SINGOSARI – Satuan Lalu Lintas Polres Malang mengintensifkan edukasi keselamatan berkendara bagi kalangan pelajar lewat sosialisasi maraton di SMKN 2 Singosari, SDN 1 Saptorenggo Kecamatan Pakis, serta sejumlah sekolah dasar di Kepanjen selama gelaran Operasi Patuh Semeru 2026, Jumat (30/10/2026).
Pembentukan karakter disiplin di atas aspal jalan raya terus ditanamkan secara masif oleh Kepolisian Resor Malang kepada generasi penerus bangsa.
Memasuki hari kelima gelaran Operasi Patuh Semeru 2026 pada Jumat (30/10/2026), personel Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Malang bergerak mendatangi panggung-panggung sekolah.
Penyisiran edukasi keselamatan dilakukan secara maraton di berbagai wilayah hukum Kabupaten Malang.
Mulai dari pelajar kelompok remaja di SMKN 2 Singosari, murid sekolah dasar di SDN 1 Saptorenggo Kecamatan Pakis, hingga barisan sekolah dasar di kawasan ibu kota Kepanjen.
Petugas kepolisian hadir memberikan pemahaman langsung mengenai tata cara tertib lalu lintas sejak usia dini.
Para siswa diajak untuk mengenali simbol-simbol rambu jalan, tata cara menyeberang jalan yang aman (zebra cross), serta etika berkendara saat berangkat dan pulang sekolah.
Satlantas juga memberikan penekanan keras terkait larangan membawa kendaraan bermotor bagi anak-anak yang belum cukup umur dan belum mengantongi Surat Izin Mengemudi (SIM).
Kasatlantas Polres Malang, AKP Muhammad Alif Chelvin Arliska, membeberkan bahwa kelompok pelajar menjadi salah satu prioritas utama sasaran edukasi preventif.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa keselamatan di jalan bukan hal sepele. Kebiasaan sederhana seperti mengenali rambu dan menggunakan helm harus ditanamkan sejak sekarang,” ujar AKP Chelvin Arliska, Jumat (30/10/2026).
Anak Sebagai Pengingat Orang Tua Di Rumah
Chelvin mengungkapkan bahwa materi edukasi yang disampaikan kepada para siswa dirancang agar memiliki dampak ganda (multiplier effect).

Pengetahuan keselamatan yang diserap para siswa di sekolah diharapkan membawa pengaruh positif hingga ke dalam lingkungan keluarga masing-masing.
Anak-anak didorong untuk berani menjadi Duta Keselamatan Kecil yang mengingatkan orang tua mereka di rumah.
Misalnya, menegur orang tua yang hendak memboncengkan mereka tanpa menggunakan helm standar SNI atau mengingatkan untuk tidak menerobos lampu merah.
Pola pendekatan ini diyakini efektif memotong kebiasaan buruk masyarakat yang kerap mengabaikan perlengkapan keselamatan saat perjalanan jarak dekat.
Operasi Patuh Semeru 2026 yang berlangsung selama 14 hari hingga 8 November mendatang memang tidak melulu bertumpu pada sanksi penindakan hukum (represif).
Porsi edukasi dan pencegahan (preventif) terus dikedepankan guna membangun kesadaran kolektif secara sukarela.
“Anak-anak bisa menjadi pengingat bagi orang tuanya. Ketika berangkat atau pulang sekolah, mereka bisa mengingatkan agar selalu memakai helm dan mematuhi aturan,” lanjut Chelvin.
Investasi Generasi Tertib dan Peduli
Sementara itu, Kasi Humas Polres Malang, AKP M. Budiono, mengajak seluruh jajaran pendidik dan orang tua murid untuk bahu-membahu mendukung iklim tertib lalu lintas di sekolah.
Orang tua diimbau tidak memberikan kelonggaran atau membiarkan anak di bawah umur mengendarai sepeda motor sendiri ke sekolah dengan alasan kepraktisan.
Fasilitas transportasi aman atau pengantaran langsung oleh orang tua menjadi pilihan utama demi menghindarkan anak dari ancaman kecelakaan lalu lintas.
Polres Malang optimistis investasi edukasi hukum sejak usia dini sanggup mencetak generasi muda Kabupaten Malang yang disiplin, peduli, dan santun di jalan raya.
“Keselamatan harus dibiasakan sejak dini. Kami berharap para pelajar menjadi generasi yang disiplin sehingga tercipta budaya tertib berlalu lintas di Kabupaten Malang,” pangkas Budiono. (HmsResma/Ra Indrata)




