Oleh: Dahlan Iskan
Kemajuan apa saja yang terjadi selama 20 tahun terakhir di bidang transplantasi hati?
Yang terbaru: penggunaan teknologi robotik saat pengambilan organ hati milik pendonor yang akan diberikan kepada pasien. Sembilan bulan lalu, Nisa menjadi orang pertama yang menjalani prosedur ini di RS Persahabatan Beijing. Separuh hati Nisa dipotong untuk dipasang di tubuh suaminya sendiri. Kemarin saya bertemu Nisa dan sang suami. Dua-duanya sangat sehat. Mereka juga belum begitu lama pulang dari menunaikan ibadah haji.
Tiga bulan lalu, di RS Fatmawati Jakarta, dilakukan pula transplantasi hati dengan teknik yang juga terbilang baru—meski tidak sebaru teknologi robot. Yakni, pengambilan hatinya dilakukan melalui teknik laparoskopi. Baru pertama kali itu prosedur tersebut diterapkan di Indonesia. Perut pendonor tidak perlu disayat panjang. Cukup sekitar 15 cm.
Kok masih 15 cm? Kenapa tidak cukup dikeluarkan lewat lubang selang untuk memasukkan kamera dan pisau?
Laparoskopinya sendiri memang tidak memerlukan sayatan panjang. Begitu kamera dan pisau dimasukkan lewat ujung ‘selang’, dokter melakukan pemotongan hati menggunakan tuas di komputer seperti dalam permainan game. Masalahnya, separuh hati yang sudah terpotong itu harus dikeluarkan untuk dipasangkan ke tubuh pasien. Mengeluarkan separuh organ hati tidak bisa melalui lubang seukuran selang. Harus tetap dibuat sayatan. Hanya saja, tidak perlu lagi sayatan yang panjangnya sampai 25 cm. Untuk mengeluarkannya pun tidak perlu dipegang langsung oleh tangan dokter.
Yang terjadi di RS Fatmawati—rumah sakit milik pemerintah pusat di Jakarta Selatan, sebagaimana RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo di Jakarta Pusat—adalah penerapan prosedur yang sudah lazim dilakukan di Korea Selatan. Prosedur itu dipelopori oleh Prof. Lee dari Seoul National University Hospital (SNUH). Prof. Lee sendiri datang langsung ke RS Fatmawati mendampingi pelaksanaan transplantasi: separuh hati seorang anak (26 tahun) didonorkan kepada sang ayah (52 tahun).
Rasanya baru dua kemajuan besar itu yang terjadi selama 20 tahun terakhir. Tentu termasuk teknik cara mengeluarkan sepotong hati tersebut, yang kini tak lagi diraba dengan tangan langsung. Setelah terpotong, organ hati itu dibungkus dengan kantong plastik steril khusus—bukan kantong plastik biasa. Proses pembungkusannya pun dikerjakan oleh instrumen medis. Setelah terbungkus rapi, barulah organ itu ditarik keluar melalui sayatan sepanjang 15 cm.
Anda sudah tahu: organ hati itu sangat lunak. Lewat sayatan 15 cm pun sudah cukup. Yang terpenting, saat ditarik organ tersebut tetap utuh dan tidak hancur. Yang mudah hancur itu kalau hatinya sudah dibakar jadi sate.
Sesulit apa pun proses penarikan dari perut pendonor, jauh lebih sulit saat melakukan pemotongannya. Dokter bedah dalam hal ini lebih rumit pekerjaannya ketimbang insinyur elektro yang bertugas melepaskan kabel-kabel superkomputer. Kabel masih bisa dilihat dengan mata telanjang. Sementara yang harus dilepaskan dalam pemotongan hati adalah serat-serat saraf halus yang tak kasatmata dan jumlahnya luar biasa banyak—saya sendiri tidak punya kemampuan untuk menghitungnya. Dokter juga harus memotong serta menyambungkan saluran-saluran pembuluh darah yang tak kalah lembut dan rumitnya.
Tentu jauh lebih sulit lagi saat memasangkannya ke tubuh pasien: menyambungkan seluruh jaringan saraf dan pembuluh darah saat hati pendonor dipasang. Sangat presisi dan rumit. Jauh lebih mudah melontarkan fatwa: itu haram!
“Nisa, coba Anda ukur, bekas sayatan di perut Anda berapa sentimeter?” tanya saya kepada Nisa lewat pesan WhatsApp. Saya terpaksa merepotkan Nisa karena tidak mungkin mengukurnya sendiri: Mas Olik, suaminya, bisa melotot.
“10 cm, Pak,” jawabnya.
Nisa adalah lulusan S-1 Keperawatan Universitas Airlangga. Pasangan asal Mojosari, Mojokerto ini masih berusia 40-an tahun. Nisa kian langsing dan anggun. Itu karena setelah sembuh total, suaminya tampak semakin segar, terlihat lebih muda, dan lebih tampan.
