Oleh: Dahlan Iskan
Yang paling melegakan pada 17 Agustus kemarin adalah terbuktinya teori bahwa bayang-bayang sering lebih menakutkan daripada kenyataan: demonstrasi besar yang dikhawatirkan bisa berujung rusuh di mana-mana terbukti tidak terjadi.
Pesan kekhawatiran dari mulut ke telinga sempat beredar lama: jangan keluar rumah pada 17 Agustus, kondisi tidak aman. Bahkan, hingga sehari sebelumnya masih ada bisik-bisik senada.
Pusat perbelanjaan yang telanjur memperketat sistem pengamanan tentu merasa paling lega. Pengunjung mal tetap ramai sepanjang hari kemarin. Di sebuah supermarket besar, saya melihat para pembeli masih memadati area perbelanjaan.
Saya membeli durian: varietas Medan campur Musang King. Sampai di kasir, saya diberitahu ada paket Musang King yang dipadukan dengan durian Medan. Harganya sama. Kasir meminta izin untuk menukarnya dan tentu saja saya setuju. Dengan nominal uang yang sama, saya mendapatkan dua durian.
Teman belanja saya ikut senang. Saya menyarankan: makan durian Medan terlebih dahulu, baru kemudian Musang King. Ternyata durian Medan juga terasa lezat. Ketika giliran hendak menyantap Musang King, perut sudah keburu kenyang.
“Bisnis kian susah, Pak,” ujar seorang pengusaha di belakang saya yang juga sedang menuju kasir.
“Kenapa?”
“Dulu saya pemasok di BUMN. Setelah ada Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), BUMN tersebut turun status menjadi cucu perusahaan. Semuanya berubah, perpolitikan bisnisnya jadi sangat tinggi,” katanya.
Saya tidak terlalu fokus mendengarkan keluhannya. Fokus saya terbagi tiga: membayar durian, mendengarkan curahan hatinya, dan memperhatikan layar ponsel—siaran langsung dari Istana Merdeka.
Saya memang penasaran: apakah peringatan Detik-Detik Proklamasi di halaman Istana masih dipenuhi suasana hura-hura, joget-joget, dan nyanyian hiburan, atau sudah berubah menyesuaikan kondisi sosial-ekonomi terkini.
Anda sudah tahu: pada upacara kemarin ada perubahan signifikan. Sesi hiburan joget masih ada, tetapi lebih terbatas, terkendali, dan terukur tanpa jatuh menjadi kesannya hura-hura. Lagu-lagu yang dibawakan merupakan lagu-lagu perjuangan. Tidak ada lagi lagu populer sejenis Ojo Dibandingke.
Presiden Prabowo Subianto duduk diapit oleh Presiden ke-7 Joko Widodo beserta istri di sebelah kanan, serta Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka beserta istri di sebelah kiri. Rasanya inilah momen visual yang paling menarik untuk diabadikan.
Presiden Prabowo tampil lebih bersahaja dibanding tokoh di kanan-kirinya. Beskap Jawa berwarna gelap yang dikenasnya dipilih tanpa aksesori lambang keningratan yang mencolok. Kain batik di antara beskap dan celana formal hitamnya juga tampil sederhana. Presiden memang berpakaian adat, tetapi tetap berkesan resmi dan formal.
Pemandangan ini kontras dengan penampilan di sebelah kanan dan kirinya. Joko Widodo tampil menonjol dengan penutup kepala khas Bali berwarna ungu emas—yang disebut udeng atau destar—dengan hiasan bunga emas berukuran besar. Kain songket dan celana di balik kainnya pun tampil mencolok. Ditambah busana Iriana Joko Widodo berwarna merah jambu, kehadiran Jokowi dan istri masih memancarkan aura seorang presiden.
Lalu perhatikan penampilan Wapres Gibran di sebelah kiri Presiden Prabowo. Ia tampak sangat modis dan elegan menggunakan pakaian adat Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT). Penutup kepala ti’i langga, selempang, hingga kain tenunnya tampak serasi dan benar-benar menarik perhatian. Ditambah Selvi Ananda, istrinya, yang memilih busana adat Dayak Kenyah bernuansa keemasan. Pasangan ini boleh dikatakan layak terpilih sebagai best dressed pada upacara 17 Agustus 2026—jika saya juri penilainya.
Pengamat politik tentu akan menafsirkan pilihan busana Jokowi-Gibran ini dengan kacamata politis. Jokowi baru saja menyelesaikan agenda ke NTT, yang kemudian diteruskan oleh Gibran lewat simbol pakaian adat NTT. Jokowi sendiri setelah itu beralih ke Bali. Simbolisasi tersebut memuat tafsir politik yang kuat: bagian dari upaya merawat basis massa di kawasan yang dikenal sebagai “kandang banteng” kedua setelah Jawa Tengah.
Penampilan keluarga Jokowi pada upacara ini terasa sarat makna. Kehadiran Jokowi sendiri sudah memancarkan pengaruh yang kuat—terlebih tanpa kehadiran Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) maupun Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri sebagai penyeimbang. Ditambah penampilan Wapres Gibran dan istri yang begitu menonjol, nuansa keluarga Solo terasa cukup mendominasi suasana.
Maka terasa sekali Presiden Prabowo seperti tampil “sendiri” di tengah panggung besar ini. Barulah ketika berpindah peran menjadi inspektur upacara, kopiah hitamnya menghadirkan kembali formalitas ketegasan sebagai seorang kepala negara. Kadar formalitas itu lantas ia cairkan manakala menerima laporan akhir upacara. Presiden tidak hanya mengucapkan kata “bubarkan”, tetapi juga menambahkan ucapan apresiasi dan pujian bagi jajaran petugas upacara. Puncaknya, ia meminta komandan upacara beserta jajaran petugas lainnya untuk menghadap langsung ke hadapan presiden seusai upacara.
Selebihnya, seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan melegakan.
Dari halaman Istana Merdeka, perhatian saya ingin meloncat ke Lapangan Tiananmen di Beijing. Hari ini terdapat peristiwa penting di sana: peringatan tujuh hari wafatnya mantan Perdana Menteri Tiongkok Zhu Rongji.
Dalam tradisi budaya Tiongkok, peringatan tiga dan tujuh hari wafatnya seseorang didoakan secara khusus oleh pihak keluarga. Namun, keluarga Zhu Rongji tidak lagi sebatas anak, istri, dan cucu; masyarakat Tiongkok merasa memiliki ikatan emosional dengan almarhum. Oleh karena itu, warga berbondong-bondong memperingati tujuh hari berpulangnya Zhu Rongji di kawasan bersejarah Lapangan Tiananmen.
Di sini, peringatan 17 Agustus telah berlalu dengan aman. Semoga suasana kondusif yang sama juga tercipta di Tiananmen hari ini. (Dahlan Iskan)




