan kapasitas akademik mereka,” tuturnya.
Dalam sesi pemaparan, Prof. Nur Kholis Setiawan, yang juga pernah menjadi tim penulis Tafsir Al-Qur’an Tematik Kementerian Agama RI (2008–2012), mengulas bagaimana generasi Z memiliki pola interaksi yang berbeda dengan Al-Qur’an. Menurutnya, perkembangan teknologi digital telah mengubah cara membaca, memahami, dan mengamalkan ajaran kitab suci, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih kontekstual.
Ia menjelaskan bahwa kajian Al-Qur’an saat ini berkembang dari pendekatan tekstual hingga living Qur’an, mencerminkan dinamika interaksi umat dengan kitab suci dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam buku tersebut, terdapat 14 tulisan hasil riset mahasiswa yang menggunakan berbagai pendekatan, seperti hermeneutika ma’na cum maghza, tafsir tematik, tafsir ilmi, living Qur’an, semiotika dan semantik, hingga teori struktur sosial. Seluruh kajian tersebut merepresentasikan isu-isu kontemporer dalam studi Al-Qur’an.
Prof. Nur Kholis juga memberikan motivasi kepada mahasiswa agar percaya diri dalam mengembangkan potensi akademik mereka.
“Tidak ada alasan bagi mahasiswa IAT dan ILHA untuk merasa bingung atau minder. Jadilah pribadi yang percaya diri, bahkan jika perlu ‘percaya diri over dosis’. Mahasiswa memiliki kelebihan dalam keluwesan berpikir dan jejaring yang luas,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa mahasiswa IAT dan ILHA memiliki peluang besar untuk mengeksplorasi kandungan Al-Qur’an secara mendalam dan relevan dengan perkembangan zaman.
Kegiatan ini berlangsung dengan antusiasme tinggi. Hal tersebut terlihat dari banyaknya peserta yang hadir serta aktifnya mahasiswa dalam sesi diskusi. Bedah buku ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat tradisi akademik sekaligus memperkaya cara pandang generasi muda terhadap Al-Qur’an di era digital. (*/Ra Indrata)