Berarti, sayatan dalam teknologi robotik jauh lebih minimalis ketimbang yang diterapkan di RS Fatmawati. Namun itu tidak terlalu penting. Yang terpenting, kini semakin banyak rumah sakit di dalam negeri yang mampu melaksanakan operasi transplantasi hati.
RSUPN Cipto Mangunkusumo (RSCM) sudah berkali-kali melakukannya. Tim dokter transplantasinya sudah bisa dibilang sangat matang. RS Siloam Jakarta juga sudah beberapa kali melakukan prosedur serupa. Kini, RS Fatmawati mulai melangkah dengan pendampingan pakar dari Korea Selatan.
Jika ada orang yang bertanya ingin menjalani transplantasi hati—dan tidak sedikit yang menanyakan hal itu kepada saya—biasanya saya sarankan ke RSCM atau RS Siloam Jakarta. Saya juga memberikan nama dan nomor ponsel orang yang telah sukses menjalankannya. Misalnya, seorang perwira menengah kepolisian yang melakukan transplantasi hati di RS Siloam. Saat itu pangkatnya masih kapten (AKP). Sekarang beliau sudah berpangkat komisaris besar polisi (Kombes Pol). Beliau selalu bersedia ketika saya tanya apakah nomor ponselnya boleh diberikan kepada orang yang membutuhkan informasi transplantasi.
Hanya saja, saya kehilangan kontak pasien yang sukses di RSCM. Yang nomor teleponnya masih tersimpan di ponsel saya, orangnya sudah meninggal dunia. Saya perlu mencari tahu siapa lagi pasien lain yang survivor dan tetap sehat sampai sekarang.
Pasien yang meninggal dunia itu sama sekali bukan karena operasi transplantasinya gagal. Saya melihat itu sepenuhnya faktor kedisiplinan pasien. Ups… bisa jadi bukan salah pasien juga. Mungkin keadaan yang tidak mendukung. Ia tidak disiplin meminum obat pascatransplantasi. Misalnya saat saya bertemu dengannya, ia mengaku sudah tiga bulan tidak mengonsumsi obat harian.
Mungkin karena tidak mampu membelinya, atau mungkin merasa kondisinya sudah baik-baik saja. Saya cenderung menilai kedua faktor itu saling berkaitan.
Saya sendiri sangat takut jika sampai tidak meminum obat rutin tersebut. Tidak pernah lupa sehari pun, termasuk ketika masih harus meminumnya dua kali sehari. Harganya memang tidak murah, total sekitar Rp7 juta per bulan.
Ada obat antirejeksi—agar organ hati milik orang lain tidak ditolak oleh sistem imun tubuh penerima. Anda sudah tahu sistem pertahanan tubuh kita: benda asing apa pun pasti akan dilawan. Termasuk organ hati dari anak maupun istri sendiri: meski sama-sama jaringan hati, sistem imun tetap menganggapnya sebagai benda asing.
Lalu, jika kerusakan hati itu dulunya dipicu oleh hepatitis B, pasien wajib meminum obat antihepatitis seumur hidup. Padahal, hepatitis B itu menyerang organ hati. Ketika organ hatinya sudah diangkat dan diganti dengan hati yang baru, bukankah seharusnya virus hepatitisnya ikut terbuang? Mengapa masih harus minum obat?
Saya pernah mendiskusikannya dengan dokter tim transplantasi saya. Ternyata, virus hepatitis B tidak pernah benar-benar hilang dari sel-sel tubuh orang yang pernah mengidapnya. ‘Bibit’ virus itu tetap ada dan ‘ngendon’ di dalam sel tubuh.
Ketika saya rutin meminum obat, ‘bibit’ virus tersebut dipaksa ‘tidur’ sehingga tidak bisa berkembang. Namun, begitu imunitas tubuh menurun, ‘bibit’ itu bisa bangkit kembali, berkembang biak, lalu menginfeksi organ hati yang baru.
Saya pun wanti-wanti kepada Mas Olik: jangan pernah mengabaikan obat. “Kalau sampai virus hepatitis B itu masuk lagi ke hati yang baru, berarti Anda menghina istri Anda. Hati yang ada di tubuh Anda itu adalah hatinya Nisa,” kata saya. Pasangan suami istri itu pun sangat memahaminya.
Di bidang dua jenis obat-obatan tersebut, selama 20 tahun terakhir, formasinya relatif masih sama. Saya sesekali bertanya kepada dokter: apakah ada obat jenis baru yang lebih hebat?
Saya menanyakannya karena siapa tahu sudah ada formulasi yang lebih aman untuk ginjal dan tidak mengikis kepadatan tulang. Obat yang saya minum memang membawa dua efek samping tersebut.
“Belum ada yang lebih baru,” ujar dokter.
Dua puluh tahun! Belum ditemukan formula obat baru. Namun, bisa saja itu bukan berarti perkembangannya lambat. Boleh jadi, penemuan obat era dulu memang sudah sangat sempurna.
Setidaknya, dengan berpikir demikian, jiwa kita bisa menjadi jauh lebih tenang. Bukan? (Dahlan Iskan)



