MALANG POST – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan melakukan kunjungan kerja ke Koperasi Susu Sinau Andhandani Ekonomi (Kop SAE) Pujon, Kabupaten Malang, Kamis (9/4/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia meninjau langsung kandang sapi perah milik koperasi hingga proses pengolahan susu sebelum dikirim ke industri pengolahan.
Didampingi pengurus koperasi, Zulhas berkeliling melihat aktivitas peternak serta fasilitas pengumpulan susu segar. Ia juga berdialog dengan pengelola koperasi mengenai kapasitas produksi, rantai distribusi hingga peluang pengembangan industri hilirisasi berbasis susu di wilayah Malang Raya.
Menurut Zulhas, Kop SAE Pujon merupakan salah satu koperasi susu yang berkembang sangat baik. Produksi susu segar yang dihasilkan bahkan mencapai sekitar 130 ribu liter per hari.
“Ini koperasi yang sangat bagus. Dalam satu hari bisa memproses sekitar 130 ribu liter susu murni. Susu itu kemudian dikirim ke pabrik di Bandung untuk diproses menjadi susu UHT,” ujar Zulhas.
Melihat kapasitas produksi tersebut, ia menilai Kop SAE sebenarnya memiliki potensi besar untuk melakukan hilirisasi industri. Artinya, susu segar yang dihasilkan tidak hanya dijual sebagai bahan baku, tetapi bisa diolah langsung menjadi produk jadi bernilai tambah lebih tinggi.
Apalagi saat ini distribusi susu dari Pujon menuju pabrik pengolahan di Bandung masih memerlukan biaya logistik yang cukup besar. “Sekarang susu hanya disuplai ke pabrik. Ongkos kirimnya saja sekitar Rp675 per kilogram ke Bandung. Kalau industrinya bisa dibangun di sini, tentu ongkos itu bisa ditekan,” jelasnya.

HILIRISASI: Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan, Zulkifli Hasan melakukan kunjungan kerja ke Koperasi Susu SAE Pujon, iya mendorong hilirisasi produksi susu untuk kebutuhan dapur SPPG di Malang Raya. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Karena itu, Zulhas mendorong agar ke depan Kop SAE Pujon dapat mengembangkan fasilitas pengolahan susu sendiri, termasuk memproduksi susu UHT (Ultra High Temperature). Dengan begitu, produk susu dari Pujon bisa langsung dijual sebagai produk akhir tanpa harus melalui pabrik di luar daerah.
Selain meningkatkan nilai ekonomi, langkah tersebut juga dinilai akan memperkuat pasokan susu untuk berbagai program pemerintah, termasuk kebutuhan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program MBG di wilayah Malang Raya.
“Kalau nanti bisa diproses jadi susu UHT di sini, dapur SPPG di Malang Raya bisa langsung mengambil dari Kop SAE. Tidak perlu lagi ambil dari luar daerah, padahal bahan bakunya juga dari sini,” katanya.
Selama ini, menurut Zulhas, alur distribusi susu masih cukup panjang. Susu segar dari peternak dikirim ke pabrik pengolahan terlebih dahulu, kemudian produk jadi kembali didistribusikan ke berbagai daerah, termasuk Malang Raya.
“Kalau bisa diolah di sini, lebih efisien. Produksi di sini, diproses di sini, lalu langsung disuplai ke dapur SPPG,” ujarnya.
Terkait pembangunan fasilitas pengolahan tersebut, Zulhas membuja peluang keterlibatan berbagai pihak, mulai dari investor swasta hingga skema kerja sama lainnya.
“Pendanaannya bisa dari siapa saja. Bisa dari swasta, bisa juga dari pihak lain yang tertarik. Kalau memang belum bisa, nanti negara bisa ikut membantu. Tapi intinya saya sangat mendukung,” tegasnya.
Lebih jauh, ia mengapresiasi kinerja pengelolaan koperasi yang dinilai berhasil mengembangkan usaha peternakan susu secara profesional dan berkelanjutan.
“Saya sering berkunjung ke banyak tempat, tapi menurut saya koperasi ini salah satu yang terbaik. Kalau terus dikelola dengan baik, saya yakin Kop SAE bisa berkembang jauh lebih pesat lagi,” ucapnya.
Sekretaris Kop SAE Pujon, Nur Kayin mengatakan, pihak koperasi menyambut positif dorongan pemerintah untuk mengembangkan pengolahan susu hingga menjadi produk UHT. Saat ini koperasi tengah menyiapkan perhitungan menyeluruh terkait rencana pembangunan fasilitas pengolahan tersebut.
“Untuk pengolahan menjadi UHT, kami akan menghitung semuanya. Termasuk sistem kerja sama seperti apa yang nanti bisa saling menguntungkan bagi semua pihak,” jelasnya.
Ia mengakui, secara kesiapan operasional Kop SAE sebenarnya telah siap untuk masuk ke tahap pengolahan susu UHT. Namun saat ini masih terdapat kendala pada aspek permodalan.
Dalam waktu dekat, pengurus koperasi akan menghitung kebutuhan investasi, termasuk estimasi biaya pembangunan pabrik pengolahan susu serta skema kerja sama yang akan diterapkan.
“Berapa biaya pembangunan pabriknya dan bagaimana sistem pembagiannya nanti akan kami hitung secara detail. Insyaallah dalam dua sampai tiga bulan kami akan kembali menghadap untuk menyampaikan hasil perhitungannya,” pungkas Nur Kayin. (Ananto Wibowo)




