Oleh: Dahlan Iskan
Malang Post — Hari itu saya ikut memperingati ulang tahun kedua masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pilihan cara saya: bermalam langsung di Ibu Kota Nusantara (IKN). Ini pengalaman pertama saya menginap di jantung ibu kota baru Indonesia tersebut.
Lantaran mendarat dan tiba di IKN saat waktu Isyarat (Isya) telah lewat, destinasi pertama yang saya cari adalah tempat makan malam.
“Nggak ke hotel dulu?” tanya sahabat yang setia mendampingi perjalanan saya.
“Kalau langsung masuk kamar hotel, takutnya malah malas keluar lagi cari makan. Kita kan pernah merasakan makan di hotel itu. Malam ini kita coba suasana lain,” sahut saya.
Sahabat saya itu langsung tanggap. Di IKN, sudah berdiri satu restoran: Kampung Kecil—jenama kuliner yang di Jakarta atau Surabaya kondang dengan ciri khas arsitektur saung bambunya.
Sembari menelusuri rute menuju lokasi makan, kami memanfaatkan kesempatan untuk memantau wajah IKN di waktu malam. Lengang. Jauh lebih sepi ketimbang suasana siang hari yang sejatinya juga belum terlalu padat.
IKN di waktu malam terasa jauh lebih nyaman. Kepulan debu akibat mobilitas proyek pembangunan tidak lagi mengganggu pernapasan. Terik matahari pun telah lama sirna—kami tak perlu lagi tersiksa oleh sengatan panas IKN yang acap kali membakar kulit.
Laju kendaraan kami melintasi Istana Garuda. Di kegelapan malam, kemegahan fisiknya tak begitu menonjol. Pendar lampu penerangan luar belum cukup masif untuk menyorot keanggunan pilar-pilar utama di bagian depan istana. Yang tampak riil di kegelapan malam justru kepakan sayap Garudanya—meski dari kejauhan belum menegaskan bentuk sayap burung garuda secara utuh.
Bentangan sayap itu ditaburi lampu hias berwarna putih yang pendar cahayanya menyerupai jala perak. Rasanya butuh sentuhan konsep pencahayaan (lighting design) baru untuk bangunan istana tersebut. Kelak, saat bangunan monumental ini resmi difungsikan secara penuh. Sentuhan lampu sorot (spotlight) dengan sudut penataan tertentu mungkin bisa menampilkan kesan gagah yang lebih proporsional.

Di seberang Istana, ada pemandangan malam yang cukup menyita perhatian: menjulang tegak sebuah struktur berwarna putih dengan tata cahaya yang amat menawan. Pendar lampunya berhasil mencuri perhatian malam—bahkan tampak lebih menyita pandangan ketimbang fisik Istana itu sendiri.
“Itu bangunan apa?” tanya saya penasaran.
Padahal sudah beberapa kali saya bertandang ke IKN, tetapi rasanya belum pernah mendapati struktur tersebut. Bahkan sewaktu saya menyambangi Istana beberapa bulan lalu, obyek itu sepertinya belum berdiri.
“Itu tiang bendera,” terang sahabat saya.
Oh… tiang bendera. Berukuran raksasa dan menjulang tinggi.
“Sudah lumayan lama berdiri,” tambahnya. “Kalau siang hari memang tidak terlalu mencolok karena tertutup oleh dominasi kemegahan Istana.”
“Kalau yang sebelah sana itu apa?” tanya saya lagi sembari menunjuk kerlap-kerlip cahaya yang menyerupai bentangan sayap burung hantu terbelah.
“Itu gedung baru Bank Indonesia,” jawabnya.
Saya sempat reka-reka membayangkan wujud fisiknya kala siang. Keesokan harinya baru saya saksikan langsung: megah dan artistik, meski secara kacamata arsitektural belum sepenuhnya diposisikan sebagai ikon utama tata ruang IKN.
