KORBAN KEMARAU: Kondisi warga yang sedang mengantre air bersih. (Foto: Nino Wiwantara/Malang Post).
MALANG POST – Dampak kemarau panjang di wilayah Kabupaten Malang kian meluas, hingga menyebabkan jumlah warga yang mengalami krisis air bersih melonjak menembus 19.013 jiwa atau sebanyak 5.967 Kepala Keluarga (KK), yang tersebar di 14 desa dan enam kecamatan, Kamis (15/10/2026).
Dampak krisis air bersih, akibat musim kemarau berkepanjangan di wilayah Kabupaten Malang, ternyata belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Berdasarkan pemutakhiran data resmi dari Posko Komando Masa Tanggap Darurat Bencana Kekeringan BPBD Kabupaten Malang per Kamis (15/10/2026), grafik warga terdampak mengalami kenaikan signifikan.
Jika pada akhir pekan lalu angka warga krisis air masih mencatatkan 18.414 jiwa (5.799 KK), kini angkanya merangkak naik menembus 19.013 jiwa (5.967 KK).
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, menjelaskan, sebaran wilayah terdampak saat ini terkonsentrasi di 14 desa yang membentang di enam kecamatan kawasan selatan dan barat.
Enam kecamatan tersebut meliputi Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Gedangan, Sumberpucung, Donomulyo, Kalipare, serta Pagak.
“Lonjakan data ini merupakan laporan pemutakhiran yang kami himpun dari lapangan hingga Kamis, 15 Oktober 2026. Seluruh warga terdampak menjadi sasaran prioritas penerima distribusi air bersih,” terang Sadono Irawan, Kamis (15/10/2026).
Operasi Armada Tangki Dan Siaga 24 Jam
Guna menyokong kebutuhan dasar masyarakat, BPBD Kabupaten Malang mengoperasikan armada truk tangki secara intensif dan bergelombang.
Pada pengiriman Rabu (14/10/2026) hingga Kamis (15/10/2026), petugas menggelontorkan sedikitnya 84.250 liter air bersih ke lokasi pemukiman.
Penyaluran menggunakan lima unit armada truk tangki yang melakukan pengisian ulang hingga 18 rit pengiriman secara bergiliran.
Secara rinci, alokasi pasokan air bersih menyasar wilayah Kecamatan Sumbermanjing Wetan sebanyak 35.000 liter.
Selanjutnya Kecamatan Kalipare dipasok 29.000 liter, Kecamatan Sumberpucung menerima 15.250 liter, dan Kecamatan Pagak disuplai 5.000 liter.
Sadono menggarisbawahi bahwa pola pengiriman air bersih dilakukan secara bertahap dan bergiliran sesuai tingkat kegentingan di tiap desa.
“Petugas kami siaga penuh 24 jam yang terbagi dalam dua shift kerja. Kami terus memantau dinamika di 33 kecamatan untuk penanganan kekeringan sekaligus ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla),” tegas Sadono.
Realisasi Kumulatif Menembus Empat Juta Liter
Jika dikalkulasi secara menyeluruh sejak penetapan awal masa tanggap darurat pada 8 Agustus hingga 15 Oktober 2026, total pasokan air bersih yang sudah disalurkan BPBD telah menembus angka fantastis: 4.266.500 liter.
Di Kecamatan Sumberpucung misalnya, pasokan kumulatif untuk Desa Karangkates saja sudah menyedot 1.016.700 liter air untuk memenuhi kebutuhan 1.035 KK (3.105 jiwa).
Sementara di kawasan Sumbermanjing Wetan, Desa Sumberagung menyerap 495.000 liter (1.245 KK / 3.818 jiwa), Desa Sitiarjo menerima 440.000 liter (505 KK / 1.928 jiwa), dan Desa Kedungbanteng menampung 390.000 liter (788 KK / 2.184 jiwa).
Fasilitas layanan kesehatan publik seperti Puskesmas Sitiarjo juga tak luput dari pasokan darurat dengan total alokasi mencapai 260.000 liter.
Langkah pendistribusian air secara masif ini bakal terus dipertahankan sampai hujan turun secara merata dan debit sumber air warga kembali normal. (Nino Wiwantara/Suseno/Ra Indrata)




