MALANG POST — Universitas Brawijaya (UB) menjadi tuan rumah International Conference on Innovation & Entrepreneurship in Computing, Engineering, and Science Education (INVENT) 2026 di Aula Gedung A Lantai 4 Fakultas Ilmu Administrasi UB, Selasa (27/10/2026).
Konferensi internasional ini mempertemukan para akademisi, peneliti, profesional, dan mahasiswa dari berbagai negara. INVENT 2026 sendiri merupakan forum akademik tahunan di bawah naungan Asia Technological University Network (ATU-Net) sebagai wadah pertukaran hasil penelitian, perkembangan teknologi, serta peluang kolaborasi internasional di bidang komputasi, teknik, dan pendidikan sains.
Kegiatan tersebut menghadirkan empat pembicara utama internasional, yakni Dr. Cherry Ann P. Roxas (Davao del Sur State College, Filipina), Prof. Hiroyuki Ishizaki (Shibaura Institute of Technology, Jepang), Prof. Dr. Lu Dan (Presiden Geely Talent Development Group, Tiongkok), serta Prof. Ong Soh Khim (National University of Singapore, Singapura).
Salah satu akademisi UB yang turut menjadi pembicara adalah Prof. Ir. Wayan Firdaus Mahmudy, S.Si., M.T., Ph.D., dosen Fakultas Ilmu Komputer (Filkom). Dalam pemaparannya, ia membahas pengembangan AI Center UB melalui empat komponen utama, yakni infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), riset dan inovasi, pengembangan talenta, serta dampak sosial dan industri.
Menurut Prof. Wayan, pembangunan ekosistem AI tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur teknologi semata. Penguatan riset, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta penerapan AI yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan industri juga harus menjadi perhatian utama.
Ia menegaskan bahwa kemampuan memanfaatkan AI tidak sebatas mengoperasikan aplikasi. Pengguna harus memahami cara kerja teknologi, mampu mengevaluasi informasi, serta memeriksa kebenaran hasil yang dihasilkan.
“Akses terhadap AI tidak secara otomatis menjamin bahwa teknologi tersebut akan memberikan manfaat yang optimal. Tantangannya bukan hanya bagaimana kita bisa menggunakan AI, melainkan juga bagaimana kita memahami hasil yang diberikan, mengetahui keterbatasannya, dan menilai apakah hasil tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan kita,” ujar Prof. Wayan.
Ia juga menyoroti penggunaan AI sebagai jalan pintas dalam menyelesaikan tugas maupun penelitian. Menurutnya, teknologi tersebut seharusnya menjadi alat pendukung untuk meningkatkan efektivitas kerja dan memperkuat analisis, bukan menggantikan proses berpikir maupun tanggung jawab akademik.
Dalam penelitian, misalnya, peneliti tetap harus memahami persoalan yang dikaji, memeriksa validitas data, serta memastikan kesimpulan yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan.
“AI seharusnya diintegrasikan ke dalam proses penelitian untuk membantu peneliti bekerja lebih efektif dan mengeksplorasi berbagai kemungkinan. Namun, peneliti tetap harus memahami persoalan, memeriksa kebenaran informasi, dan mempertanggungjawabkan kesimpulan yang dihasilkan,” jelasnya.
Oleh karena itu, pemanfaatan AI perlu diimbangi dengan penguatan sumber daya manusia, terutama dalam penguasaan metodologi penelitian, literasi data, kemampuan berpikir kritis, dan integritas akademik.
Melalui INVENT 2026, UB memperkuat perannya dalam jejaring akademik internasional sekaligus membuka peluang kolaborasi lintas negara dan disiplin ilmu. Forum ini diharapkan dapat mendorong lahirnya riset dan inovasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (M. Abd. Rachman Rozzi/Januar Triwahyudi)




