MALANG POST – Mahasiswa Kelompok 99 KKN Muhammadiyah-Aisyiyah Universitas Muhammadiyah Malang, mengolah melimpahnya susu sapi di Desa Tawangsari, Pujon, Kabupaten Malang, Kamis (10/9/2026), menjadi inovasi olahan minuman Susu Karot dan kerupuk susu guna meningkatkan nilai ekonomi produk UMKM lokal.
Kelompok 99 Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah-’Aisyiyah (KKN MAs) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan inovasi panganan berbahan dasar susu sapi. Melimpahnya potensi susu sapi di Desa Tawangsari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, berhasil disulap menjadi dua produk UMKM unggulan berupa minuman dan camilan.
Keduanya adalah SUKA (Susu Karot), yaitu minuman susu sapi yang dipadukan dengan sari wortel, serta kerupuk susu sapi bernama MOOCHI (Moo + Crispy).
Sebagai informasi tambahan, KKN MAs merupakan program pengabdian masyarakat berskala nasional yang diikuti oleh mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah (PTMA) di Indonesia. Dalam hal ini, UMM menjadi tuan rumah pada pelaksanaan tahun 2026.
Inovasi tersebut merupakan bagian dari program kerja yang berjalan sepanjang Agustus 2026. Tujuannya adalah mengoptimalkan potensi lokal sekaligus mendorong pengembangan produk UMKM masyarakat Desa Tawangsari.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang, populasi sapi perah di Kecamatan Pujon mencapai 25.490 ekor. Ide ini berangkat dari kondisi desa yang memiliki banyak peternak sapi perah. Namun, pemanfaatan susu selama ini mayoritas hanya didominasi sebagai produk minuman biasa dan dikirimkan ke koperasi.
“Selama ini susu lebih sering dimanfaatkan sebagai minuman biasa sehingga kami mencoba mencari bentuk olahan lain yang inovatif agar bisa menjadi produk unggulan,” ujar perwakilan kelompok, Monica Marchelina Iskandar.
Pemisahan satu bahan utama menjadi dua bentuk produk (camilan dan minuman) menjadi daya tarik sekaligus pembeda utama dari program ini. Produk SUKA memadukan susu sapi dengan hasil pertanian Tawangsari, yakni wortel. Prosesnya dimulai dari pencucian, pengupasan, hingga pengolahan wortel menjadi sari, lalu dicampur dengan susu sesuai dengan takaran.
Sementara itu, MOOCHI mengubah susu sapi menjadi camilan kerupuk. Susu dijadikan bahan utama adonan, dicampur tepung dan bumbu alami, seperti garam dan bawang, lalu dicetak, dikeringkan, dan digoreng hingga renyah.
Dari segi ekonomi, MOOCHI dan SUKA dibanderol dengan harga terjangkau, yakni Rp10.000 per kemasan (MOOCHI 85 gram dan botol SUKA 120 ml). Pada produksi awal, tim mengeluarkan modal sekitar Rp85.000 untuk membeli tepung, wortel, minyak, dan kemasan, sedangkan bahan utama berupa susu diperoleh secara gratis dari warga sekitar.
Sebelum diluncurkan, tim terlebih dahulu melakukan pengamatan potensi bahan baku, menentukan konsep produk yang tepat, menguji coba resep berulang kali, hingga memproduksinya melalui kolaborasi bersama peternak lokal guna memastikan pasokan susu.
Rangkaian panjang program KKN MAs ini kemudian ditutup secara manis melalui peluncuran resmi produk pada 17 Agustus 2026, bertepatan dengan semarak peringatan HUT RI.
Pada ajang Ekspo dan Bazar Kecamatan Pujon, mereka memperkenalkan tujuh kemasan MOOCHI dan delapan botol SUKA. Respons masyarakat terbukti sangat positif. MOOCHI menarik perhatian karena inovasi susu sapi menjadi kerupuk masih terbilang langka, sedangkan SUKA disukai berkat perpaduan unik susu dan wortel.
Saat ini, pemasaran dan promosi terus digencarkan melalui jejaring media sosial demi memperluas jangkauan. “Kami ingin produk ini tetap dikembangkan oleh masyarakat atau pihak desa yang tertarik melanjutkannya,” tambahnya.
Ke depan, inovasi ini diharapkan memantik warga agar terus memberikan nilai tambah pada hasil peternakan dan pertanian desa. Dengan demikian, potensi alam Tawangsari tidak sekadar menjadi komoditas mentah, melainkan bertransformasi menjadi produk unggulan yang berkelanjutan. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




