GAGAL MENANG: Salim Akbar Tuharea ketika mencetak gol ke gawang Persija di Piala Presiden. Sayang Arema FC hanya bisa berada di peringkat keempat dan ada peluang mengubah komposisi pemain. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Manajemen dan tim pelatih Arema FC, memanfaatkan ajang Piala Presiden 2026, untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap performa pemain lama maupun baru, guna menentukan apakah komposisi skuad perlu dirombak sebelum kompetisi resmi bergulir.
Panggung Piala Presiden 2026 telah resmi ditutup bagi Arema FC. Mengakhiri turnamen di peringkat keempat, memang bukan takdir impian yang digantungkan para pendukungnya. Namun dari lima pertandingan berbobot tinggi itulah, manajemen Singo Edan mendapatkan potret paling jujur, mengenai peta kekuatan dan celah skuadnya sebelum terjun ke kompetisi resmi.
General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, mengungkapkan, komposisi tim sejatinya sudah menyentuh angka 90 persen. Kehadiran empat legiun asing baru yang direkrut sesuai dengan skema keinginan Pelatih Kepala Marcos Santos, membuat kedalaman skuad Singo Edan hampir memenuhi kuota maksimal 34 pemain untuk musim mendatang.
Meski sisa slot dalam tim tinggal sedikit, pria yang akrab disapa Inal itu menegaskan, pintu bursa transfer musim panas belum sepenuhnya digembok. Pihaknya masih sangat terbuka untuk melakukan pergerakan berburu pemain baru, maupun melepas pemain yang ada.
”Karena di Piala Presiden kami melakukan banyak peninjauan dari aspek hasil dan performa pemain yang tampil di lapangan. Evaluasi ini sangat penting dilakukan untuk mengembangkan tim secara keseluruhan.”
“Tim pelatih bisa melihat secara langsung, sektor mana yang masih perlu dibenahi sebelum liga dimulai. Hasil evaluasi itu kemudian dapat menjadi pertimbangan untuk mencari pemain baru yang sesuai dengan kriteria dan kebutuhan,” ujar Inal.
Ujian yang dihadapi Singo Edan sepanjang turnamen pramusim kemarin memang terbilang berat dan ideal. Arema FC diuji oleh lawan-lawan tangguh berkelas, mulai dari Persib Bandung, Tampines Rovers, DPMM FC, Persebaya Surabaya, hingga Persija Jakarta.
Rangkaian laga sengit tersebut sekaligus menjadi simulasi penting untuk menggembleng mental para pemain dalam menghadapi tekanan laga tandang (away).
Menghadapi sisa waktu yang ada, skenario bongkar-pasang skuad masih sangat terbuka lebar. Arema FC bisa saja menambah amunisi anyar untuk menutup lubang permainan.
Sebaliknya, manajemen juga membuka peluang untuk memangkas jumlah pemain, agar nama-nama baru bisa didaftarkan secara resmi. Langkah meminjamkan pemain ke klub kasta kedua, seperti yang pernah dieksekusi musim lalu, bisa kembali menjadi pilihan realistis.
“Tetapi kalau dari hasil evaluasi keseluruhan performa pemain, ternyata sudah sesuai dengan standar yang kami tetapkan, mungkin komposisi skuad tidak berubah. Kami juga bisa baru bergerak lagi saat jeda paruh musim nanti,” tambah Inal secara terperinci.
Di sisi lain, Pelatih Kepala Arema FC Marcos Santos memilih untuk melihat sisi terang dari dinamika lima laga pramusim yang baru saja dilewati.
Kendati hanya mengemas dua kemenangan dan menelan tiga kekalahan—termasuk dijegal Persebaya di semifinal dan ditekuk Persija pada perebutan tempat ketiga—juru taktik asal Brasil tersebut tetap hakiki meyakini, pasukannya sedang melangkah ke arah yang benar.
“Saya rasa Piala Presiden menjadi ajang yang sangat tepat untuk melihat kesiapan tim ini. Jika ada hal yang perlu diperbaiki, kami masih memiliki cukup waktu untuk membenahinya karena kompetisi resmi baru bergulir September mendatang,” ungkap Santos.
Santos juga mengaku tidak akan menutup mata maupun telinga terhadap riak-riak kritik tajam yang dilayangkan Aremania di media sosial sepanjang turnamen.
Bagi pelatih berlisensi Pro Conmebol itu, suara kritis suporter adalah cermin jujur yang membantunya memilah mana pemain yang benar-benar siap berkorban untuk tim dan mana yang masih membutuhkan proses pembinaan lebih lanjut.
“Saya senang melihat sikap para pemain yang menunjukkan kemauan membantu Arema musim ini. Namun, harus diakui ada juga beberapa pemain yang masih harus berkembang dan meningkatkan kualitasnya dalam proses ini,” pungkasnya menutup evaluasi. (Ra Indrata)




