PENCIPTA GOL: Tugas menjebol gawang lawan, tidak selalu dibebankan pada striker. Johan Alfarizi (bek sayap) dan Careca (sayap) juga bisa mencetak gol. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Pelatih Kepala Arema FC, Marcos Santos, menegaskan bahwa peran seorang penyerang murni (target man) nomor sembilan dalam skema taktiknya, jauh lebih luas daripada sekadar mencetak gol, yakni bertindak sebagai pemantul bola dan acuan serangan bagi seluruh lini.
Dalam bangunan skema sepak bola modern, keberadaan seorang juru gedor murni di dalam kotak penalti lawan, tidak melulu diukur dari seberapa banyak namanya tercantum di papan skor.
Lebih dari itu, sang bomber memikul tugas taktis yang sangat vital: menjadi muara aliran bola sekaligus tembok pemantul serangan.
Fungsi krusial itulah yang kini tengah diperjuangkan pelatih Arema FC, Marcos Santos.
Juru taktik asal Brasil tersebut mengungkapkan analisis mendalamnya, mengenai pentingnya sosok penyerang murni di skema permainan Singo Edan.
Dalam tiga pertandingan pembuka Super League 2026/2027, Arema terpaksa merumput tanpa mematok target man sejati lantaran kondisi kebugaran Mauro Zijlstra dan Samuel Otusanya yang belum bugar 100 persen.
Akibat ketiadaan penyerang murni tersebut, Marcos tak menampik bahwa tempo alur penyerangan timnya kerap berjalan lamban dan tersendat.
”Kami tidak bermain dengan penyerang murni di tiga pertandingan awal ini. Saya setuju bahwa karena hal tersebut, permainan kami terkadang menjadi sedikit lambat,” kata Marcos Santos, Jumat (18/9/2026).
Marcos meluruskan persepsi awam mengenai tugas utama seorang penyerang tengah.
Bagi nakhoda berusia 47 tahun ini, striker murni adalah pilar acuan paling depan yang bertugas menyerap perhatian bek lawan, menahan bola, serta membuka ruang bagi rekan-rekannya.
Kehadirannya menjadi target operan yang sangat jernih ketika tim melancarkan skema serangan balik kilat.
”Ketika Anda punya striker murni saat melancarkan serangan balik, para gelandang serang, pemain sayap, bahkan para pemain bertahan akan memiliki acuan atau target yang jelas di depan. Ada seseorang yang bisa diajak bekerja sama untuk langsung mengalirkan bola secara cepat,” beber Marcos secara terperinci.
Tanpa adanya tembok pemantul di garis depan, alur sirkulasi bola yang diusung lini kedua menjadi lebih panjang dan mudah diredam oleh barisan pertahanan lawan.
Meski fungsi striker murni belum beroperasi optimal, Marcos memuji daya juang anak asuhnya yang tetap sanggup mengkreasi deretan peluang matang di lapangan.
Ia menilai, pekerjaan paling rumit dalam sepak bola sejatinya adalah menciptakan peluang itu sendiri, bukan sekadar mengeksekusinya menjadi gol.
”Menciptakan kesempatan itu sangat sulit. Ketika Arema sanggup menciptakan banyak peluang meski tanpa striker murni, itu membuktikan bahwa kami berada di jalur taktis yang benar,” terangnya.
Analisis taktis ini mengemuka dengan latar belakang hasil imbang 1-1 yang diraih Arema FC saat melayani Persik Kediri pada Pekan 3 Super League di Stadion Kanjuruhan.
Dalam laga derbi tersebut, Singo Edan sempat tertinggal oleh gol Zanadin Fariz sebelum akhirnya Careca menyamakan kedudukan lewat titik putih.
Meski lawan sempat menguasai alur bola di babak pertama, Arema mampu tampil jauh lebih agresif di babak kedua dengan melahirkan banyak peluang emas usai melakoni penyesuaian taktik.
Marcos tetap bersikap tenang karena perjalanan kompetisi masih sangat panjang dan skuadnya belum tersentuh kekalahan dari tiga laga awal.
Ia percaya ketajaman Arema FC akan meledak optimal tatkala para bomber murninya telah siap tempur 100 persen.
”Kami memohon maaf kepada Aremania belum bisa memberikan kemenangan di Kanjuruhan. Tapi kami pastikan tim ini terus bekerja keras mematangkan taktik,” pangkas Marcos. (Ra Indrata)




