GELANDANG: Gustavo Franca yang terus mendapat kawalan ketat Nilson Barbosa, saat Arema menjamu Malut United. Skor akhir 1-1 di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Arema FC bermain tanpa enam pemain asing. Bertemu tim berperingkat empat klasemen sementara Super League musim 2025/2026. Hasilnya hanya imbang, 1-1. Padahal laga berlangsung di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang.
Itulah yang terjadi di pekan ke-26, saat Arema FC menjamu Malut United, Jumat (6/4/2026) lalu. Ketika pelatih Arema FC, Marcos Vinicius Santos Goncalves, harus berjudi dalam penerapan formasi pemain.
Hanya menurunkan tiga dari lima pemain asing yang tersisa, sebagai starter eleven, Marcos bahkan tidak memasang striker murni. Tetapi lebih menempatkan Gustavo Franca Amadio, sebagai striker bayangan.
Sedangkan dua winger, Gabriel ‘Gabi’ Silva Costa dan Salim Akbar Tuharea, justru yang dirancang untuk mengeksekusi bola-bola sodoran Gustavo Franca atau pemain lainnya, layaknya tugas seorang striker.
Hasilnya, tak ada satu pun pemain Arema FC yang bisa mencetak gol, sepanjang laga yang dipimpin wasit Naufal Adya Fairuski.
Kalau pun hasil akhir, 1-1, karena satu-satunya gol yang bersarang ke gawang Malut United, karena bunuh diri Nilson Barbosa Nascimento Fialho, di menit ke-26. Di saat tendangan penjuru yang diambil Gustavo Franca, justru ditanduk Barbosa dan masuk ke gawangnya sendiri.
Sementara gol tim tamu, dicetak melalui titik penalti. Wasit Naufal menilai kapten tim, Johan Ahmat Farizi, melanggar Igor Inocencio de Oliveira saat Malut United mendapat tendangan penjuru di menit ke-42.
Tetapi wasit terlebih dahulu harus melakukan check VAR on field, atas pelanggaran tersebut. Bahkan butuh waktu lebih dari tiga menit, sebelum memutuskan ‘dorongan badan’ Alfarizi dianggap sebuah pelanggaran.
“Menurut pendapat saya, tidak ada pelanggaran. Jadi menurut pendapat saya tidak ada penalti.”
“Sama seperti pengusiran beberapa pemain saat bertemu Bayangkara FC, yang berlangsung sangat ketat dan sangat keras, tapi kartu merah waktu itu tidak perlu,” sebut Marcos Santos, dalam sesi post match press conference, Jumat (3/4/2026) lalu.
Bahkan pelatih asal Brasil itu menilai, keputusan Wasit Naufal memberikan penalti kepada Malut United, sebagai kompensasi di momen sebelumnya. Yakni saat gol Malut United di menit ke-12, dianulir wasit karena sebelum gol terjadi, David da Silva mendorong Anwar Rifai.
Ketika itu, dalam sebuah serangan balik, umpan pemain Malut United ke tiang jauh gawang Arema yang dikawal Adi Satryo, melambung dan terjadi perebutan antara Anwar Rifai dan David da Silva.
Dalam tayangan ulang terlihat jelas, David da Silva mendorong Anwar Rifai. Hingga defender Arema itu terjatuh meski sempat menyundul bola. Namun arah bola justru menuju ke tiang dekat dalam garis lurus. Mengenai badan Alfarizi hingga berbelok arah menuju ke dalam gawang.
Untuk momen tersebut, Wasit Naufal perlu waktu sekitar tiga menit, sebelum melakukan check VAR on field dan memutuskan gol tidak sah. Penyebabnya, ada pelanggaran sebelum proses gol terjadi.
“Tapi itu bagian dari permainan. Kita manusia. Saya melakukan kesalahan, pemain bisa gagal mengeksekusi penalti, kesalahan dalam pemilihan pemain atau pergantian dan wasit juga bisa melakukan kesalahan.”
“Hanya saja saat melawan Arema, (kesalahan wasit) ini terjadi secara beruntun. Kesalahan-kesalahan itulah yang membuat kita harus sangat waspada pada fase akhir kompetisi ini,” sebut pelatih 46 tahun ini.
Bahkan Marcos Santos meminta kepada semua elemen di Arema FC, harus selalu sabar dan terus mempersiapkan diri menghadapi pertandingan yang tersisa. Karena posisi Arema saat ini, masih jauh dari target manajemen. Berada di posisi papan atas di akhir Super League 2025/2026.
“Kita harus memahami bagaimana masalah wasit bekerja di sini. Saya percaya, mungkin dia mencoba menebus kesalahan karena pelanggaran yang terjadi yang dia beri di VAR. Tapi menurut pendapat saya, tidak ada penalti,” tegasnya. (Ra Indrata)




