MALANG POST – Pembangunan embung di kawasan Cemrokandang, Kota Malang, diyakini akan dapat menjadi solusi untuk mengatasi banjir luapan Sungai Amprong. Sebab, banjir yang dari kawasan atas itu dapat tertampung terlebih dulu di daerah Cemorokandang. Kebetulan Cemorokandang merupakan wilayah Kota Malang yang lokasinya lebih tinggi dibanding wilayah lain di Kecamatan Kedungkandang.
Seperti diketahui, pemukiman penduduk di sepanjang Kali Amprong di Kedungkandang selalu jadi langganan banjir saat musim hujan. Baik hujan turun di Kota Malang atau tidak, selama wilayah atas yaitu Tumpang dan Pakis, Kabupaten Malang, hujan lebat maka banjir kiriman itu pasti terjadi di kawasan yang berada di bawahnya.
Terbaru banjir yang melanda kawasan itu terjadi mulai Selasa (21/4/2026) sore hingga Rabu (22/4/2026) dini hari. Saat itu, hujan lebat melanda Malang Raya. “Ketinggian air banjir kali ini sekitar 70 cm dan menggenangi rumah kavling penduduk dan lahan kosong di Gang Mirej, Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang. Namun, tengah malam, banjir mulai surut,” ujar seorang warga.
Warga mengakui setiap musim hujan, Gang Miraj selalu jadi langganan banjir. Pada akhir Desember 2025, rumah warga yang tergenang banjir lebih banyak. “Dulu rumah yang terdampak lebih banyak. Sampai di sini (sekitar 200 meter dari rumah kambing yang kemarin tergenang banjir,” ungkap Bu Nur, warga Gang Mirej.
Informasinya, banjir kiriman dari daerah atas (Tumpang atau Pakis, Kabupaten Malang-red) yang terjadi kemarin juga melanda di Gang 12 Kelurahan Lesanpuro.
Banjir luapan dari Kali Amprong ini pun mendapat perhatian Walikota Malang, Wahyu Hidayat. Tidak sampai menunggu laporan resmi masuk di ruang kerjanya, Walikota Wahyu Hidayat turun langsung ke bantaran Sungai Amprong, Selasa (21/4/2026). Ia meninjau titik banjir langganan di Gang Mirej dan Gang 12 yang sebulan terakhir sudah lima kali tergenang banjir kiriman.
“Ya, ini saya ingin melihat secara langsung, ya istilahnya banjir kiriman. Tetapi ya karena ini yang berdampak, kami akan cari solusi untuk mengatasinya,” kata Wahyu saat berdialog dengan warga terdampak di lokasi.

Walikota Malang, Wahyu Hidayat, didampingi sejumlah Kepala Perangkat Daerah saat meninjau dampak banjir luapan Kali Amprong di Gang Mirej, Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Rabu (22/4/2926). (Foto: Eka Nurcahyo/Malang Post)
Kedatangan Wahyu disambut warga yang mengeluh banjir makin sering sejak 2024. Hampir tiap hujan dengan intensitas agak tinggi, air Sungai Amprong langsung meluap ke permukiman.
Di lokasi, Wahyu menegaskan Sungai Amprong merupakan kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas milik pemerintah pusat. Karena itu, penyelesaian tak bisa sepihak.
“Untuk menyelesaikan ini kita harus duduk bersama. Tetapi mudah-mudahan nanti ada solusi, pertama jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang,” papar Wahyu.
Ia sudah bertemu warga dan menampung usulan. Langkah berikutnya yaitu rapat lintas sektor melibatkan BBWS Brantas, dinas terkait, hingga lurah. Pendataan kepemilikan tanah di sempadan sungai juga diperintahkan ke lurah setempat.
Wahyu menyebut banjir Amprong sebagai banjir kiriman dari wilayah atas. “Kita tidak hujan saja di sini, bisa jadi banjir kalau di atas terjadi hujan lebat,” jelasnya. Air dari Poncokusumo, Tumpang dan Pakis, semua bermuara ke Sungai Amprong.
Apalagi masalahnya, kondisi sungai sudah jauh dari ideal. “Di Sungai Amprong ini juga sudah ada penyempitan, sedimentasinya juga tinggi, tentu juga akan ada beberapa hambatan,” ungkap Wahyu.
Untuk jangka pendek dan darurat, Wahyu menyebut pengerukan sedimentasi sebagai opsi. Sementara jangka panjang, pemkot mengkaji pembangunan embung sebagai penahan air kiriman.
“Yang jangka panjangnya nanti kita akan buat embung untuk menarik sudetan. Apabila terjadi hujan tinggi yang di atas, kita bisa masukkan ke embung dulu, ditampung. Nah, nanti kalau sudah lewat baru nanti akan dikeluarkan,” kata Wahyu.
Sementara itu, Kepala DPUPRPKP Kota Malang, Dandung Djulharjanto, merinci kendala di lapangan. Sempadan sungai yang harusnya bebas bangunan, kini padat permukiman warga. “Nah, ini otomatis juga akan mempengaruhi terhadap fungsi sungai itu sendiri,” kata Dandung.
Dampaknya langsung ke pemeliharaan. “Untuk pengerukan sungai itu kan diperlukan alat berat. Lah, kalau akses alat berat saja tidak bisa dimasuki, kan tidak mungkin bisa,” tegasnya.
Menurutnya, ia akan koordinasi dengan BBWS Brantas.”Seperti arahan walikota tadi, kita akan rapatkan dengan melibatkan instansi terkait, termasuk dari BBWS Brantas yang sebagai pemilik kewenangan terhadap apa, terhadap Sungai Amprong,” ujar Dandung.
Ditanya tentang pembangunan embung yang tepat di kawasan mana untuk mengatasi banjir luapan Kali Amprong, Dandung menyebut Cemorokandang. Menurutnya, Cemorokandang elevasinya di atas Gang Mirej dan Gang 12 Lesanpuro, sehingga air sebelum meluncur ke bawah ditampung dulu di embung Cemorokandang. “Di atas kawasan ini adalah Cemorokandang yang masih masuk Kota Malang,” pungkas Dandung saat mendampingi Walikota Wahyu meninjau dampak banjir di Gang Mirej.(Eka Nurcahyo)




