MALANG POST – Bakorwil III Malang menggelar fasilitasi rebranding dan desain kemasan berbasis Millennial Job Center (MJC) bagi 25 pelaku UMKM dan Kelompok Tani Hutan (KTH) di Desa Minggirsari, Blitar, Kamis (5/11/2026), guna memperkuat daya saing serta nilai jual produk unggulan Jawa Timur Selatan.
Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang Pemprov Jatim terus memperkuat daya saing dan nilai tambah produk UMKM serta Kelompok Tani Hutan (KTH) di kawasan Selatan-Selatan Jatim melalui fasilitasi desain kemasan berbasis program Millennial Job Center (MJC), Kamis (5/11/2026) di Desa Minggirsari, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar.
Bertema “Peningkatan Daya Saing dan Nilai Tambah Produk melalui Fasilitasi Desain Kemasan Produk bagi KTH dan Pelaku Usaha di Kawasan Selatan-Selatan Jawa Timur”, kegiatan ini mempertemukan pemerintah, mentor, talenta kreatif, KTH, dan UMKM untuk mengembangkan identitas serta tampilan produk lokal agar lebih kompetitif.
Kepala Bakorwil Malang, Asep Kusdinar, menegaskan bahwa UMKM dan KTH adalah kekuatan ekonomi daerah yang harus terus ditingkatkan kapasitas, inovasi, dan pendampingannya.
Ia menyebut jumlah UMKM di Kabupaten Blitar mencapai 35.115 unit, Kabupaten Malang sekitar 104.000 unit, dan Jawa Timur 2.581.251 unit. Potensi besar ini harus menjadi kekuatan untuk menciptakan peluang usaha dan produk unggulan daerah.
“Potensi daerah harus kita ubah menjadi kekuatan ekonomi yang bermanfaat langsung bagi masyarakat. Kita tidak boleh hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi harus mampu menciptakan produk olahan yang memiliki identitas, kualitas, dan nilai tambah. Kemasan itu penting karena menarik perhatian, melindungi produk, menceritakan identitas daerah, dan menaikkan nilai jual,” tegas Asep.
Asep menekankan bahwa pengembangan ekonomi lokal membutuhkan optimisme, kreativitas, dan kolaborasi. Menghadapi tantangan ketahanan pangan 2030, sumber daya lokal harus dimanfaatkan melalui inovasi. Desa dengan fondasi ekonomi yang kuat diharapkan lebih tangguh dan memiliki daya tawar yang lebih baik.

Kepala Bakorwil Malang, Asep Kusdinar. (Foto: Istimewa)
Bakorwil Malang sejak 2023 menjalankan fasilitasi dan koordinasi pengembangan UMKM serta desa wisata, salah satunya melalui MJC yang mempertemukan talenta kreatif dengan pelaku usaha.
“Melalui MJC, kita pertemukan potensi lokal dengan kompetensi talenta muda. Harapannya lahir desain kemasan yang khas dan bernilai jual, terbangun jejaring talenta, KTH, dan pelaku usaha, serta semakin banyak produk lokal Selatan Jatim yang bisa bersaing dan menjangkau pasar lebih luas,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Dr. Asihing Kustanti, S.Hut., M.Si., menyampaikan bahwa pemberdayaan ekonomi bisa dimulai dari potensi sederhana di sekitar. Blitar, misalnya, memiliki nanas madu, sukun, dan pisang Cavendish yang bisa diolah menjadi produk bernilai tambah.
Menurutnya, pengembangan usaha tidak cukup hanya dengan desain kemasan. Pelaku usaha juga perlu memahami penetapan harga, segmentasi konsumen, pemasaran, dan karakteristik produk.
