Oleh: Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag.
Beberapa hari lagi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang memasuki usianya yang ke-65, tepatnya pada 28 Oktober 2026. Momentum peringatan hari lahir kali ini hadir di tengah deru tantangan kemajuan teknologi dan Revolusi Industri 4.0—sebuah era yang karib disapa sebagai era disrupsi (disruption era). Era yang ditandai oleh kecemasan masal tatkala kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai menggeser daya pikir manusia, serta otomatisasi merombak tatanan dunia kerja. Namun, di tengah ancaman serius tersebut, UIN Maliki Malang pada usianya yang makin matang tetap berdiri kokoh.
Meski Revolusi Industri 4.0 melahirkan lompatan kemajuan nyata, dampak negatifnya tak terelakkan. Banyak pakar menengarai bahwa konsekuensi destruktif dari era ini adalah dehumanisasi—sebuah kondisi ketika fungsi kognitif dan sosial masyarakat kehilangan daya refleksinya. AI perlahan mengikis kecakapan berpikir kritis, sementara otomatisasi mesin menggerus peran tenaga kerja manusia. Lebih mengkhawatirkan lagi, arus tersebut secara perlahan merusak ruang batin serta kesehatan mental (mental health) manusia.
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tidak didirikan di atas fondasi cita-cita yang hampa. Kampus ini dibangun berlandaskan ajaran luhur Al-Qur’an, yakni konsep Ulul Albab. Makna filosofisnya dipetik dari Surah Ali Imran ayat 190–191 yang diturunkan dalam empat pilar utama: kedalaman spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu, dan kematangan profesional. Keempat pilar ini menjadi weltanschauung (pandangan dunia) yang melandasi visi dan misi perguruan tinggi. Cita-citanya bukan sekadar mencetak sarjana yang mahir secara intelektual, melainkan juga berkarakter moral kokoh, adaptif terhadap zaman, serta tidak tercerabut dari penghambaan kepada Allah SWT.
Secanggih apa pun teknologi, ia bukanlah manusia. Teknologi digerakkan oleh algoritma dan susunan kode pemrograman. Demikian pula dengan kecerdasan buatan, ia tidak dibekali jiwa, empati, simpati, apalagi nurani. Karakteristik murni inilah yang menjadi keunggulan kodrati manusia.
Saat AI hanya mampu menyajikan kalkulasi data serta pertimbangan rasionalitas yang kering, lulusan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ditempa untuk hadir di tengah masyarakat membawa nilai-nilai kemanusiaan: kedalaman pengetahuan, keluhuran moral, dan kekokohan spiritualitas. Pada titik ini, sekuat apa pun gelombang disrupsi, teknologi AI akan tunduk di bawah kebijaksanaan akal budi manusia yang hatinya senantiasa tertaut kepada Sang Pencipta.
Manifestasi keunggulan sosok lulusan UIN Maliki Malang terkristalisasi dalam nilai filosofis Ulul Albab yang selama ini menjadi napas akademik. Ulul Albab melahirkan insan yang menguasai sains dan teknologi secara profesional, sekaligus memiliki pagar moralitas dan akidah yang kuat.
Sains mungkin melahirkan instrumen kemajuan yang melesat cepat, tetapi bingkai moralitas dan spiritualitas memastikan agar peradaban tersebut tetap bermuara pada inovasi yang beradab.
Mahasiswa sebagai Khalifah fil Ardh
Sesuai dengan hakikat penciptaannya, manusia ditakdirkan sebagai khalifah fil ardh—pemimpin dan pengelola di muka bumi. Manusia dianugerahi potensi oleh Allah SWT untuk memakmurkan alam semesta. Surah Al-Baqarah ayat 31 menggambarkan bagaimana Allah melimpahkan mandat kehalifahan kepada Nabi Adam a.s. melalui pengajaran nama-nama benda.
Mandat kehalifahan ini—sebagaimana termaktub dalam Tafsir Al-Misbah—ditandai dengan pemberian potensi pengetahuan konseptual. Pengelolaan bumi membutuhkan pemahaman dan penguasaan ilmu pengetahuan duniawi secara komprehensif. Dalam konteks ini, mahasiswa adalah seorang khalifah: subjek aktif yang bertindak mengelola bumi demi kemaslahatan manusia, bukan objek pasif yang dikendalikan mesin.
Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tidak hanya dibekali ilmu pengetahuan modern, tetapi juga diikat oleh nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin. Penguasaan sains saja tidak cukup; keagungan akhlak harus ditanamkan sepanjang proses pembelajaran.
Inilah nilai pembeda (distinctive value) UIN Maliki Malang di tengah era disrupsi. Karakter Ulul Albab menempatkan mahasiswa dan alumni sebagai jangkar peradaban yang kukuh. Daya saing lulusan tidak diukur seberapa mahir mereka menguasai instrumen teknis, melainkan sejauh mana mereka mampu menjadi insan bermoral dan berakidah kuat dalam mengawal arah kemajuan peradaban menuju puncak kemaslahatan umat.
Kini, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menapak usia yang baru. Pada usia yang matang ini, peringatan Dies Maulidiyah ke-65 wajib dijadikan momentum untuk meneguhkan kembali karakter Ulul Albab dalam setiap derap langkah akademik. Kampus ini akan terus mengawal perubahan dan membangun peradaban beradab melalui lahirnya insan yang profesional, berdaya secara moral, serta berakar kuat pada nilai-nilai ketauhidan. (*)




