Oleh: Dahlan Iskan
Seandainya Presiden Donald Trump memiliki jenggot, kebakaran hutan itu sudah berpindah ke jenggot Trump: Kanada, tetangga sebelah rumah Amerika Serikat, akan menjadi anggota Uni Eropa.
Memang aneh. Mark Carney, Perdana Menteri Kanada, terlihat duduk di ruang sidang Parlemen Eropa. Anda sudah tahu di mana gedung Parlemen Eropa: di Strasbourg, Prancis. Kota kecil itu berada tepat di perbatasan antara Prancis dan Jerman. Oleh karena itu, selama Perang Eropa, kota ini silih berganti pemilik negaranya.
Dalam sidang tahunan Parlemen Eropa pada 16 September lalu, Ketua Parlemen Eropa Ursula von der Leyen membuka pintu bagi Kanada untuk menjadi associate member Uni Eropa dalam pidatonya. Tepuk tangan pun bergemuruh dari seluruh penjuru ruang sidang. Para anggota parlemen berdiri dan bertepuk tangan cukup lama.
Von der Leyen pun menyalami Carney. Berciuman pipi kanan dan kiri (cipika-cipiki). Tepuk tangan kembali bergemuruh.
Maka, tiba giliran pimpinan sidang memperlakukan Carney untuk berpidato. Saat Carney melangkah ke podium, dari ruang sidang terdengar teriakan yel-yel yang biasa terdengar saat Trump menuju podium: “USA! USA! USA!”
Mendengar hal itu, Carney tersenyum. Bahkan, ia tidak bisa menahan senyumnya hingga menjadi tawa kecil. Nada tawanya seirama dengan maksud teriakan yel tadi: sindiran (satire)!
Carney menyambut baik usulan Von der Leyen tersebut. Rupanya, Carney juga pernah menginginkan agar hubungan Kanada dengan Uni Eropa dapat meningkat hingga ke status “hubungan yang unik”.

Ketua Parlemen Eropa Ursula von der Leyen menyalami PM Kanada, Mark Carney di ruang sidang Parlemen Eropa di Strasbourg, Prancis. (Foto: Istimewa)
Hubungan unik itu selama ini terjadi antara Kanada dan Amerika Serikat. Kedua negara bahkan sudah seperti tanpa perbatasan. Perekonomian Kanada pun sebanyak 70 persen bergantung pada Amerika Serikat.
Namun, sejak Trump menjabat pada periode keduanya, hubungan unik itu lenyap. Trump menganggap Kanada lebih banyak memanfaatkan Amerika Serikat. Trump mengubah status unik tersebut. Kanada diperlakukan sama seperti negara lainnya, termasuk pengenaan tarif bea masuk bagi barang-barang asal Kanada yang dikirim ke Amerika Serikat.
Kanada pun membalas dengan prinsip setimpal (tit-for-tat). Singkatnya, hubungan kedua negara memburuk. Carney tidak mau tunduk kepada Trump dan tidak takut sama sekali. Carney lantas sibuk mencari hubungan khusus dengan banyak negara, termasuk Tiongkok, negara-negara Arab, dan tentu saja Eropa.
Yang menarik, istilah associate member sebenarnya tidak ada dalam statuta Uni Eropa. Yang ada hanyalah status: anggota atau bukan anggota. Saat ini, ada 27 negara yang menjadi anggota Uni Eropa setelah Inggris resmi keluar (Brexit). Respons anggota Parlemen Eropa begitu positif atas potensi keanggotaan Kanada. Mungin saja akan dibuatkan aturan statuta khusus untuk hal tersebut. Associate member berarti anggota asosiasi, tetapi dalam istilah ini mungkin yang dimaksudkan adalah “anggota istimewa”.
Seandainya Kanada benar-benar menjadi anggota istimewa Uni Eropa, apa yang akan didapatkan oleh Kanada?
Sebenarnya sudah ada contohnya: Norwegia. Di antara negara-negara Skandinavia, hanya Norwegia yang tidak menjadi anggota Uni Eropa. Saat referendum terdahulu, rakyat Norwegia tidak setuju. Namun, perekonomian Norwegia sudah bertindak seperti anggota Uni Eropa. Lalu lintas barang dan orang dari Norwegia ke negara anggota Uni Eropa—dan sebaliknya—hampir tidak ada bedanya. Untuk itu, Norwegia perlu memiliki perjanjian khusus dengan Uni Eropa yang dinamakan European Economic Area (EEA). Peraturan-peraturan di dalam negeri Norwegia pun disesuaikan agar sama dengan regulasi di Uni Eropa.
Bedanya, Norwegia tetap memiliki pos bea cukai di perbatasannya. Norwegia juga dapat membuat perjanjian dagang sendiri dengan negara di luar Uni Eropa serta memiliki mata uang sendiri.
Mungkin saja status Kanada nantinya akan seperti Norwegia: anggota istimewa tanpa EEA.
Jika hal itu terjadi, Uni Eropa ternyata terbukti sangat fleksibel. Di sana ada negara bernama Swiss—bukan anggota dan tidak memiliki EEA. Namun, begitu banyak perjanjian khusus antara Uni Eropa dan Swiss sehingga seolah-olah negara tersebut telah menjadi anggota Uni Eropa.
Saya tidak dapat membayangkan jika Amerika Serikat kelak tidak lagi dipimpin oleh Trump. Terutama jika presidennya berganti dari Partai Demokrat. Apakah presiden baru tersebut akan mampu memperbaiki kerusakan hubungan yang telah dibuat oleh presiden lama?
Di luar persoalan tersebut, masih ada KTT BRICS yang juga baru saja usai di India. Semua kepala pemerintahan hadir dan terlihat makin kompak. Mereka makin menunjukkan peran alternatif di luar kekuatan utama (superpower) Amerika Serikat.
Yang unik dalam KTT BRICS tersebut adalah kehadiran Presiden Iran. Salah satu rivalnya, Uni Emirat Arab (UEA), juga hadir. Keduanya berada dalam satu ruangan, bahkan dapat berunding secara khusus di luar agenda utama BRICS. India berhasil memfasilitasi pertemuan bilateral antara Iran dan UEA.
Hasil pertemuan bilateral tersebut sangat memberikan harapan bagi dunia, meskipun mungkin mengecewakan Trump. Iran dan UEA telah sepakat bahwa “yang lalu biarlah berlalu”. Mereka sepakat untuk melupakannya.
Trump tidak akan kebakaran jenggot—hanya karena ia memang tidak memilikinya. Amerika Serikat tetaplah negara terbesar di dunia, termasuk dalam hal jumlah utangnya. (Dahlan Iskan)



