MALANG POST – Tekanan ekonomi berkepanjangan dan ketatnya persaingan hidup urban, diam-diam menggerogoti kesehatan jiwa warga Kota Malang. Dinas Sosial P3AP2KB Kota Malang mencatat, kelompok disabilitas mental, kini menjadi jenis disabilitas terbanyak yang terdata, dengan mayoritas penderita berada pada kelompok usia produktif.
Kendati demikian, tingginya angka penemuan ini tidak serta-merta mengindikasikan ledakan kasus baru, melainkan mencerminkan meningkatnya keberanian dan keterbukaan masyarakat untuk melaporkan serta memeriksakan anggota keluarganya ke fasilitas kesehatan.
Sengkarut himpitan ekonomi, penanganan medis terpadu, hingga bahaya melakukan diagnosis mandiri (self-diagnose) dibedah tuntas dalam talk show Idjen Talk di Radio City Guide 911 FM pada Sabtu (8/8/2026) kemarin.
Kepala Dinsos P3AP2KB Kota Malang, Muhamad Sailendra, memaparkan bahwa penderita disabilitas mental tersebar hampir merata di seluruh kecamatan. Setelah menjalani penanganan medis di Puskesmas atau rumah sakit, pemerintah menyiapkan program bimbingan, pelatihan kerja, dan pendampingan keluarga.
“Fokus kami adalah mengembalikan fungsi sosial mereka agar bisa mandiri. Namun, kami mengingatkan pentingnya kesesuaian data kependudukan. Kelengkapan administrasi seperti KTP dan KK yang valid adalah kunci utama agar bantuan sosial maupun intervensi medis dari pemerintah bisa langsung disalurkan,” tegas Sailendra.
Mode ‘Survive’ dan Bahaya Self-Diagnose
Menjelaskan dari sudut pandang psikologis, Kepala Pusat Bimbingan Konseling LPPP Universitas Negeri Malang (UM), Dr. Hetti Rahmawati, mengungkapkan bahwa masalah finansial yang menumpuk memaksa otak bekerja dalam mode bertahan hidup (mode survive) secara terus-menerus.
Kondisi tersebut memicu lonjakan hormon kortisol yang berujung pada kecemasan, gangguan tidur, hingga penurunan fungsi kontrol emosi. Meski demikian, Hetti mewanti-wanti masyarakat agar tidak gegabah melakukan self-diagnose hanya karena membaca informasi sepintas di internet.
“Jangan mudah melabeli diri mengalami gangguan jiwa hanya karena pusing atau asam lambung naik. Namun, kewaspadaan harus ditingkatkan jika sudah muncul gejala perubahan perilaku ekstrem, seperti mengurung diri, malas mandi, serangan panik berulang, hingga timbul rasa tidak berguna. Segera akses pertolongan profesional di fasyankes terdekat,” imbau Hetti.
Hetti menambahkan, dukungan keluarga, lingkungan sosial yang empati, serta kepemilikan jaring pengaman sosial seperti BPJS sangat vital untuk mencegah stres berkepanjangan berkembang menjadi gangguan jiwa permanen.
Kesehatan mental adalah aset berharga yang harus dijaga bersama. Di tengah kepungan beban ekonomi, transparansi data kependudukan dan keberanian mengakses fasilitas kesehatan menjadi langkah awal menyelamatkan usia produktif Kota Malang dari jerat disabilitas mental. (Yolanda Oktaviani/Ra Indrata)




