PAPARAN: Sekretaris Daerah Kabupaten Malang, Budiar Anwar, saat emberi sambutan di Musyawarah Daerah (MUSYDA) Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Periode 2025-2026, di Aula Al-Qolam Malang. (Foto: Nino Wiwantara/Malang Post)
MALANG POST – Mahasiswa tidak cukup hanya lantang menyuarakan kritik. Gerakan mahasiswa juga dituntut mampu menawarkan solusi, mengawal kebijakan publik, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pesan itu disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang Budiar Anwar, saat menghadiri Musyawarah Daerah (MUSYDA) Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Kabupaten Malang periode 2025–2026, di Aula Universitas Al-Qolam Malang, Kamis (29/10/2026).
Mengusung tema: “Menjaga Persatuan, Meneguhkan Perlawanan, dan Merawat Gerakan”, MUSYDA menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas mahasiswa, sekaligus merumuskan arah gerakan organisasi ke depan.
Atas nama Pemerintah Kabupaten Malang, Budiar menyampaikan apresiasi kepada jajaran Aliansi BEM Kabupaten Malang, yang telah menginisiasi dan menyelenggarakan forum tersebut.
Ia berharap, MUSYDA tidak berhenti sebagai agenda rutin organisasi, tetapi menjadi ruang untuk menyatukan gagasan dan menyusun langkah konkret bagi kemajuan mahasiswa, serta masyarakat Kabupaten Malang.
“Semoga MUSYDA tidak hanya menjadi agenda rutin organisasi, tetapi menjadi ruang untuk memperkuat persatuan, menyatukan gagasan, serta merumuskan langkah nyata bagi kemajuan mahasiswa dan masyarakat Kabupaten Malang,” katanya.
Kritik Harus Berbasis Kajian
Menurut Budiar, tema MUSYDA relevan dengan kehidupan mahasiswa dan dinamika pembangunan bangsa. Persatuan, kata dia, perlu dijaga di tengah perbedaan pandangan, latar belakang perguruan tinggi, maupun kepentingan organisasi.
Perbedaan tersebut semestinya tidak menjadi penghalang untuk bekerja bersama. Sebaliknya, keberagaman pemikiran dapat menjadi modal untuk bertukar gagasan dan mencari solusi yang lebih baik.
Budiar juga mengingatkan, semangat perlawanan mahasiswa perlu dimaknai secara bijaksana. Perlawanan tidak semata-mata diwujudkan melalui penolakan atau kritik, tetapi juga keberanian menentang ketidakadilan, mengoreksi penyalahgunaan kewenangan, dan menyampaikan keberatan terhadap kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat.
Semua itu, lanjutnya, harus dilakukan dengan cara yang bertanggung jawab, konstitusional, bermartabat, dan adil.
“Merawat gerakan berarti menjaga agar semangat mahasiswa tidak berhenti pada momentum demonstrasi, pergantian kepengurusan, atau forum musyawarah,” jelasnya.
Ia menilai gerakan mahasiswa perlu dijaga melalui kajian ilmiah, advokasi masyarakat, pengabdian sosial, pengawasan kebijakan publik, serta gagasan inovatif yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung.
Jadi Mitra Kritis Pemerintah
Budiar menegaskan, pemerintah dan mahasiswa tidak harus selalu berada pada posisi berseberangan. Dalam kehidupan demokrasi, kritik dan saran justru menjadi bagian penting dari proses evaluasi dan perbaikan penyelenggaraan pemerintahan.
Pemerintah daerah, menurutnya, membutuhkan masukan, pengawasan, serta perspektif baru dari masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa.
Karena itu, ia berharap Aliansi BEM Kabupaten Malang dapat mengambil peran sebagai mitra kritis pemerintah daerah. Mahasiswa diharapkan berani mengingatkan ketika terdapat kekurangan, sekaligus mampu menawarkan alternatif penyelesaian berdasarkan data dan kajian.
“Kami berharap Aliansi BEM Kabupaten Malang dapat menjadi mitra kritis pemerintah daerah. Sebagai mitra yang berani menyampaikan koreksi ketika terdapat kekurangan, tetapi juga bersedia memberikan gagasan dan alternatif solusi,” tegasnya.
Budiar menambahkan, kritik yang disampaikan dengan dukungan data, kajian, dan niat memperbaiki dapat menjadi kekuatan untuk mendorong tata kelola pemerintahan yang lebih baik.
Ia juga berpesan agar mahasiswa terus memperluas wawasan, membangun integritas, meningkatkan kepekaan sosial, dan menjaga perilaku.
“Jadilah mahasiswa yang berani bersuara, tetapi juga tekun bekerja. Kritis terhadap persoalan, tetapi mampu memberikan jalan keluar. Teguh dalam berprinsip, tetapi tetap terbuka saat berdialog,” pesannya.
Ia menekankan, kedekatan dengan masyarakat harus tetap menjadi landasan gerakan mahasiswa. Sebab, keberhasilan sebuah gerakan tidak hanya diukur dari seberapa kuat suara yang disampaikan, tetapi juga dari manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat luas. (Nino Wiwantara/Ra Indrata)