“Untuk menjadi masyarakat yang berdaya, kita harus mengenali potensi, meningkatkan kemampuan, lalu mengembangkan potensi itu agar memberikan nilai ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan. Identifikasi peluang usaha bisa dimulai dengan 5W+1H: apa potensinya, di mana lokasinya, kapan pengembangannya, siapa konsumennya, mengapa perlu dikembangkan, dan bagaimana meningkatkan nilai tambahnya,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pengembangan produk lokal harus memperhatikan peraturan perundang-undangan, termasuk pengelolaan dan pemanfaatan kawasan hutan. Saat ini telah terjalin MoU dengan Tim Penggerak PKK di sembilan kabupaten/kota untuk mendukung pengembangan UMKM. Produk UMKM berpotensi juga bisa difasilitasi melalui show window di Bakorwil Malang sebagai sarana promosi dan perluasan pasar.
Dari sisi kehutanan, perwakilan Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah Malang menjelaskan bahwa Blitar memiliki potensi KTH yang besar dengan beragam produk hasil hutan dan olahannya. Namun, kawasan ini masih membutuhkan penguatan SDM, terutama dalam hal inovasi produk, desain kemasan, dan pemasaran.
Tantangannya, Blitar hanya memiliki tiga penyuluh kehutanan untuk mendampingi sekitar 225 KTH sehingga membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak.
“Pengembangan KTH tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga bagaimana potensi sumber daya lokal memberikan nilai ekonomi sekaligus mendukung pemulihan lahan kritis. Dukungan diperlukan melalui kebijakan afirmatif, bantuan alat ekonomi produktif, serta fasilitasi nonfiskal seperti pendampingan perizinan, sertifikasi halal, dan perluasan akses pasar,” jelasnya.
CDK Wilayah Malang telah bekerja sama dengan Kampung Coklat melalui fasilitasi bibit kakao bagi KTH. Ke depan, kolaborasi dengan talenta desain dan pemasaran diharapkan menghasilkan kemasan yang lebih menarik, beridentitas, dan berdaya saing.
Sementara itu, Camat Kanigoro menyampaikan bahwa Kecamatan Kanigoro memiliki potensi ekonomi dan pariwisata yang terus berkembang, didukung oleh Jalur Lintas Selatan (JLS) yang menarik kunjungan. Potensi ini perlu dioptimalkan melalui penguatan SDM, pengembangan UMKM, dan integrasi dengan destinasi wisata di utara Blitar, termasuk Kampung Coklat.
“Pengembangan potensi wilayah selatan harus diikuti peningkatan kualitas produk dan kemampuan pelaku usaha. Kemasan menjadi faktor penting karena bisa meningkatkan daya tarik sekaligus nilai jual produk khas daerah. Meski pelatihan dan kemudahan perizinan telah diberikan, UMKM masih menghadapi keterbatasan modal, kapasitas produksi, dan pemasaran. Oleh karena itu, kami berharap kegiatan ini memberikan manfaat nyata bagi UMKM dan perekonomian masyarakat, khususnya di kawasan selatan Kabupaten Blitar,” ungkapnya.
Dalam pelaksanaannya, MJC melibatkan 2 mentor, 25 talenta, dan 25 klien atau pelaku usaha. Setiap klien mendapat fasilitasi rebranding untuk satu produk prioritas. Pendampingan meliputi identifikasi karakteristik produk, penyusunan konsep desain, pengembangan identitas merek, konsultasi, hingga penyempurnaan desain kemasan.
Pendampingan intensif selama kurang lebih dua minggu tersebut menghasilkan draf (file) desain kemasan siap cetak yang dilengkapi dengan panduan teknis pencetakan sehingga dapat langsung dimanfaatkan oleh pelaku usaha.
Melalui kegiatan ini, Bakorwil Malang berharap terbangun ekosistem kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah daerah, KTH, UMKM, mentor, dan talenta kreatif. Lebih dari sekadar desain kemasan, fasilitasi MJC diharapkan menjadi langkah konkret dalam mengoptimalkan potensi lokal, memperkuat ekonomi masyarakat, serta mendorong produk unggulan Selatan-Selatan Jatim naik kelas dan semakin berdaya saing. (Yoka Roni)