Tanpa disengaja, malam itu rute kami melintasi bagian depan Istana Wakil Presiden. Suasananya pun temaram. Jika kendaraan tidak melaju pelan mendekati gerbang utama, tulisan “Istana Wakil Presiden” di dinding tembok luar hampir tak terbaca. Mungkin memang dirancang demikian: agar menghadirkan impresi anggun dan privat.
Kompleks Istananya sendiri bertengger di atas bukit. Akses menuju ke sana dilengkapi jalan lingkar kendaraan yang meliuk naik, serta fasilitas tangga jalan kaki bagi pejalan kaki dengan hitungan 200 anak tangga.
Dari ketinggian Istana itu, Wapres kelak dapat memandang langsung ke arah lembah di sebelahnya—tempat jajaran perumahan dinas para menteri berdiri. Dari balkon Istana, Wapres bisa memantau pergerakan para pembantunya: menteri mana yang sudah mulai meluncur keluar rumah menuju kantor masing-masing.
Pengamatan saya, perumahan menteri tersebut sudah siap huni—kapan pun hendak ditempati.
Sementara itu, yang tetap memancarkan kesan megah di waktu malam adalah deretan gedung pencakar langit di kompleks Kemenko. Seluruh menteri koordinator bakal berkantor dalam satu kawasan yang berdekatan dengan Istana. Mungkin kapasitas gedungnya perlu penyesuaian kembali mengingat nomenklatur Kemenko di era pemerintahan baru mengalami penambahan. Atau bisa saja gedung yang ada disekat kembali sesuai alokasi kebutuhan.
Akhirnya kendaraan kami tiba di restoran tujuan—berdiri di atas bukit kecil persis di tepi jalan utama. Kami memilih area meja terbuka (outdoor) untuk menikmati lanskap malam. Dari delapan unit meja di teras, hanya tersisa satu meja kosong yang langsung kami tempati.
Kami memesan bermacam hidangan: patin kuah asam, soto betawi, nila asam manis, bakwan jagung, tahu isi, karedok, serta dua menu lain yang kelezatannya masih membekas di lidah meski saya lupa nama menunya.
Di seberang restoran, berdiri megah sembilan hingga sepuluh menara apartemen (tower). Itulah hunian bagi para ASN dan pegawai yang mulai bertransisi pindah ke IKN. Sudah ada penumpangnya, meski jumlahnya belum terlampau padat. Di sudut kawasan lain, berdiri pula kompleks apartemen serupa yang juga baru terisi sebagian.
Pengunjung yang memadati restoran malam itu didominasi para penghuni apartemen tersebut. Meski di tiap menara telah tersedia fasilitas kantin, mereka tentu membutuhkan variasi sajian rasa dari restoran luar.
Tepat di samping Kampung Kecil, berdiri sebuah hunian menginap: Qubikal. Di area lobinya juga terdapat restoran penunjang. Ini opsi hotel dengan tarif yang lebih ramah kantong. “Kamar-kamar penginapannya dirakit dari unit peti kemas (container) yang disusun bertingkat,” bisik sahabat saya.
Usai menyantap hidangan, saya menyempatkan mampir ke area Qubikal untuk melihat wujud luarnya dari dekat. Dari tampilan arsitektur luarnya, sama sekali tidak berkesan bahwa struktur bangunannya disusun dari susunan kontainer.
Saat ini, proyek yang tengah dikebut di IKN antara lain gedung Mahkamah Agung dan kompleks parlemen DPR-MPR, di samping penuntasan akses jalan tol yang menghubungkan Bandara Balikpapan menuju IKN.
Berbagai aktivitas pengerjaan fisik masih terus bergulir—meski dengan ritme yang lebih terukur dan tidak tergesa-gesa. Jadi, amat keliru jika ada narasi yang mengartikan pembangunan IKN mangkrak.
Kesimpulan saya: IKN tetaplah IKN. Pada saatnya nanti akan beroperasi penuh. Kapan-kapan. (Dahlan Iskan)




