Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM), dr. Yusrin Aulia, Sp.KJ. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang, dr. Yusrin Aulia, Sp.KJ., memberikan penjelasan ilmiah terkait fenomena man flu pada pria di Malang, Rabu (2/9/2026), dengan menekankan bahwa persepsi keluhan sakit yang tampak lebih berat dipengaruhi oleh perpaduan faktor biologis, hormonal, dan konstruksi sosial.
Fenomena man flu kerap digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika pria mengalami flu, pilek, atau demam ringan, tetapi terlihat sangat lemas dan seolah menderita sakit berat.
Meskipun sering dianggap candaan, kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, hingga sosial. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM), dr. Yusrin Aulia, Sp.KJ., menjelaskan bahwa man flu merupakan istilah populer, bukan diagnosis medis.
Menurutnya, sebagian pria memang dapat menunjukkan gejala atau keluhan yang tampak lebih berat, melainkan hal tersebut tidak bisa digeneralisasi kepada semua laki-laki.
“Man flu itu sebenarnya istilah populer. Jika laki-laki mengalami flu, demam, atau infeksi saluran napas lainnya, kelihatannya bisa lebih dramatis dan lebih berat dibandingkan dengan perempuan. Ini memang terjadi pada sebagian orang, tetapi tidak bisa dikatakan pasti terjadi pada seluruh laki-laki,” jelasnya kepada Humas UMM, Rabu (2/9/2026).
Dari sisi biologis, hormon disebut turut berperan. Testosteron pada pria memiliki sifat imunomodulator yang dapat memengaruhi respons sistem kekebalan, sedangkan estrogen pada perempuan dapat meningkatkan respons imun. Namun, perbedaan hormonal bukan satu-satunya penjelasan.
“Testosteron pada pria memang bisa sedikit menekan respons imun, sedangkan estrogen pada wanita dapat meningkatkan respons imun. Akan tetapi, tidak sesederhana itu. Respons tubuh juga dipengaruhi oleh jenis virus atau bakteri yang menyerang dan berbagai faktor lainnya,” ungkapnya.
Selain faktor biologis, persepsi terhadap sakit juga berpengaruh. Menurutnya, sebagian pria terbiasa mempertahankan citra kuat sehingga cenderung mengabaikan gejala awal. Keluhan baru dirasakan serius ketika kondisi mulai mengganggu aktivitas.
“Laki-laki biasanya cenderung ingin terlihat kuat. Gejala yang sedikit sering diabaikan. Ketika akhirnya sakit benar-benar terasa, kondisinya bisa tampak seperti langsung sangat drop,” katanya.
Kebiasaan menunda mencari pertolongan juga dapat membuat kondisi semakin berat. Oleh karena itu, pria tidak perlu gengsi untuk beristirahat ketika tubuh mulai menunjukkan gejala.
Untuk keluhan ringan seperti batuk dan pilek, penanganan awal dapat dilakukan dengan istirahat yang cukup, memenuhi kebutuhan cairan, dan mengonsumsi obat bebas seperti parasetamol sesuai dengan aturan. Namun, pemeriksaan medis diperlukan ketika gejala semakin berat, tidak membaik, atau mengganggu aktivitas.
“Jika sudah demam terus-menerus, sangat lemas, tidak bisa beraktivitas, nafsu makan menurun, sesak, atau sulit bernapas, sebaiknya segera berobat ke dokter. Tidak harus menunggu tiga hari,” tegasnya.
Lebih jauh, dokter di Rumah Sakit UMM itu menekankan bahwa sakit bukanlah tanda kelemahan. Mengenali kondisi tubuh sejak awal dan berani beristirahat justru merupakan bentuk kepedulian terhadap kesehatan.
Pada akhirnya, man flu bukan semata-mata soal pria yang dianggap lebih dramatis ketika sakit. Fenomena tersebut merupakan perpaduan antara faktor biologis, persepsi terhadap rasa sakit, dan konstruksi sosial tentang maskulinitas. Oleh karena itu, stigma bahwa laki-laki harus selalu kuat seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengabaikan kondisi tubuh.
“Tidak perlu malu atau gengsi untuk mengatakan sedang tidak enak badan dan membutuhkan istirahat. Sakit bisa datang kepada siapa saja dan bukan berarti laki-laki yang sakit itu lemah,” pungkasnya. (*/M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




