MALANG POST — Penguatan teknologi, inovasi, dan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi pilar penting dalam menghadapi tantangan pertahanan masa depan. Hal tersebut mengemuka dalam sarasehan memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) TNI Angkatan Darat yang digelar di Lapangan Geladi Beratap Pusdikarhanud, Kota Batu, Senin (2/11/2026).
Dalam forum strategis ini, Dekan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB), Prof. Ir. Hadi Suyono, S.T., M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng., hadir sebagai salah satu narasumber utama.
Ruang Diskusi Strategis Pertahanan Udara
Sarasehan yang diselenggarakan oleh Pusat Kesenjataan Artileri Pertahanan Udara (Pussenarhanud) TNI AD ini mengusung tema: “Konsep Arhanud TNI AD Masa Depan: Transformasi Teknologi, Inovasi, dan Pengembangan Kapabilitas Arhanud TNI AD guna Meningkatkan Kesiapan dalam Menghadapi Peperangan Masa Depan”.
Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 227 peserta, baik secara langsung maupun daring. Kehadiran peserta dari berbagai unsur ini diharapkan mampu memperluas pertukaran gagasan terkait kebutuhan transformasi pertahanan udara, mulai dari penguasaan teknologi hingga peningkatan kesiapan personel dan satuan.
Selain Dekan FT UB, sarasehan ini juga menghadirkan dua narasumber lain untuk mengupas tantangan pertahanan dari beragam perspektif, yakni Mayjen TNI Trias Wijanarko, S.I.P., M.H.I. (Kepala Staf Kohanudnas) dan Marsma TNI (Purn.) R. Agung Sasongkojati.
Perspektif Akademik: Integrasi Teknologi dan SDM

Dalam pemaparannya, Prof. Hadi Suyono membawa sudut pandang akademik dan rekayasa teknologi. Menurutnya, perkembangan teknologi pertahanan menuntut adaptasi yang cepat seiring kompleksitas ancaman udara yang semakin presisi dan sulit dideteksi.
“Transformasi teknologi pertahanan tidak cukup hanya berfokus pada modernisasi peralatan. Pengembangan teknologi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia, penguatan riset, serta kemampuan mengintegrasikan berbagai sistem,” tegas Prof. Hadi.
Beberapa ancaman udara modern yang menjadi sorotan meliputi:
- Meningkatnya penggunaan wahana udara nirawak (unmanned aerial vehicle/UAV) dan kawanan nirawak (swarm drone).
- Ancaman rudal jelajah dan amunisi bersirkulasi (loitering munition).
- Pemanfaatan peperangan elektronika serta serangan siber.
Menghadapi tantangan tersebut, Prof. Hadi menilai bahwa modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) harus dibarengi dengan penyempurnaan doktrin, organisasi, sistem komando dan kendali, pendidikan dan latihan, pemeliharaan, hingga dukungan logistik secara menyeluruh.
Arah Pengembangan dan Penguatan Kolaborasi Riset

Kerangka kegiatan sarasehan ini turut membahas arah penguasaan teknologi strategis guna mendukung deteksi, identifikasi, pengambilan keputusan, serta respons terhadap ancaman udara. Hal ini meliputi teknologi radar modern, sistem antidron (antidrone), kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), otomasi, peperangan elektronika, serta konektivitas berbasis jaringan.
Dari sisi perguruan tinggi, tantangan pertahanan ini membuka peluang besar untuk memperkuat kolaborasi riset dan inovasi.
Kompetensi akademik di bidang teknik, elektronika, komputasi, sistem kendali, dan teknologi dapat diintegrasikan ke dalam ekosistem pertahanan nasional guna mempertemukan kebutuhan pengguna (user) dengan kapasitas riset di dunia kampus. (M. Abd. Rachman Rozzi/Januar Triwahyudi)




