MALANG POST – Ketika harga plastik naik cukup signifikan, efisiensi operasional sangat penting dilakukan, agar UMKM bisa terus bertahan.
Kondisi tersebut disampaikan Konsultan PLUT UMKM Kota Batu, Riyanto, ketika menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk. Yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM, Sabtu (11/4/2026) kemarin.
“Efisiensi operasional pada UMKM penting dilakukan, menghadapi kenaikan harga plastik 18 sampai 30 persen. Efisiensi bisa dilakukan di seluruh tahapan produksi, untuk menekan Harga Pokok Produksi (HPP),” katanya.
Riyanto juga menyampaikan, efisiensi UMKM masih rendah. Sekitar 40 sampai 50 persen. Padahal seharusnya bisa mencapai di atas 80 persen.
Namun sebagai pengusaha, pihaknya mengaku belum terpengaruh kenaikan harga plastik dalam 2-3 bulan terakhir, karena sudah menyiapkan stok sebelum lebaran.
“Jadi masih bisa bertahan sampai satu bulan ke depan, tanpa menaikkan harga secara signifikan,” sebutnya.
Sedangkan Kabid Perdagangan Diskumperindag Kota Batu, Andry Yunanto menyampaikan, kenaikan harga plastik memang berdampak negatif untuk pelaku usaha. Tetapi di sisi yang lain, juga punya hal positif sebagai momentum kampanye industri hijau.
“Kenaikan harga plastik 18-30 persen, berdampak pada komponen HPP pelaku usaha. Terutama di sektor industri yang banyak menggunakan kemasan plastik,” sebutnya.
Itulah sebabnya, Diskumperindag berencana membentuk koperasi produsen, untuk pembelian bahan baku secara kolektif guna menekan harga.
Andry juga mendorong penggunaan kemasan alternatif berbasis kertas atau bahan biodegradable, sebagai solusi jangka panjang.
Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Feri Dwi Riyanto, ME., CFP., CPMM., menganalisis, kenaikan harga plastik merupakan fenomena cost push inflation, akibat kelangkaan bahan baku yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah.
Ferry mencatat, Indonesia mengimpor 70-80 persen biji plastik (nafta) dari luar negeri. Sehingga sangat rentan terhadap gejolak global.
“Karena itu, jika tidak ada efisiensi, profit UMKM bisa turun hingga 30 persen bahkan berpotensi mengalami kerugian,” tegasnya.
Ferry menyarankan UMKM untuk melakukan diversifikasi kemasan, dengan beralih ke bahan alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Selain itu, kolaborasi antar pelaku usaha juga penting, untuk pembelian bahan baku secara kolektif guna mendapatkan harga yang lebih kompetitif. (Anisa Afisunani/Ra Indrata)




