MALANG POST – Universitas Negeri Malang (UM) menyelenggarakan Salat Idulfitri 1447 Hijriah di Masjid Al-Hikmah UM pada Sabtu (21/03/2026).
Suasana yang penuh makna tersebut menjadi penanda berakhirnya Ramadan serta semakin meneguhkan semangat kebersamaan di lingkungan kampus.
Dalam pelaksanaan shalat, khatib disampaikan oleh Prof. Dr. M. Ainin, M.Pd., Guru Besar Fakultas Sastra UM.
Adapun imam salat dipercayakan kepada Faza Musyaffa. Juara MTQ Internasional JQHNU 2020.
Kehadiran keduanya turut memperkaya nuansa religius sekaligus menegaskan harmoni antara nilai keilmuan dan spiritual dalam perayaan Idulfitri di UM.

Idul Fitri sebagai Latihan Karakter dan Kendali Diri
Sementara itu, Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., dalam sambutannya menekankan bahwa Idul Fitri merupakan momentum untuk menguatkan kualitas karakter setelah menjalani ibadah puasa Ramadan.
Menurut Prof. Hariyono, Ramadan tidak semata-mata dipahami sebagai “latihan menahan lapar dan dahaga”, melainkan sebagai ruang pembentukan karakter dan pelatihan pengendalian diri.
Puasa, ujarnya, hendaknya dimaknai sebagai sarana mendekat kepada Allah SWT, bukan sekadar pemenuhan kebutuhan jasmani.
“Bulan Ramadan yang telah kita lalui bukan sekadar latihan menahan lapar dan dahaga, melainkan ruang pembentukan karakter dan pengendalian diri,” tutur Prof. Hariyono.
Ia juga menambahkan, manusia perlu memaknai puasa sebagai pengingat bahwa kehidupan tidak hanya berkaitan dengan makan dan minum, melainkan juga kemampuan mengendalikan diri, mempererat hubungan sosial, serta menjaga kelestarian alam.

Rendah Hati dan Upaya Menjadi Lebih Baik
Lebih lanjut, Prof. Hariyono mengajak seluruh jamaah untuk menumbuhkan kesadaran akan keterbatasan sebagai manusia. Ia menegaskan pentingnya tidak menganggap bahwa kebenaran mutlak hanya dimiliki oleh diri sendiri, karena kebenaran yang sejati merupakan hak Allah SWT.
“Kita sebagai seorang manusia yang mempunyai keterbatasan jangan mudah merasa bahwa kebenaran atas sesuatu hanya milik kita. Oleh karena itu, kita harus terus-menerus berupaya menjadi lebih baik,” tegasnya.
Makna Ramadan dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam refleksinya, rektor mengajak agar Idul Fitri menjadi titik awal yang memperkuat dimensi spiritual, sosial, dan ekologis. Semangat Ramadan perlu diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari melalui cara mengatur konsumsi, meningkatkan kepedulian kepada sesama, serta senantiasa menjaga lingkungan sebagai tanggung jawab bersama.
Shalat Idul Fitri di Masjid Al-Hikmah UM berlangsung dengan penuh khidmat. Bagi sivitas akademika, momentum ini menjadi sarana silaturahmi, sekaligus pengingat bahwa kemenangan sejati tidak hanya dirayakan pada hari raya, melainkan juga dibuktikan melalui komitmen untuk menjaga nilai-nilai puasa dalam keseharian. (M. Abd. Rachman. Rozzi)




