MALANG POST – Mendorong modernisasi desa wisata, kelompok mahasiswa BBM Universitas Negeri Malang merancang aplikasi administrasi digital Rojo Camp berbasis e-ticket QR Code di Kebun Rojo Camp, Dau, Kabupaten Malang.
Kelompok mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) yang mengikuti Program Belajar Bersama Masyarakat (BBM) merancang aplikasi digital Rojo Camp untuk modernisasi sistem administrasi wisata Kebun Rojo Camp di Dusun Princi, Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.
Inovasi yang telah diuji coba pada 14–20 Juli 2026 ini bertujuan mempermudah pengelolaan data pengunjung, meningkatkan efisiensi operasional, serta mendukung transformasi digital desa wisata sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.
Kebun Rojo Camp merupakan salah satu destinasi wisata alam 24 jam dengan berbagai fasilitas, seperti camping ground, tempat makan, persewaan perlengkapan berkemah, musala, area swafoto, hingga panorama city light.
Meskipun potensi wisatanya terus berkembang, pengelolaan administrasi masih dilakukan secara manual menggunakan buku pencatatan oleh Kelompok Tani Hutan Dusun Princi dan Perhutani. Sistem manual ini dinilai kurang efisien karena menyulitkan rekapitulasi data dan penyusunan laporan.
Melihat kondisi tersebut, tim mahasiswa UM menghadirkan aplikasi Rojo Camp sebagai solusi pencatatan digital yang terstruktur.
“Saat survei, kami melihat seluruh pencatatan masih dilakukan secara manual. Dalam jangka panjang, cara tersebut menyulitkan analisis data. Oleh karena itu, kami mengembangkan sistem digital ini agar rekapitulasi data jauh lebih praktis,” ujar pengembang utama aplikasi, Aditya, Minggu (9/8/2026).
Aplikasi ini diperuntukkan bagi pengelola wisata untuk mendata pengunjung yang melakukan reservasi maupun yang telah menyelesaikan kunjungan, sekaligus menyajikan informasi ketersediaan fasilitas secara real time.
Fitur unggulannya meliputi pencatatan berbasis local-first, pemantauan ketersediaan area berkemah, serta sistem e-ticket berteknologi kode QR. Melalui fitur ini, data tersimpan secara luring maupun daring, mengurangi penggunaan kertas, dan mempercepat validasi pengunjung.
Kendala teknis sempat muncul menjelang penyerahan aplikasi, namun tim berhasil menuntaskannya.
“Sempat ada kendala pada fitur pemindaian QR karena izin kamera ditolak oleh sistem. Syukurlah masalah itu dapat kami atasi beberapa jam sebelum aplikasi diserahkan,” jelas koordinator tim pengembang, Novalino.
Selama masa uji coba, aplikasi digunakan melalui skema hybrid. Reservasi online dicatat via aplikasi, sedangkan pendaftaran langsung disesuaikan secara bertahap.
Pengelola Kebun Rojo Camp, Agil, mengapresiasi kehadiran aplikasi ini. “Aplikasi ini sangat membantu dan membuat pekerjaan lebih efisien. Kendala kami hanya kualitas sinyal internet, tetapi sudah ada rencana perbaikan jaringan,” ungkapnya.
Tim pengembang berharap inovasi ini terus dimanfaatkan secara berkelanjutan dan dapat direplikasi oleh pengelola desa wisata lainnya di Malang Raya.
Inovasi ini mempertegas komitmen UM dalam mendorong transformasi digital berbasis masyarakat yang mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan). (*/M. Abd. Rachman Rozzi/Januar Triwahyudi)




