MALANG POST – Tim Relawan Bencana Universitas Negeri Malang, melanjutkan aksi tanggap darurat pascagempa bumi di Kecamatan Congkar, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Senin (31/8/2026), melalui pelayanan medis, dukungan kesehatan mental psikososial, serta pendirian tenda darurat bagi warga terdampak.
Universitas Negeri Malang (UM) melalui Tim Relawan Bencana melanjutkan respons tanggap darurat bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Kecamatan Congkar, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (31/8/2026).
Kegiatan dilakukan melalui pelayanan kesehatan, dukungan kesehatan mental dan psikososial (DKMPS), serta distribusi dan pendirian tenda darurat untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak.
Pada kegiatan tersebut, tim relawan UM dibagi menjadi dua kelompok. Tim pertama memberikan pelayanan kesehatan di Desa Wea, sedangkan tim kedua melaksanakan DKMPS di Gereja Katolik Paroki Santo Eduardus, Watunggong, dan Desa Wea.
Pelayanan dimulai pukul 08.00 WITA dan berlangsung hingga selesai sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Pelayanan kesehatan di Desa Wea menjangkau 247 warga yang terdiri atas 98 laki-laki dan 151 perempuan. Berdasarkan kelompok usia, penerima manfaat meliputi 64 balita, 39 anak-anak, 106 orang dewasa, dan 36 lansia.
Tim melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan tanda-tanda vital, penegakan diagnosis, serta pemberian obat sesuai dengan hasil pemeriksaan. Hasil pemeriksaan menunjukkan lima diagnosis yang paling banyak ditemukan, antara lain gizi kurang sebanyak 47 kasus, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) 26 kasus, nyeri punggung bawah (low back pain/LBP) 11 kasus, neuromialgia 10 kasus, dan gastritis 9 kasus.
Tim UM juga menemukan sejumlah kasus lain, termasuk penyakit asam lambung (gastroesophageal reflux disease/GERD) dan hipertensi. Selain menangani kondisi fisik, UM memberikan perhatian terhadap pemulihan psikologis warga.
Di Gereja Katolik Paroki Santo Eduardus, layanan DKMPS diikuti oleh 16 orang yang terdiri atas tujuh orang tua dan sembilan anak. Pendampingan dilakukan melalui konseling bagi kelompok ibu, edukasi pengurangan risiko bencana, mitigasi, dan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan bencana susulan. Anak-anak mendapatkan pendampingan melalui kegiatan terapi bermain (play therapy) dan terapi seni (art therapy).
Layanan serupa juga diberikan di Desa Wea kepada 66 warga yang mayoritas merupakan anak-anak berusia 7–10 tahun. Tim melakukan asesmen awal untuk mengidentifikasi kecemasan, ketakutan, dan gejala stres pascabencana.
Intervensi kemudian diberikan melalui psikoedukasi, terapi bermain (play therapy), terapi seni (art therapy), latihan pernapasan, pembumian (grounding), serta aktivitas pemulihan rutinitas sosial untuk membantu warga membangun kembali rasa aman.
Dalam mendukung kebutuhan tempat tinggal sementara, tim relawan UM turut mendistribusikan dan mendirikan satu tenda berukuran 4 × 6 meter bagi warga terdampak di Desa Wea. Tenda tersebut memiliki kapasitas hingga 15 orang dan didirikan di rumah warga yang mengalami kerusakan atau dinilai tidak aman untuk ditempati.
Pelaksanaan seluruh kegiatan berlangsung aman, tertib, dan lancar. Masyarakat juga menunjukkan partisipasi aktif dalam mengikuti pelayanan kesehatan maupun pendampingan psikososial.
Ke depan, Tim Relawan Bencana UM akan melanjutkan pemantauan dan evaluasi kondisi kesehatan fisik serta psikososial warga di Desa Satar Nawang dan Desa Wea.
Koordinasi dengan instansi terkait juga akan dilakukan untuk memastikan rujukan medis dan psikososial bagi warga yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Upaya tersebut menjadi bagian dari kontribusi UM dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) poin 3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui penyediaan layanan kesehatan dan dukungan pemulihan psikososial bagi masyarakat terdampak bencana.
Kegiatan ini juga sejalan dengan SDGs poin 11, yaitu Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, khususnya dalam memperkuat ketahanan masyarakat serta pemulihan pascabencana.
Melalui respons yang mengintegrasikan layanan medis, kesehatan mental, edukasi kebencanaan, dan penyediaan tempat berlindung sementara, UM berupaya memastikan penanganan korban gempa tidak hanya berfokus pada kondisi fisik, melainkan juga pada pemulihan psikologis dan keberlanjutan kehidupan masyarakat terdampak. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




